Sosio-Nasionalisme Menurut Bung Karno, Kenalilah!

sosio-nasionalisme
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Sosio-nasionalisme adalah “nasionalisme kemasyarakatan”. Bung Karno mendefenisikan sosio-nasionalisme sebagai nasionalisme massa-rakyat, yaitu nasionalisme yang mencari selamatnya massa-rakyat.

Bung Karno mengatakan, cita-cita sosio-nasionalisme adalah memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masyarakat. Akibatnya  masyarakat yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna.  Tidak akan ada lagi kaum tertindas, tidak ada kaum yang celaka, dan tidak ada lagi kaum yang papa-sengsara.

Karena itu, kata Bung Karno, sosio nasionalisme adalah nasionalisme kaum marhaen. Dengan demikian, sosio-nasionalisme menentang borjuisme dan keningratan. Inilah tipe nasionalisme yang menghendaki “masyarakat tanpa klas”.

 

Sebagai konsekuensinya, sosio-nasionalisme menganggap kemerdekaan nasional bukan sebagai tujuan akhir. Bung Karno berulang-kali menyatakan kemerdekaan hanya sebagai “jembatan emas” menuju cita-cita yang lebih tinggi.

Dalam tulisannya, “Mencapai Indonesia Merdeka”, yang terbitkan pada tahun 1933. Bung Karno menegaskan bahwa tujuan pergerakan nasional kita mestilah mengarah pada pencapaian masyarakat adil dan sempurna yang  padanya tidak ada lagi penghisapan. Berarti, tidak boleh ada imperialisme dan kapitalisme.

Nah, supaya kemerdekaan politik itu tidak disabotase oleh imperialisme, ataupun oleh kaum borjuis dan feodal dalam negeri. Kaum marhaen atau massa-rakyat Indonesia haruslah memegang kekuasaan politik indonesia pasca merdeka.

 

Bung Karno  berpesan, “dalam perjuangan  Indonesia Merdeka, kaum Marhaen  jangan sampai  kena getahnya, kaum borjuis atau ningrat  memakan nangkanya.”

Karena sosio nasionalisme bervisi “social conscience of man” (budi nurani sosial manusia), maka semangat sosio-nasionalisme adalah internasionalisme.

Dalam pidato 1 Juni 1945 lahirnya Pancasila, Soekarno menjelaskan hubungan dialektik antara nasionalisme Indonesia dan internasionalisme. Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme.

Dengan demikian, sosio-nasionalisme bisa disederhanakan sebagai berikut.

(1) Merupakan ajaran politik yang memperjuangkan masyarakat tanpa klas alias masyarakat adil dan makmur.

(2) Memberi kerangka pada revolusi Indonesia agar tak berhenti pada revolusi nasional semata. Akan tetapi harus berlanjut pada transisi menuju sosialisme.

(3) Meletakkan semangat kebangsaan negeri terjajah berjalan seiring dengan cita-cita internasionalisme.

Baca Juga : Sosio – Demokrasi Menurut Bung Karno

 

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...

5 thoughts on “Sosio-Nasionalisme Menurut Bung Karno, Kenalilah!

Komentar

faktor revolusi menurut bung karno

Tidak Bisa Sesuka Hati, Ini Faktor Revolusi Menurut Bung Karno

Kita sering mendengar kata revolusi dalam narasi perjuangan, akan tetapi apa sebenarnya revolusi itu, dan apa saja faktor-faktornya?. Revolusi menurut Bung Karno adalah penjungkirbalikan seluruh tata nilai lama untuk diganti dengan tata nilai yang baru.  Penjungkirbalikan tata nilai lama ini haruslah sampai ke akar-akarnya. Penjungkarbalikan ini artinya perubahan total dari sistem atau tata nilai yang […]

Read More
Soekarno Menaruh Perhatian Besar Terhadap Pembaharuan Islam

Soekarno Menaruh Perhatian Besar Terhadap Pembaharuan Islam

Apakah Soekarno seorang pemikir Islam? Apakah Soekarno adalah pemikir yang menjadikan Islam sebagai objek kajian atau kerangka berpikir? Dalam beberapa tulisan yang kemudian d/terbitkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menjadikan Islam sebagai topik pembahasan. Dalam ulasannya itu, baik sebagai nilai-nilai normatif maupun manifestasinya di/ dalam sejarah. Islam d/pikirkan oleh Soekarno secara terbuka, dialogis, […]

Read More
Bung Karno, Kopi Pahit Yes, Al-Kohol No!

Bung Karno, Kopi Pahit Yes, Al-Kohol No!

Anda suka kopi hitam pekat pahit?, berbanggalah!. Tradisi ngopi telah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sejak dulu, bahkan termasuk Soekarno. Bung Karno bahkan tak bisa lepas dari secangkir kopi saat berdiskusi permasalahan bangsa dengan para tokoh pergerakan. Pada akhir juni 1921, Bung Karno datang  Bandung untuk menuntut ilmu di Technische Hoogheschool Te Bandoeng  (Institut Teknologi Bandung). […]

Read More