Ketika Jendral Soedirman di Tawan Anak Buahnya

Jendral Soedirman Trisila.com
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Masa Gerilya

Pada masa perjuangan muncul suasana saling mencurigai. Sampai-sampai rombongan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah ditawan oleh Batalion 102 pada 23 Desember 1948 di Bendo, kurang lebih 24 kilometer dari Tulungagung.

Kapten Soepardjo, ajudan merangkap sekretaris Soedirman, dibawa ke markas batalion. Sedangkan Soedirman tetap dalam mobil dengan pasukan pengawal yang telah kena lucuti. Di markas batalion, Soepardjo hanya bertemu beberapa perwira yang tak dia kenal. Dia pun meminta bertemu dengan komandan batalion, Kapten Zainal Fanani. Seorang perwira menjawab sulit bagi tawanan bertemu dengan komandan.




 

Soepardjo kena geledah dan mereka mendapati buku harian yang isinya lengkap dengan gambar pertahanan dan catatan yang berhubungan dengan ketentaraan. Untung ada seorang perwira yang mau memanggil komandan batalion.

Waktu sudah magrib. Soedirman minta izinkan ke mesjid untuk salat. Permintaan itu terpenuhi dan dia pergi ke mesjid yang letaknya tidak jauh dari markas batalion.

 

Baca Juga : Tan Malaka, Bapak Republik yang Terlupakan

 

Harsono Tjokroaminoto, penasihat politik Soedirman, yang besarung dan kaos oblong keluar dan duduk di teras mesjid. Dia berbincang dengan pasukan penawan. Tak lama kemudian datanglah komandan batalion dengan mengendarai jip. Kepala piket melapor bahwa pasukannya telah menawan satu rombongan dan melucuti senjatanya. Sementara komandan menerima laporan, matanya tertuju kepada Harsono dan mengenalinya.


Zainal Fanani menanyakan, “di manakah tawanan itu?”

“Di mesjid,” jawab Harsono.

Zainal Fanani kemudian masuk ke mesjid dan menghampiri tawanan itu. Dia terperanjat ketika melihat bahwa tawanannya adalah Jenderal Soedirman.

“Mayor Fanani langsung sujud di depan Pak Dirman sambil menangis dan meminta maaf atas kekeliruan pasukannya,” kata Harsono dalam otobiografinya, Selaku Perintis Kemerdekaan.

Penyamaran Terungkap

Zainal Fanani kemudian memberi hormat militer. Seketika itu juga Soedirman mereka pindahkan ke tempat yang baik. Semua anggota pasukan, termasuk para perwira merasa heran, mengapa komandannya memberi hormat kepada tawanan yang berpakaian preman, pakai peci yang sudah tua, mantel hijau dan tak memakai sepatu, hanya sendal saja. Mereka pun terperanjat setelah mengetahui bawah tawanan itu adalah panglima besar yang sedang menyamar. Sehingga mereka juga memberikan hormat.


Malam itu, beberapa orang dikirim ke Tulungagung supaya mengadakan hubungan telepon dengan Kediri. Beberapa jam kemudian, dari Kediri datang mobil dengan para perwira staf Kolonel Soengkono untuk menjemput Soedirman. Malam itu juga rombongan berangkat menuju Kediri.

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...