Soekarno dan Nasionalisme Indonesia

Soekarno dan nasionalisme indonesia
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Soekarno lebih kita kenal sebagai tokoh nasionalis Indonesia. Meskipun ia menyerap pemikiran banyak tokoh dari beragam ideologi seperti Marxis, Sosial Demokrasi (Sosdem), Islamis hingga Liberalis. Soekarno juga pernah mengklaim diri sebagai seorang nasionalis, marxis dan juga muslimin. Namun, menurut pandangan banyak orang, Bung Karno tetap saja ditempatkan di golongan kaum nasionalis. Tulisan dengan judul Soekarno dan Nasionalisme Indonesia ini akan menggambarkan sedikit tentang itu.

Bahkan, ada yang berusaha menggolongkan Bung Karno sebagai pemimpin berhaluan ultra-nasionalis atau fasis. Ini banyak terdengar oleh mereka yang bergaris ideologi sos-dem dan humanisme universal. Sutan Syahrir, misalnya, pernah menyatakan kekhawatirannya terhadap landasan ideologi Soekarno yang, menurutnya, mengarah pada fasisme. Lantas nasionalisme macam apa sebenarnya menurut Soekarno?


 

Sosio-Nasionalisme dan Berdikari

Soekarno telah merumuskan suatu gagasan mengenai nasionalisme yang layak diterapkan di Indonesia sejak ia muda. Gagasan beliau terkenal dengan istilah sosio-nasionalisme. Dalam artikel yang ia tulis tahun 1932, Demokrasi-Politik dan Demokrasi Ekonomi, Soekarno menyinggung inti dari sosio-nasionalisme yang ia rumuskan;

“Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia.. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada ‘menselijkheid’. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan, begitulah Gandhi berkata,

Nasionalisme kita, oleh karenanya, haruslah nasionalisme yang dengan perkataan baru yang kami sebut: sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah demokrasi yang kami sebutkan: sosio-demokrasi”.


Dalam uraian tersebut, jelaslah bahwasanya inti dari paham sosio-nasionalisme atau nasionalisme Indonesia menurut Soekarno haruslah nasionalisme yang bertujuan mencapai kebahagiaan umat manusia dan bukannya nasionalisme yang mengagung-agungkan negeri ini di kancah internasional saja. Maka dari itu, Soekarno menginginkan yang menjadi landasan nasionalisme Indonesia adalah kemanusiaan. Tampak adanya kesesuaian sosio-nasionalisme dengan paham humanisme, sehingga sesungguhnya kekhawatiran akan ideologi nasionalisme Soekarno yang akan mengarah pada fasisme tidak beralasan.

Baca Juga : Marhaenisme, Asas Perjuangan Yang Relevan Sampai hari ini

Landasan Nasionalisme Indonesia

Soekarno meneguhkan kembali landasan nilai yang menjadi inti dari nasionalisme Indonesia, yakni kemanusiaan, dalam pernyataan berikut ini:


“Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka. Nasionalis yang bukan chauvinis, tidak boleh tidak, haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu. Nas1onalis yang sejati yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan, nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti. Baginya, maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas, dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.” (Soekarno, 1964).

Soekarno menegaskan bahwasanya nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang berkarakter chauvinis seperti halnya nasionalisme yang ada pada Nazi-Hitler atau Mussolini di Eropa. Hal ini d1tegaskan kembali oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di hadapan BPUPKI, ketika ia menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia harus hidup dalam ‘tamansari’nya internasionalisme.

 

Berdikari

Kelak gagasan nasionalisme Soekarno tersebut mengejawantah dalam konsep Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari). Ketika berpidato pada Sidang Umum IV MPRS pada tahun 1966, Soekarno menegaskan makna dari Berdikari;

“..bahwa berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerja sama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka. Berdikari menolak ketergantungan kepada imperialis, bukan kepada kerja sama yang sama derajat dan saling menguntungkan. Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama derajat dan saling menguntungkan.”

Jelaslah bahwa nasionalisme Indonesia yang  Soekarno gagas bukanlah suatu ‘politik isolasi’, tetapi landasan bagi bangsa ini untuk mandiri. Dan dengan kemandirian itulah bangsa Indonesia akan melangkah lebih jauh dalam pergaulan internasional.

 

Bukan Nasionalisme Eropa

Satu hal yang juga penting adalah bahwa nasionalisme Indonesia tidaklah sama dengan nasionalisme yang lahir dan berkembang di Eropa. Dalam salah satu artikelnya yang berjudul ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme’ (1926), Soekarno menguraikan karakter dari nasionalisme Eropa:


“Nasionalisme Eropa ialah suatu nasionalisme yang bersifat menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi, dan nasionalisme semacam itu akhirnya pastilah binasa,”

Ya, bila kita menelaah latar belakang historisnya, memang perbedaan antara nasionalisme Indonesia dengan nasionalisme Eropa sangat kentara. Kelahiran nasionalisme Indonesia berkorelasi dengan kondisi obyektif nusantara yang kala itu masih menjadi negara jajahan. Dan nasionalisme Indonesia atau sosio-nasionalisme muncul sebagai instrumen perlawanan terhadap pihak kolonial. Kesimpulannya, kemunculan nasionalisme sebagai sebuah landasan perjuangan politik tersebab oleh kondisi keterjajahan bangsa Indonesia oleh pihak asing.

Dalam artian lain, nasionalisme Indonesia adalah alat untuk menjadi ‘lem perekat’ bagi seluruh komponen bangsa dalam rangka melepaskan diri dari genggaman penjajahan asing. Bisa kita katakan pula bahwa sosio-nasionalisme atau nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang lahir dari ‘rahim’ masyarakat jajahan. Masyarakat jajahan yang menderita karena penindasan kolonial.

 

Baca JugaPenjajahan Gaya Baru, Mari Kenali dan Lawan !

 

Nasionalisme Anti Penindasan

Oleh sebab itu, nasionalisme yang timbul adalah nasionalisme yang anti penindasan dan anti penjajahan. Dengan sendirinya, nasionalisme yang berkembang juga merupakan nasionalisme yang ber-kemanusiaan, sebagaimana yang dikatakan Soekarno.


Hal ini sangat berbeda dengan nasionalisme yang lahir di Eropa. Sejarah kelahiran nasionalisme Eropa terkait erat dengan kepentingan kaum merkantilis-pedagang Eropa untuk mencari bahan baku di luar Eropa bagi kepentingan ekonomi mereka. Semboyan Gold, Gospel dan Glory mencerminkan nafsu kolonial tersebut. Dalam pengertian lain, nasionalisme Eropa merupakan alat kaum merkantilis Eropa untuk memobilisasi dukungan gereja dan rakyat bagi terlaksananya ekspansi kolonial ke luar benua Eropa.

 

Nasionalisme Berwatak Kemanusiaan

Soekarno juga menegaskan bahwasanya nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan borjuis atau pedagang seperti halnya nasionalisme Eropa. Karenanya, sosio-nasionalisme haruslah beriringan dengan pemberlakuan sistem ekonomi-politik yang memberi ruang bagi rakyat kebanyakan (Marhaen) untuk mengontrol sumber-sumber ekonomi strategis yang akan dipergunakan bagi kemakmuran rakyat.
Sistem semacam itu, yang oleh Soekarno disebut sebagai Sosio-Demokrasi, tidak boleh dipisahkan dari sosio-nasionalisme sebagai faham kebangsaan Indonesia. Kedua konsep inilah (ditambah dengan faham Ketuhanan) yang kemudian diramu oleh Soekarno menjadi Marhaenisme.

Dan, lagi-lagi, hal ini sangat bertentangan dengan nasionalisme Eropa yang memang lekat dengan kepentingan kaum merkantilis dan borjuis yang ingin melakukan kolonisasi ke luar Eopa serta secara perlahan menghancurkan tatanan feodal di Eropa. Muara dari kehancuran feodalisme tersebut adalah kemenangan borjuasi Eropa, yang kemudian menjadi penindas baru bagi kaum rakyat kebanyakan atau proletariat.


Demikianlah inti dari faham nasionalisme ala Soekarno. Nasionalisme yang lahir dari ‘rahim’ negeri jajahan, dan masih akan relevan menjadi landasan perjuangan hingga kini, ketika bangsa ini masih menyandang status sebagai negeri ‘setengah jajahan’.

HISKI DARMAYANA, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...

5 thoughts on “Soekarno dan Nasionalisme Indonesia

Komentar

faktor revolusi menurut bung karno

Tidak Bisa Sesuka Hati, Ini Faktor Revolusi Menurut Bung Karno

Kita sering mendengar kata revolusi dalam narasi perjuangan, akan tetapi apa sebenarnya revolusi itu, dan apa saja faktor-faktornya?. Revolusi menurut Bung Karno adalah penjungkirbalikan seluruh tata nilai lama untuk diganti dengan tata nilai yang baru.  Penjungkirbalikan tata nilai lama ini haruslah sampai ke akar-akarnya. Penjungkarbalikan ini artinya perubahan total dari sistem atau tata nilai yang […]

Read More
Soekarno Menaruh Perhatian Besar Terhadap Pembaharuan Islam

Soekarno Menaruh Perhatian Besar Terhadap Pembaharuan Islam

Apakah Soekarno seorang pemikir Islam? Apakah Soekarno adalah pemikir yang menjadikan Islam sebagai objek kajian atau kerangka berpikir? Dalam beberapa tulisan yang kemudian d/terbitkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menjadikan Islam sebagai topik pembahasan. Dalam ulasannya itu, baik sebagai nilai-nilai normatif maupun manifestasinya di/ dalam sejarah. Islam d/pikirkan oleh Soekarno secara terbuka, dialogis, […]

Read More
Bung Karno, Kopi Pahit Yes, Al-Kohol No!

Bung Karno, Kopi Pahit Yes, Al-Kohol No!

Anda suka kopi hitam pekat pahit?, berbanggalah!. Tradisi ngopi telah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sejak dulu, bahkan termasuk Soekarno. Bung Karno bahkan tak bisa lepas dari secangkir kopi saat berdiskusi permasalahan bangsa dengan para tokoh pergerakan. Pada akhir juni 1921, Bung Karno datang  Bandung untuk menuntut ilmu di Technische Hoogheschool Te Bandoeng  (Institut Teknologi Bandung). […]

Read More