JANGAN LATAH MELIHAT KASUS UIGHUR (CHINA)

Bagikan

Trisila – Memahami sejarah China bisa menjadi awal yang baik untuk mencari solusi permanen masalah Uighur. Kalau cuma latah, kasihan muslim di sana.

Isu Muslim Uighur ramai lagi menyusul tweet pesepakbola Mesut Oezil. Tapi permasalahan Uighur di Xinjiang bukan perkara 1-2 tahun atau sejak kerusuhan 2009, melainkan sudah mulai sejak tahun 60 SM, seumur Jalur Sutra.

Saya berani bilang begini karena pernah melihat langsung ke Xinjiang bulan Mei 2018 silam. Dari Kota Urumqi, saya ke Changji, Korla, Yanqi, dan Bohu. Saya berjumpa pihak-pihak yang bertikai dan dijelaskan benang kusut perkaranya.

Transmisi Pendidikan Islam Dari Lisan Menuju Tulisan

Daerah Xinjiang membawa beban sejarah yang tidak kita dipahami dengan utuh. Izinkan saya jelaskan dalam beberapa poin:

1. Xinjiang ratusan tahun terpinggirkan

Tahu cerita Kera Sakti Sun Go Kong, Journey To The West? Daerah barat yang dimaksud adalah Xinjiang. Inilah Wild Wild West versi Negeri Tirai Bambu, tanah tidak bertuan yang dihuni bandit dan siluman. Dulu namanya Xi Yu artinya Daerah Barat.

Jalur Sutera yang dibuka tahun 60 SM di Zaman Dinasti Han mengubah segalanya. China terhubung dengan India, Timur Tengah, dan Romawi. Namun kemudian Xinjiang tercabik-cabik aneka peperangan antar-klan dan invasi Mongol sampai Kekaisaran China menguasai daerah ini. Tapi setelah itu Xinjiang dibiarkan begitu saja selama ratusan tahun.

2. Konflik identitas

Uighur bukan satu-satunya etnis di Xinjiang. Di sana ada 56 etnis minoritas. 46% adalah etnis Uyghur, 40% adalah etnis Han, kemudian etnis Kazakhs 6,5%, etnis Hui 4,5% dan etnis lain-lain 3%. Berapa yang ribut dengan Beijing? Cuma Uighur.

Uighur secara fisik agak bule, secara bangsa lebih dekat dengan Turki. Tapi 92% penduduk China adalah etnis Han. Kecuali di Xinjiang saja etnis Han cuma separuh populasi. China yang sentralistis tidak mengenal konsep Bhinneka Tunggal Ika. China adalah Beijing, China adalah Han. Uighur mesti ikut identitas tunggal itu.

3. Bedanya Muslim Uighur dan Muslim Hui

Di Urumqi saya melihat kawat berduri di gerbang masuk pemukiman Muslim Uighur. Tapi di Changji, saya melihat etnis Muslim Hui hidupnya nyaman-nyaman saja. Apa bedanya Muslim Uighur dan Muslim Hui?

Muslim Uighur rupanya punya sejarah panjang soal separatisme sejak tahun 1960 yang dimotori beberapa kelompok, seperti East Turkistan Islamic Movement (ETIM) dan yang terakhir Turkistan Islamic Party (TIP). Uighur juga dimanipulasi kelompok teror seperti Al Qaeda sampai ISIS yang membuat urusan separatisme Uighur ini makin keruh.

Inilah bedanya dengan Muslim Hui. Muslim Hui tidak pernah minta merdeka. Dalam kerusuhan Xinjiang tahun 2009 etnis muslim Hui tidak mau menjadi bagian dari konflik.

Muslim Hui berbagi sejarah romantis dengan etnis Han. Secara fisik sama-sama sipit, sementara Uighur agak bule. Muslim Hui punya Laksamana Cheng Ho yang diakui sebagai pahlawan China. Para jago kungfu Muslim Hui bersatu dengan jago kungfu Han dalam Boxer Rebellion di awal abad ke-20. Berjuang bersama melawan penjajah Jepang dan di era modern mereka menjadi pejabat di pemerintahan China, atlet, seniman dan lain-lain.

Muslim Hui mendapatkan pengakuan politik dan budaya, tapi Muslim Uighur tidak.

4. Jadi, apa benar Muslim ditindas di China?

Kalau Uighur ditindas dan Hui tidak, berarti masalahnya bukan soal agama Islam. Beberapa kenalan mahasiswa Indonesia yang kuliah di China berbagi cerita pengalaman Ramadan yang syahdu, tidak ada larangan puasa.

Akar masalah Muslim Uighur adalah separatisme, minta merdeka, dan diperkeruh lagi aksi teror yang dipengaruhi Al Qaeda dan ISIS. Di sisi lain, China bersikap sangat represif terhadap gerakan semacam itu.

Apakah kamp konsentrasi itu ada? Saya yakin ada, walaupun tidak menjumpainya saat berputar-putar di Provinsi Xinjiang. Pemerintah China mengakui, dan menyebutnya tempat edukasi. Tempat rakyat belajar ‘disiplin’.

5. Politisasi agama, percuma!

Memakai isu agama untuk masalah politik Uighur tidak akan efektif. Fa Lun Gong sudah mencobanya. Foto-foto korban kekerasan di medsos, itu banyak foto Fa Lun Gong, bukan Muslim Uighur. Di mata Beijing, itu adalah pembangkangan politik, titik.

Tapi di Indonesia, aksi simpatik bela muslim terzalimi memang laku. Tidak bisa menutup mata, isu Uighur jadi jualan politik beberapa ormas Tanah Air. Sekadar megaphone diplomacy oke. Tapi kalau hari ini bela Uighur, besok menawarkan khilafah, itu namanya memboncengi penderitaan muslim Uighur, kurang etis.

6. Memahami posisi China

Sikap China sebenarnya melunak pasca rusuh Xinjiang tahun 2009. Mereka ternyata mencoba beberapa cara non kekerasan sampai 2019.

Pertama dengan demografi. Sejak 2009 sampai 2019, China membuat perimbangan populasi di Xinjiang. Etnis Han kini naik jadi 40% dan etnis Uighur 46%. Warga Han di Kota Korla bercerita kepada saya, ada insentif menarik untuk etnis Han yang mau pindah ke Xinjiang.

Kedua, ekonomi. Akhirnya China ‘bertobat’ dan membangun infrastruktur Xinjiang dengan serius dari sekolah, rumah sakit, apartemen dan lain-lain. Tinggal pertanyaan kritisnya, pembangunan ini untuk etnis Han atau untuk Muslim Uighur?

Ketiga, pendidikan. Saya berkunjung ke sekolah asrama, isinya anak-anak Uighur dari pedalaman disekolahkan gratis sampai SMA. Nantinya mereka dikuliahkan di kota-kota besar China lainnya. Ini pun masih menuai protes. Sekolah ini dianggap membuat anak-anak Uighur lebih pro China.

Keempat, merangkul muslim moderat. Saya di Urumqi mampir ke Xinjiang Islamic Institute dan berjumpa Presiden Xinjiang Islamic Institute, Abdurakib Bin Tumurniyaz. Ini adalah sekolah tinggi agama Islam. Institusi ini jadi jembatan komunikasi antara umat Muslim di Xinjiang dengan pemerintah Beijing.

7. Para pemain isu Uighur

Xinjiang alamnya gunung batu dan gunung pasir. Tapi di bawah tanahnya ada salah satu cadangan gas terbesar di China. Kalau Xinjiang merdeka, yang untung adalah Kazakhstan dan Rusia. Turki ikut untung karena kalau Xinjiang merdeka, namanya akan menjadi East Turkistan, sudah jelas dia akan berpatron ke mana. Ketika negara-negara itu menyuarakan Uighur, apakah itu tulus atau ada kepentingan ekonominya?

Amerika dan sekutunya juga akan selalu mengangkat isu Uighur secara reguler. Di tengah perang dagang AS-China, Uighur menjadi titik lemah Beijing. Banyak juga organisasi yang mengangkat isu Uighur untuk kepentingan masing-masing. Tapi siapa sebenarnya representasi Uighur di dunia internasional?

8. Serius mau bantu Uighur? Ini caranya!

Pertama, kalau Muslim Hui bisa punya hubungan baik dengan pemerintah China, kenapa Uighur tidak? Ternyata Uighur tidak semua minta merdeka. Dunia perlu mendengar suara kelompok Uighur yang tetap mau jadi bagian dari China.

Kedua, pemerintah Beijing perlu melihat representasi Islam yang damai. Xinjiang Islamic Institute adalah contoh lembaga yang memainkan peran itu. Sebab, kalau membungkus terorisme dan separatisme dengan isu agama, akhirnya yang rusak nama Islamnya. Semua bentuk kebudayaan Islam akhirnya dianggap bagian separatisme.

Ketiga, dunia perlu mendorong Muslim Hui untuk menjadi mediator antara Uighur dan pemerintah China. Bagaimanapun, Uighur adalah masalah dalam negeri China, aktor-aktor dalam negeri mereka harus berperan aktif.

Keempat, dunia perlu mendesak China menghentikan cara-cara kekerasan dan diskriminatif pada kamp-kamp re-edukasi. Serta mendorong China mengedepankan cara-cara damai dan terus membangun Xinjiang. China harus merangkul Uighur, minimal dari mengakui kebudayaan mereka.

Kelima, Indonesia bisa berperan aktif. China bisa belajar bagaimana Indonesia menyelesaikan masalah di Aceh dengan damai. NU dan Muhammadiyah sedang dan bisa terus melakukan pendampingan di Xinjiang.

9. Kesimpulan dan pelajaran untuk Indonesia

Jika disimpulkan, solusi masalah Uighur ada tiga: China mesti stop diskriminasi, Uighur mesti stop minta merdeka, dan bangun komunikasi serta sikap saling percaya di kedua pihak.

Jadikan Uighur pelajaran bagi Indonesia, jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama. Isu Uighur adalah kasus di mana kelompok minoritas hidup dalam tekanan. Kalau kita teriak-teriak bela Uighur, tapi menindas kelompok minoritas di Indonesia, apa bedanya kita dengan China?

*Penulis : Fitraya Ramadhanny, Redaktur Pelaksana detikINET.

Baca Juga: Menurut Gus Baha, Mengenal Tuhan Perlu Ilmu Mantiq

🔥29
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *