Marhaenisme adalah “Air Susu Ibu” Ideologis PDI Perjuangan

Bagikan
Berbeda halnya dengan partai-partai yang hanya mengandalkan kekuatan logistik. Begitu pemasok logistiknya mati, partai itu pun mati, tanpa kemungkinan dihidupkan kembali karena tak menyisakan air susu ibu ideologis yang bisa direproduksi.

Trisila.com – PDI Perjuangan memang nama yang dikenal pada hari ini, tapi akar  ideologisnya bisa disusuri hingga sebelum Indonesia merdeka.  Perserikatan/Partai Nasional Indonesia (PNI) yang muncul pada akhir 1920-an di bawah kepemimpinan Soekarno yang berideologi marhaenisme.

Dalam rentang panjang metamorfosisnya dari Perserikatan Nasional Indonesia (1927). Partai Nasional Indonesia (1928), Partai Indonesia/Partindo (1931). Partai Nasional Indonesia (1946). Partai Demokrasi Indonesia (1973), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (1998). Riwayat kepartaian anak-anak  ideologisnya Bung Karno itu berulang kali hidup-mati, dibunuh-hiudp lagi, dipatahkan-tumbuh lagi, hilang berganti.

“Dalam peperangan, orang hanya bisa mati satu kali. Sedangkan dalam kontestasi politik, orang bisa saja mati berkali-kali.” Begituah kata Winston Churcill.

Meskipun tokoh- tokohnya bisa mati berkali-kali tidak masalah selagi masih tersisa air susu ideologis. Partai pengganti bisa dihidupkan dengan mengalirkan air susu ideologis ke akar  oleh pengusung ideologi rumput yang sama.

Berbeda halnya dengan partai-partai yang hanya mengandalkan kekuatan logistik. Begitu pemasok logistiknya mati, partai itu pun mati, tanpa kemungkinan dihidupkan kembali karena tak menyisakan air susu ibu ideologis yang bisa direproduksi.

Disiplin ideologis merupakan fondasi utama suatu partai. Bung Karno mengingatkan, “Sebuah partai harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide, memikul ide, dan membumikan ide”.

Tidak sepatutnya partai itu dipimpin oleh uang, menghikmati uang, memikul uang, dan membumikan uang. Partai sejati seharusnya berdiri berlandaskan seperangkat kepercayaan, ide, sikap dan keyakinan yang menyediakan skema konseptual sebagai panduan aksi dan praktis politik bersama.

Baca Juga : Megawati Tatang Pendukung Khilafah

Ideologi merupakan simpul identitas kolektif mentransformasikan kepentingan-kepentingan perseorangan ke dalam kepentingan dan perjuangan bersama. Tanpa panduan ideologi, partai hanyalah kerumunan kepentingan yang mudah berubah menjadi perkakas dari perorangan yang terkuat (the fittest) dan tergemuk (the fattest).

Air susu ibu ideologis dari PDI Perjuangan adalah Marhaenisme. Dalam serangkaian tulisan Bung Karno yang dipublikasikan pada 1933, “Mentjapai Indonesia Merdeka”, “Marhaen dan Marhaenis, “Marhaen dan Proletar, Marhaenisme didefinisikan sebagai asas dan cara perjuangan sosialisme ala Indonesia berlandaskan prinsip “sosio-nasionalisme” dan “sosio-demokrasi, yang menghendaki “hilangnyatiap-tiap kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme”.

Partai Pelopor Menurut Bung Karno

Soekarno percaya, perjuangan mencapai masyarakat adil dan makmur memerlukan kepemimpinan partai pelopor yang mampu memperjuangkan dan memperoleh dukungan kaum Marhaen.

Salah satu syarat bagi terbentuknya partai pelopor, menurut Bung Karno, adalah disiplin kepartaian. Disiplin pada ideologinya, disiplin pada teori pergerakannya, disiplin organisasi, disiplin taktik, disiplin propaganda.

“Pendeknya partai yang di dalam segala urat-uratnya dan syaraf-syarafnya harus sebagai suatu mechanism yang tiap-tiap sekrup dan tiap-tiap rodanya berdisiplin hingga seksama”.

Sebagai partai dengan akar ideologi yang kuat, PDI-Perjuangan juga dituntut untuk menjaga disiplin partai yang kuat pula. Disiplin dalam ideologi, disiplin pada teori pergerakan, disiplin dalan berorganisasi, disiplin dalam taktik, dan disiplin dalam propaganda.

Hanya dengan cara itu, PDI-Perjuangan akan menjadi jangkar yang kuat di tengah samudera krisis nilai dan kepercayaan, yang akan membawa kapal-kapal politik yang oleng berputar haluan mencari tambatan. Dengan cara itulah, PDI-Perjuangan bisa terus menyempurnakan kejayaannya: kejayaan partai yang membawa kejayaan bangsa.

Setiap zaman ada tantangannya tersendiri, dan seharusnya melahirkan responnya yang sepadan bagaimana ideologi direproduksi dan diartikulasikan secara baru sesuai dengan tantangan zamannya.

Selamat berjuang! Seperti wejangan Bung Karno,

 

 

🔥221
Bagikan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *