Transmisi Pendidikan Islam Dari Lisan Menuju Tulisan

Bagikan

Akibat dari perkembangan teknologi cetak ini, lebih terlambat dirasakan dunia Islam. Jauh sebelum Islam menyerap teknologi cetak, Kristen barat sudah menggunakannya.

Sejarah– Perkembangan teknologi cetak memiliki dampak terhadap banyak sektor kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi dan agama khususnya agama Islam. Dampak ini memiliki perbedaan antara daerah satu dengan yang lainnya. Revolusi teknologi cetak ini dimulai dari penemuan mesin cetak pertama pada tahun 1450 M oleh Johann Gutenberg . Akibat yang paling terasa oleh revousi teknologi percetakan ini adalah berubahnya transmisi pendidikan dibanyak tempat terutama Wilayah Eropa.

Pada abad pertengahan, transmisi pendidikan Islam masih bergantung pada sistem lisan. Pada masa ini ulama adalah satu-satunya sumber penafsiran dan sumber ilmu agama. Kemampuan hapalan yang dimiliki oleh ulama merupakan sesuatu yang sangat dihormati. Akan tetapi sejak mesin cetak mulai beredar, perlahan metode lisan berganti dengan metode teks.

Politisi Perempuan di Senayan, Gender dan Framing Media

 

Akibat dari perkembangan teknologi cetak ini, lebih terlambat dirasakan dunia Islam. Jauh sebelum Islam menyerap teknologi cetak, Kristen barat sudah menggunakannya. Walaupun pada tahun 1493 seorang warga Yahudi yang bermigrasi ke Istambul mendirikan percetakan, masyarakat muslim pada saat itu bisa dikatakan tidak tertarik dan cendrung menolaknya. Bahkan percetakan di Istambul dilawan dan diminta untuk ditutup.

Lambatnya Islam Menggunakan Teknologi Cetak

Islam tidak menggunakan teknologi cetak dalam transmisi pendidikan karena beberapa alasan, yaitu: Khawatir adanya inovasi dibidang agama (Bid’ah), dan menganggap mesin cetak pada saat itu adalah produk non muslim. Akan tetapi penolakan ini  tidak terjadi pada produk lain seperti perlengkapan militer, tembakau, lampu dan lainnya. Sebenarnya Islam tidak benar-benar punya persoalan dengan industri cetak. Islam khawatir karena perkembangan teknologi percetakan ini mampu menyerang Islam ke jantung utama dalam ajaran agama.

Tradisi lisan yang sudah dipakai lebih dari 1200 tahun lamanya benar-benar sulit tergantikan. Sejak Rasulullah pertama kali menyampaikan Al-quran, tradisi lisan menjadi kekuatan karena memiliki intonasi dan ekspresi sebagai satu kesatuan dari esensi pesan yang disampaikan. Keindahan Al-quran tidak hanya terledak pada isinya saja, tetapi juga pada nada dan intonasi saat membacakannya.

Ketika Rasulullah wafat, al-quran memang ditulis, akan tetapi penulisan itu hanya membantu untuk proses menghafal. Anak-anak arab yang belajar Al-quran memiliki alat tulis berupa batu atau pelepah kurma. Seorang guru akan menuliskan beberapa ayat Al-quran pada media tulis, lalu murid menghapalnya, kemudian setelah murid mampu menghapalnya, ayat yang sudah ditulis akan dihapus dan digantikan dengan ayat baru untuk kemudian dihapal kembali.

Percetakan mulai berkembang dikalangan Islam pada abad ke 19. Pada tahun 1830 barulah surat Kabar Pertama Muslim di Produksi, dan pada tahun 1870 Al-quran dan buku agama Islam lainnya di produksi. Penerimaan Islam pada teknologi cetak ini disebabkan karena Islam mulai menghadapi keadaan yang berbeda dengan  ketika Islam hanya berkembang di Arab. Islam memasuki daerah-daerah yang berbeda secara budaya, bahasa, sosial dan politik, ini yang membuat Islam mulai menerima dan mengadopsi teknologi cetak sebagai alat transmisi pengetahuan agama.

 

Penulis,

Saipudin Ikhwan, S.I.Kom

(Mahasiswa Pascasarjana Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga- Yogyakarta)

Referensi :Francis Robinson – Cambridge University Press

🔥144
Bagikan