Pentingnya Teori Perjuangan

Bagikan

 

Lihatlah realitas dengan objektif, Jangan sampai gerakan melahirkan aktivis-aktivis yang KERTARAH (Keras Tanpa Arah)

——->>>

Percayalah!, perjuangan tanpa teori perjuangan tidak akan benar-benar mencapai suatu keberhasilan. Kita bukan satu massa aksi yang bergerak amburadul tanpa kejelasan pondasi. Kita bukan mereka yang bahkan, para aktivisnya, sama sekali tidak mengerti apa dan bagaimana teori perjuangan berjalan.

Berteriak lantang menuntut keadilan tapi tak mengerti kondisi, berdarah-darah memperjuangkan hak rakyat, tapi tak paham bagaimana itu bisa terjadi. Mereka yang tidak memiliki teori perjuangan akan saling serang dan tak segan-segan saling hantam karena kedangkalan pemahaman.

Apa itu teori perjuangan?  Teori perjuangan adalah sebuah kompas dalam berjuang, ia adalah “alat kupas” realitas, agar semua energi bisa diarahkan dan terarah pada hal-hal yang menjadi prioritas.

Banyak defenisi tentang teori, tapi setidaknya yang kita pahami teori adalah  sebuah porses dari pengembanan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi, dan menjadi landasan dalam melalukan perubahan.

Sebagai contoh. Misalnya, sebuah fenomena ekonomi kerakyatan yang semakin tersudut,  kemiskinan yang masih menjadi suatu problem. Bisakah kita berjuang tanpa mengetahui konsep kebijakan ekonomi yang dilaksanakan oleh pemerintah? Bisakah kita melakukan perubahan tanpa memahami teori ekonomi yang sedang berkuasa yang menjadi penyebabnya, tanpa mengerti ketimpangan akses rakyat terhadap sumber dan alat-alat produksi?.

Bisa! Tapi jelas perjuangan semacam itu tidak akan menemukan keberhasilannya. Karena bergerak hanya tersebab kemarahan, tanpa pemahaman akan teori-teori perjuangan. Pada akhirnya, perjuangan semacam itu tidak menemukan akar permasalahan, dan energi habis untuk sesuatu yang kulitnya saja. Mungkin saja akan menyebabkan gelombang besar, karena mampu menyulut emosi rakyat, tapi tidak benar-benar menghasilkan kemenangan rakyat, hanya kemenangan elit dan pemimpin massa saja.

Melawan Konsumerisme

Peran Teori Perjuangan

Jika kita memandang kebelakang, sangat terlihat peran teori-teori perjuangan sejak dulu.  Lihat saja sejarah perjuangan anti-kolonial. Di jaman itu, hampir semua tokoh pergerakan punya kebiasaan menulis dan mengelaborasi pemikiran-pemikirannya. Perdebatan dan dialektika mereka tersebar di koran-koran pergerakan. Lihatlah tulisan-tulisan Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Semaun, Sjahrir, Musso, Alimin, dan lain-lain.

Dalam salah satu tulisan penting Bung Karno, Mencapai Indonesia Merdeka, Soekarno mengutip perkataan Lenin yang terkenal: “tanpa teori revolusioner mustahil ada pergerakan yang revolusioner.”

Bagi Soekarno sangat jelas, bahwa massa aksi (tanpa) teori perjuangan, massa aksi tanpa kursus-kursus, brosur-brosur dan surat kabar, adalah massa aksi yang tak hidup dan tak bernyawa,–massa aksi yang  tidak punya kemauan dan tidak punya will. Padahal, kemauan inilah yang menjadi motor-tenaga massa itu untuk berjuang habis-habisan.

Aktivis KERTARAH

Hari ini banyak aktivis KERTARAH (Keras Tanpa Arah) yang menciptakan “amuk-amukan tanpa pemikiran”, yakni kecenderungan gerakan untuk menuruti hawa nafsu atau amarah saja, sehingga sering sekali mengabaikan perhitungan terkait situasi objektif dan subjektif.

Bung!, Pergulatan pemikiran  yang kemudian melahirkan pemahaman akan sebuah realitas wajib bagi mereka yang sedang berjuang. Mengapa demikian?, jelas! Karena rakyat yang menjadi subjek utama dari perubahan itu tentunya harus digerakkan, harus disadarkan, harus disatukan.

Ide-ide besar, langkah-langkah strategis, bahkan manuver-manuver taktis  tidak bisa dilakukan dengan sembrono, tanpa perhitungan, tanpa kajian, tanpa analisa!. Proses seperti yang ku katakan itu, akan menghasilkan sebuah konsep-konsep yang bisa menyederhanakan keadaan, sehingga dengan mudah dimengerti oleh para penggerak perubahan, dan lebih luas dimengerti oleh rakyat.

Sebuah cita-cita besar  tidak mungkin bisa dilakukan tanpa melakukan perubahan pemikiran, cara pandang, cara bersikap, dan cara bergaul. Itulah gunanya teori perjuangan, ia menjadi pondasi dalam menentukan strategi, menjadi acuan dalam memilih taktik, bahkan menjadi perekat dan pemersatu dalam melakukan perubahan, bahkan sejak dalam pemikiran.

Oleh sebab itu, jangan hentikan ruang-ruang kajian, gelorakan semangat perjuangan yang didasari oleh pemahaman. Agar dialog dan dialektika pemikiran akan menguatkan teori teori perjuangan.

Baca! diskusikan! kaji! Perdebatkan! Simpulkan! Kerjakan!. Karena teori saja tidak cukup untuk membesarkan kemauan rakyat, tetapi perlu adanya aksi di lapangan perbuatan, baik dalam lapangan perjuangan ekonomi untuk mendatangkan perbaikan terhadap kehidupan rakyat  maupun dalam perjuangan politik. Inilah yang  Soekarno katakan mengenai kesatuan antara teori dan praktek.

Istana Sepi Perjuangan
Yogyakarta, 26 Januari 2020

🔥127
Bagikan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *