Idealisme Politik Kaum Muda

Bagikan

Apa yang terbayang oleh kita jika mendengar kata politik?, Sebagian besar kita akan langsung memberikan stigma negatif terhadapnya. Apakan lagi pemuda, kebanyakan mereka anti politik.

Idealisme Politik Kaum Muda. Sebuah kalimat yang mungkin terdengar seperti lelucon di siang bolong. Sama sekali tidak  menarik apa lagi menggetarkan jiwa. Sebuah kalimat yang retorik ini, biasanya ramai dibicarakan para politisi untuk kampanye pada saat pemilu. Tak lain hanyalah sebuah cara untuk menarik minat pemuda agar memberikan suaranya kepada calon atau partai tertentu.

Akhirnya, riuh itu hanya sementara, padahal kita harus terus menyuarakan itu, sebab jika berhenti (membuktikan) Idelaisme itu, maka semakin parahlah apatisme (sikap anti politik) pemuda. Kita kaum muda yang mengerti bahasa pemuda, kita yang mengerti jiwa muda, kita yang harus bersuara menggerakkan politik kaum muda, bukan mereka yang hanya datang lima tahun sekali itu!.

Bung!, Sikap anti politik kaum muda akan melemahkan Indonesia yang menerapkan sistem politik demokrasi. Jika hal demikian dibiarkan, maka politik kita tidak akan memiliki gairah, daya juang bangsa akan menurun, kebijakan publik dan keputusan politik hanya akan menjadi perbincangan lepas di warung kopi. Padahal,  generasi muda adalah  penerus bangsa. Kita akan meneruskan estafet politik di Indonesia, mengatur dan membuat kebijakan yang lebih baik. Pemuda adalah harapan untuk memperbaiki politik di masa depan.

Mengapa  kaum muda tidak menaruh minat  di bidang politik hari ini?.

Sangat berbanding terbalik dengan  masa sebelum hingga awal-awal Indonesia Merdeka. Para pendiri bangsa seperti, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Otto Iskandardinata, M Yamin, Soepomo, dll, memainkan peran dibidang politik untuk melawan para penjajah. Idealisme Politik mereka benar-benar berdampak. Mereka mengorganisir rakyat, berjuang bersama-sama rakyat, bukannya anti, malah mereka menjadi tokoh politik sejak usia muda.  Bung Karno dengan PNI-nya, Bung Hatta dengan PNI -Barunya, Sjahrir dengan PSI-nya, Ki Hajar Dewantara dengan De Indische Partij – nya,  bahkan Soekarno sejak usia 27 tahun sudah mendirikan partai politik.

 

Musuh Bersama.

Baiklah, mungkin tidak adil jika membandingkan kondisi pemuda hari ini dengan pemuda masa lalu. Apalagi  dengan para pendiri Bangsa. Idealisme politik mereka (Pendiri bangsa) lahir karena hidup di zaman penjajahan yang penuh penindasan, sedang hari ini, kita hidup di saat Indonesia telah merdeka, ini zaman internet, semua mudah dan terlihat begitu damai. Lagipun, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemuda yang bersikap anti terhadap politik. Sikap semacam itu (anti politik) tentu ada penyebabnya, dan tidak mungkin kita melulu mencari kambing hitam untuk cuci tangan, tanpa ada upaya untuk merubahnya.

Pentingnya Teori Perjuangan

 

Belajar dari perbedaan sikap terhadap politik antara pemuda dulu dan sekarang, setidaknya ada pelajaran yang bisa kita tarik dari perbandingan tersebut. Salah satu dalam tulisan ini adalah “Musuh Bersama”.

Pemuda Indonesia pada masa lalu memiliki musuh bersama, yaitu penjajah. Kesadaran adanya ‘musuh bersama’  membuat pemuda Indonesia bisa menghimpun persatuan untuk melawan. Namun ketika bangsa Indonesia resmi bebas dari ‘musuh bersama’ bernama ‘penjajah’, bangsa Indonesia terbebas dari musuh nyata. Lalu lahirlah musuh bersama yang abstrak. Musuh bersama yang abstrak itu seperti: buta huruf, pendidikan, pekerjaan, penyakit fisik, ekonomi, infrastruktur fisik, dan lain-lain.

Kesadaran akan “musuh bersama” ini tidak hanya lahir karena kesamaan rasa (dijajah). Akan tetapi juga karena adanya para penggerak yang teruji (Tokoh Pergerakan) yang lahir dari ruang sunyi perjuangan, yang krisis, yang perih, yang penuh dengan penderitaan. Mereka menghimpun kekuatan, menyebarkan kesadaran; bahwa tidak akan terjadi perubahan jika berjuang sendiri-sendiri. Bukan tanpa penolakan, mereka berdarah-darah membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata-mata untuk kemerdekaan, untuk rakyat Indonesia.

Baca Juga : Saipudin Ikhwan : Kita Harus Melawan Konsumerisme

Maka, kepada pemuda yang masih anti politik, jangan berdebat, buktikan, bahwa kita akan menjadikan politik perjuangan, bukan jalan mencapai kekayaan pribadi atau kelompok. Upaya itu tentu akan sulit, tapi demi Indonesia kita harus memperjuangkannya, meski harus berdarah-darah. Sebab hanya kita (pemuda) yang mengerti bahasa pemuda. Mari, bersatulah, sebarkan kesadaran bahwa musuh bersama kita bukanlah orang, musuh bersama kita adalah sistem yang menindas rakyat. Cita-cita kita adalah kesejahteraan rakyat, itulah idealisme Politik kita, Idealisme Politik Kaum Muda.

 

Istana Sepi Perjuangan

Yogyakarta, 27 Januari 2020

 

🔥215
Bagikan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *