Melawan Konsumerisme

Bagikan

Bagaimana Iklan-iklan dari produk-produk yang dijual di berbagai pasar itu menjajal kepala marhaen dan mempengaruhi mereka untuk membelinya.

—————– >>>

Konsumerisme. Kita sadari betapa hari ini kebutuhan setiap manusia begitu banyak, dan tidak berlebihan jika ku katakan terlalu banyak.  Sadarkah kita, Bahwa masyarakat  sedang digempur  habis habisan oleh iklan-iklan  lalu terbuai kehilangan kesadaran akan hakikat kebutuhan. Produk-produk ditawarkan lewat berbagai strategi pemasaran dari mulai media cetak, elektronik dan internet.  Bahkan setiap sudut kota pun tidak luput penuh sesak dengan billboard yang menawarkan produk.

Jika kita lihat sekilas mungkin hal itu biasa saja, toh yang namanya manusia tentu memiliki kebutuhan. Tetapi sadarkah kita  bahwa sebenarnya lebih banyak kebutuhan itu, yang mereka “obok-obok” itu, sebenarnya hanyalah keinginan. Betapa“anehnya” hari ini, untuk satu produk seperti pasta gigi; ada puluhan merek yang sebenarnya fungsinya sama; membersihkan mulut dan gigi. Banyangkan saja, puluhan merek itu saling bertarung di pasar, bahkan seringnya merek-merek yang berbeda itu sebenarnya diproduksi oleh perusahaan yang sama.

Lihatlah bagaimana Iklan-iklan  itu menjajal kepala marhaen dan mempengaruhi mereka untuk membelinya!. Begitulah cara kerja kapitalis, mereka mengelabui kita, dan selalu saja tidak berhenti-henti memproduksi barang yang sebenarnya tidak berguna.

Membeli barang secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kegunaannya itulah yang kita sebut konsumerisme.

Lalu apa yang terjadi jika budaya konsumerisme ini merasuk dalam diri marhaen saat ini?. Apa yang kau bayangkan jika Marhaen membeli barang yang mereka tidak perlu, yang hanya memenuhi keinginan sesaat. Bukankah cita-cita kita adalah bagaimana para marhaen menjadi satu masa aksi yang solid bergerak untuk kesejahteraan mereka.

Konsumerisme adalah buntut dari kapitalisme

Apa yang kau pikirkan jika marhaen yang kondisi ekonominya buruk, malah memiliki budaya konsumerisme?. Anak-anak muda yang tidak pernah puas membeli dan terus membeli barang tanpa menimbang kegunaannya. Sebenarnya kita terjajah dengan konsep berpikir yang sering  katakan sebagai Trend atau kekinian. Apa untungnya trend bagi perjuangan marhaen?.

Menjadi masalah bagi kita, ketika marhaen yang notabene berstatus ekonomi rendah menggunakan penghasilannya untuk membeli barang-barang berdasarkan trend yang sebenarnya dibentuk oleh kapitalis untuk kepentigan bisnisnya. Akibatnya, marhaen menghabiskan sumber dayanya pada sesuatu yang melewati batas dan membebani keluarganya,  yang justru akan membuat mereka semakin terpuruk dalam kemiskinan.

Marhaenisme, Asas Perjuangan Yang Relevan Sampai hari ini

 

Budaya konsumerisme adalah buntut dari sistem industri, karena setelah  memproduksi barang-barang mereka membutuhkan pemasaran produknya. Ini adalah akibat dari produk-produk kapitalis yang hari ini semakin mudah dijangkau masyarakat. Itu sebabnya mereka mendesain sistem perdagangan bebas, agar nafsu mereka untuk menjadi kaya bisa terpenuhi. Tidak perduli efek buruk yang dihasilkan.

Dengan perdagangan bebas, semua barang yang sebelumnya tidak pernah kita temui dan bayangkan dengan mudahnya masuk melalui proses impor, yang berakibat selera konsumsi dan harga menjadi beragam.

Mereka mengelabui kita, seolah apa yang mereka produksi adalah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan, padahal itu tak lebih hanyalah sebuah eksploitasi keinginan dengan menggunakan trik Psikologi, dan ilmu komunikasi.

Untuk kenyang maka kita butuh makan, ini namanya kebutuhan. Makan ayam, makan roti, makan spageti, makan indomie, makan rendang, makan pizza, burger dan seterusnya, ini adalah keinginan.

Kita, mulai kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.  Kehormatan dan derajat seseorang ditentukan dari berapa banyak barang mewah yang dimiliki, bukan dari budi pekertinya.

Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan makhluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha.  Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Akan tetapi bila mana nafsu keinginan melebihi kebutuhan maka akan menjadikan pola hidup konsumerisme.

Aku tidak katakan kita tidak sama sekali membutuhkan produk-produk itu. Jelas untuk mencapai sosialisme, mencapai kesejahteraan rakyat, kita butuhkan barang-barang yang memiliki manfaat bagi kita.

Akan tetapi, pembelian barang yang berlebihan tanpa mempertimbangkan fungsinya, hanya mengikuti keinginan saja,  bukan malah membuat kita menjadi semakin dekat dengan cita-cita. Semakin jauh, dan semakin terjebak dengan tipu daya kapitalisme.

Konsumerisme ini, terus saja menjalar dan menancapkan pengaruhnya di wilayah juang kita melalui media-media masa, melalui para komprador, melalui teknologi informasi.

 

Tidak ada cara lain, tidak ada pilihan lain, kita harus sekuat-kuatnya menghadangnya, bahkan harus melawannya.  Sebab, jika masyarakat melakukan konsumsi berlebihan akan secara langsung menimbulkan sifat hedon yang secara otomatis akan menciptakan budaya yang kontra revolusi. Konsumerisme akan memunculkan persaingan identitas, memunculkan kesenjangan yang tidak sehat untuk membangun masa aksi, itu jelas bertentangan dengan semangat gotong-royong, dan ku tegaskan!, konsumerisme adalah cicit dari sistem kapitalisme.

 

Lalu bagaimana cara kita melawan konsumerisme itu?. Jika pertanyaan itu ada dalam dirimu saat membaca tulisan ini, artinya kau sadar bahwa apa yang kukatakan benar adanya. Bangunlah wahai pejuang, percayalah, semua terpaan budaya konsumerisme tidak akan terjadi pada kita jika kita benar-benar bisa membentuk sebuah masa aksi. Masa yang sadar akan cita-cita perjuangannya.

Mulailah dari dirimu sebagai penggerak perubahan, hentikan semua konsumsi yang tidak berguna. Jadilah suri tauladan bagi marhaen yang ada di wilayahmu. Bahwa untuk menjadi bahagia, tidak perlu menjadi konsumerisme. Bahwa letak kenikmatan hidup adalah kesederhanaan dan rela berbagi untuk sesama. Bangunlah kesadaran itu di wilayah juangmu. Bukankah sejak dulu kita adalah bangsa yang sederhana meskipun berlimpah kekayaan alam kita. Kita adalah bangsa yang ber-Tuhan, dimana oreantasi rakyatnya pada kebahagiaan yang hakiki, bukan pada  kekayaan materi.

Baca Juga : Azas, Azas Perjuangan dan Taktik

 

Istana Sepi Perjuangan

Yogyakarya, 23 Januari 2020

🔥160
Bagikan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *