Jangan Hentikan Konfrontasi

Bagikan

Bukan berarti jika sebagian dari kita, yang memang sudah diperhitungkan dan sudah saatnya  terjun ke politik, lalu seluruhnya dari kita masuk ke dalam sistem yang penuh “ranjau” ini, TIDAK!. Jika Memang Belum siap, Silahkan tetap diluar, menjaga keseimbangan dan terus mengembangkan basis-basis perjuangan!.

====>>

Jangan Hentikan Konfrontasi. Tulisan ini ku buat untuk merespon kekecewaan dan kekhawatiran sebagian kecil sahabat-sahabat juang ketika aku memutuskan untuk terjun ke politik. Sejujurnya aku amat sangat memahami hal itu.  Seperti yang telah ku katakan berkali-kali dalam kajian dan kursus-kursus gerakan. Bahwa setiap apa yang kita perjuangkan, suara kita selalu berhadapan dengan tembok besar yang bernama politik.

Sebuah catatan sejarah dalam perjuangan pergerakan Bangsa Indonesia, bisa kita temukan  satu fakta bahwa memang pemuda mau tidak mau harus mengerti politik. Sebelumnya telah kutulis dalam artikel Idealisme Politik Kaum Muda, bagaimana para pendiri bangsa sejak muda sudah mengerti dan menggunakan politik sebagai alat perjuangan.

Mereka mengorganisir rakyat, berjuang bersama-sama rakyat, bukannya anti, malah mereka menjadi tokoh politik sejak usia muda. Bung Karno dengan PNI-nya, Bung Hatta dengan PNI -Barunya, Sjahrir dengan PSI-nya, Ki Hajar Dewantara dengan De Indische Partij – nya, bahkan Soekarno sejak usia 27 tahun sudah mendirikan partai politik.

Terlalu jauh jika membandingkan era kita dengan era pemuda zaman kemerdekaan. Tapi mungkin lebih dekat jika membandingkan dengan pemuda orde baru, yang berjuang menegakkan reformasi.  Sebut saja, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Adian Napitupulu, Desmon Mahesa, Budiman Sudatmiko, Habiburrokhman, Andi Arief, Faisol Reza, Rieke Diah Pitaloka, dll.

Nama-nama yang ku sebutkan diatas, adalah aktivis mahasiwa yang menjadi politisi di level nasional. Masih banyak lagi aktivis 98 di daerah yang mengambil jalan terjal politik. Tanpa men-dikotomi mereka (aktivis 98) dari organisasi apa, ideologi apa, cara serta pola gerak seperti apa. Kehadiran mereka dalam panggung politik memberikan warna dan pengaruh. Walaupun berbeda partai, berbeda pandangan, dan pilihan, dialektika mereka tetap ber-kelas, bicara mereka berisi, tidak seperti politisi yang lahir karena uang dan oligarki kekuasaan, seperti obat batuk, bikin ngantuk!.

Jangan Hentikan Konfrontasi

Memang banyak suara sumbang yang berkembang ketika aktivis mahasiswa (pemuda) terjun ke dunia politik. Salah satu yang menonjol adalah, “Mereka (pejabat yang dulu aktivis) juga seperti kalian saat muda, tetapi saat terjun ke politik, mereka korupsi, mandul, menumpuk kekayaan, dsb”.

Pernyataan diatas, memang terasa menyakitkan. Membunuh keyakinan dan mematikan harapan sejak dini. Padahal ada banyak kejadian dalam hidup ini, lantas adil-kah kita mengatakan semua adalah sama?.

Meskipun demikian, Narasi diatas, setidaknya meberikan kita dua kesimpulan. Pertama, adalah kekecawaan atas pengalaman sebelumnya, karena harapan yang disandarkan pada aktivis ketika mereka terjun ke politik pupus dan sirna. Kedua, adalah vitamin bagi kita yang masih memiliki kesadaran dan semangat untuk melakukan perubahan, dan agar tidak sama seperti mereka.

Maka, dengan kesadaran penuh aku katakan, konfrontasi tidak boleh dihentikan. Meskipun sebagian dari kita sudah mengambil jalan politik, parlemen jalanan  tidak boleh dihentikan, aksi massa – massa aksi harus selalu dibentuk dan disuarakan.

Kita tidak mesti takut, politik tidak akan bisa membungkam suara-suara perlawanan. Suarakan!, terus lakukan konfrontasi pada ketidak-adilan, pada sistem dan kebijakan yang tidak pro rakyat. Dengan begitu, akan terjadi keseimbangan dan kesinambungan dalam perjuangan. Lagipula, jika suara yang dibawa adalah suara rakyat, akan kuat pula legitimasi untuk memperjuangkannya di wilayah politik. Perjuangan kita tidak ada yang berubah, cita-cita kita tetap sama, hanya mengambil peran yang berbeda.

Jalan politik yang ku tempuh, bukanlah jalan menuju jurang pemisah antara kita. Bahkan itu adalah jembatan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan, yang sejak bertahun-tahun lamanya kita suarakan, selalu tumbang dihadapan tembok kekuasaan.

Kita semua yang sudah mengambil keputusan terjun ke politik, akan menjadi corong perjuangan. Percayalah, aku tidak akan meredam pergerakan dan perlawanan terhadap kebijakan yang tidak pro rakyat. Sebaliknya, akan sangat kecewa, ketika aku terjun ke politik, konfrontasi dan pergerakan malah melemah. Sebab bagiku suara perlawanan itu adalah tanda, dan peringatan agar senantiasa bergerak menuju cita-cita yang sama, sosialisme indonesia.

Aku tidak mungkin memuaskan dan membahagiakan semuanya, tapi keputusan ini, bukan keputusan yang ujuk-ujuk  ku ambil. Ini adalah sebuah keputusan strategis, dan aku tidak akan melakukan pembelaan atau perdebatan  kepada mereka yang tidak sepakat bahkan tidak percaya. Karena itu berkali-kali aku katakan, merdeka-kan lah  pikiran dan tindakanmu, lakukan dengan barometer “nurani-mu”,  maka kita akan bertemu di ujung jalan. Meski kita hari ini beda pandangan.

 

Istana Sepi Perjuangan

Yogyakarta, 1 Februari 2020

🔥110
Bagikan

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *