Kita Akan Bertemu di Ujung Jalan

Bagikan

Setiap kita memiliki pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan yang berbeda. Tapi tak seharusnya perbedaan itu membuat kita berjarak, karena ada semangat saling asuh, saling asih, saling asah di antara kita.

Banyak orang yang sudah ku temui, dan setiap mereka memiliki masalahnya masing-masing. Memang, manusia tempatnya masalah, itu merupakan konsekuensi dari akal dan perasaan yang dimilikinya. Ada ungkapan yang menggelitik untuk itu. “Bahkan ketika mati, manusia masih punya masalah dengan malaikat”. Artinya, kita tidak akan pernah terlepas dari yang namanya “masalah”. Jadi, jangan pernah lari dari masalah, hadapi dengan bangga, nikmati setiap masalah itu.

Petani tidak akan memiliki masalah yang sama dengan apa yang dihadapi oleh seorang dokter. Pedagang tidak akan memiliki masalah yang sama dengan apa yang dihadapi oleh guru, dan seterusnya. Karena setiap profesi memiliki jalan pikirannya sendiri, Ativitas setiap profesi akan menghasilkan pengalaman dan pengetahuannya sendiri. Intinya, walau setiap manusia punya masalah, tapi karakteristik masalahnya akan berbeda antara satu dengan yang lain.

Meskipun masalah bisa kita kelompokkan pada satu profesi, cara menyelesaikan masalah akan tergantung dengan pikiran, pengalaman dan pengetahuan setiap manusia itu sendiri.

Baca Juga : Jangan Hentikan Konfrontasi

Kita bawa persoalan “masalah” ini ke dunia gerakan.

Gerakan tanpa arah dan cita-cita sudah pasti adalah gerakan yang tempoter, gerakan yang kemudinya ditentukan oleh orang lain, dengan cepat akan menemukan kejenuhannya. Gerakan harus memiliki arah dan cita-cita yang jelas, dan geraknya bersumber dari  ideologi yang jelas.  Maka, setiap gerakan pasti memiliki masalahnya sendiri, itu konsepnya. Masalah itu sudah pasti menjadi sebuah instrumen penting untuk mencapai cita-cita.

Gerakan, ibarat sebuah perahu yang sedang berlayar di tengah lautan. Secara umum pasti memiliki masalah seperti ombak, cuaca, badai dan arah angin. Tapi ketika masalah umum itu tidak diterjemahkan dalam pembagian kerja yang tepat, maka sudah pasti perahu itu tidak akan sampai ke tujuan.

Hari ini gerakan kita secara umum sedang menghadapi tantangan yang cukup berat, seperti transisi “kedewasaan” kader muda, sumber daya ekonomi yang melemah, kaderisasi, propaganda, dan sebagainya. Akan tetapi,  tentunya masalah umum itu harus bisa kita pecah menjadi masalah-masalah yang lebih spesifik dan terkanalisasi.

Seperti halnya perahu, seluruh tim harus memiliki kerjanya masing-masing. Ada yang memegang kemudi, ada yang memegang layar ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang “menimba” air, ada yang memegang teropong, dan seterusnya.  Kerja yang berbeda itu  adalah sebuah keharusan, kerja yang berbeda itu adalah satu kesatuan. Setiap unit kerja harus dipimpin oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih, baik di pemikiran, pengalaman dan pengetahuan.

Untuk menghadapi badai kencang yang menerpa perahu, setiap kader perlu memahami tupoksi kerja dalam sebuah gerbong gerakan. Kebanyakan kita, khususnya kader-kader muda, berpikir salah tentang tupoksi ini. Merasa berbeda jika pekerjaan teknis berbeda. Padahal masih dalam satu perahu, dan tentunya masih dalam satu cita-cita yang sama.

Percayalah, untuk bekerjasama, tidak mesti mengerjakan hal yang persis sama.

Proses untuk membuat kader-kader mengerti tentang tupoksi gerakan, ku akui sulit. Hal itu disebabkan dua faktor utama.

(1) kompleksitas instrumen dan ideologi gerakan, serta

(2) kurangnya dialektika para kader.

Sering sekali, bahkan berkali-kali kader yang tidak memiliki pemahaman kuat tentang instrumen dan ideologi gerakan pada akhirnya memisahkan diri dari barisan. Perpisahan pilu yang tidak bisa ku hindarkan.

Kemudian  kerap kali kader meyatakan suatu tindakan salah tanpa  melalui proses dialektika. Padahal tidak ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut hanyalah semangat revolusionernya (perubahan/pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis).  – Hegel.

Meskipun seperti itu adanya, aku tidak pernah membenci mereka, aku masih memperhatikan mereka. Aku masih berharap mereka tumbuh besar. Jelas mereka telah menyerangku, bahkan beberapa membenciku.

Tapi mengapa aku masih berharap akan kebesaran mereka?. Karena aku tau mereka  masih memiliki kebenaran dan ketulusan dari tindak tanduk mereka, itulah ikatannya. Semua itu hanya masalah waktu dan peningkatan 3 kualitas dasar: Pemikiran, Pengalaman, dan Pengetahuan. Aku yakin, selagi mereka masih me-merdekakan pikiran dan tindakannya, dan masih menjadikan nurani sebagai barometernya, kami pasti bertemu di ujung jalan.

 

Istana Sepi Perjuangan

Yogyakarta, 3 Maret 2020

🔥54
Bagikan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *