Pancasila Dasar Negara atau Ideologi?

Bagikan

Pancasila dasar negara atau ideologi?

Oleh : Saipudin Ikhwan (Bung Boboy)

 

Opini – Setiap tanggal 1 Juni sebagian besar kita memperingati hari lahir Pancasila. Bentuknya berbeda-beda, ada yang membuat kegiatan atau sekadar memposting di media  sosial. Adakah kita bertanya Pancasila itu dasar negara atau ideologi?.

Meskipun ada kelompok yang berpendapat bahwa hari lahir pancasila bukan 1 juni 1945 melainkan 18 agustus 1945. Terlepas perbedaan pendapat yang ada, kita tidak sedang membahas silang pendapat tersebut.

Baca Juga : kita bertemu di ujung jalan

Memaknai Pancasila sebagai ideologi dengan memaknai Pancasila sebagai dasar negara memiliki makna berbeda.

Secara pribadi, saya berpendapat Negara tidak memiliki idelogi. Negara bukan manusia, melainkan sebuah “benda mati”, atau lebih tepat sebuah organisasi. Sedangkan ideologi hidup dalam pikiran dan jiwa manusia yang mengkristal dalam tindakan. Ketika seseorang atau golongan tertentu mendirikan negara dan memegang kendali atas negara, tentu saja apa yang menjadi ideologi mereka akan dijadikan dasar negara, lalu disebut sebagai ideologi negara. Meskipun ada kelompok lain yang sampai mati tidak sepakat dengannya, (ideologi pemegang kuasa negara) tetap saja mau tidak mau mereka yang menolak harus mengakuinya. Jika tidak maka akan dianggap “Melawan Negara”.

Misalnya saja Korea Utara, banyak sekali warga negara yang terpaksa mengikuti aturan (yang disebut sebagai ideologi oleh penguasa).

Misalnya juga, di negara kapitalis seperti Amerika, pernah hidup partai sosialis hingga tahun 1972.

Terbaru misalnya,  di spanyol, hidup Partai Buruh Partido Socialista Obrero Espanol. Di Portugal, Partido Social Democrata (PSD). Di Swedia ada Sveriges socialdemokratiska arbetareparti, dan masih banyak lagi.

Meskipun ‘penguasa” negara menerapkan sebuah dasar yang kemudian disebut sebagai ideologi, tapi yang namanya ideologi hidup dalam pikiran manusia. Siapa yang bisa memenjara pikiran manusia?.

Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis asing, Gusdur pernah berkata :

Kita harus membedakan mana ideologi, mana institusi. Mungkin kita (Negara) bisa melarang organisasi atau partai dengan ideologi tertentu. Tapi kita tidak bisa membubarkan ideologi mereka.

Kita kembali bicara Pancasila.

Jika pancasila sebagai dasar negara, maka kita berbicara pada aspek organisasi sebuah negara, pengambilan keputusan dan sumber aturan / hukumnya.

Akan tetapi jika Pancasila sebagai ideologi, maka kita berbicara sikap setiap individu yang didasari oleh ideologi tersebut.

Orang bisa saja mengakui Pancasila sebagai dasar negara, tetapi secara ideologi bisa saja tidak sepakat (baik sepenuhnya atau sebagiannya). Akan tetapi karena ia hidup di Indonesia, mau tidak mau harus mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun dalam pikiran dan tindakannya sangat bertentangan dengan Pancasila.

Misalnya, contoh yang paling mudah adalah para pejabat yang korup..
Kemana-mana bicara Pancasila, tapi tidak memiliki pri-kemanusiaan yang adil dan beradab.

# jangan bahas pejabat mana yang korup, karena itu hanya contoh saja. Masih banyak contoh lain dalam keseharian kita..

Jadi, di momemtum peringatan hari lahir Pancasila ini saya ingin mengajak kita semua merenung dan berbenah. Benarkah kita masih ber ideologi Pancasila? Atau kita hanya mengakui Pancasila sebagai dasar negara saja. Sehingga praktek pergaulan hidup kita telah jauh dari Pancasila.

Lebih jauh dari itu, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya sebatas meneriakkan Pancasila. Idelogi bukan ilmu retorika, ideologi adalah amaliyah, ideologi adalah pandangan hidup yang menjelma dalam tindakan.

Salam Pancasila!!

 

🔥108
Bagikan

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *