Sepenggal Kisah Indonesia dan Nekolim

Bagikan

“imperialisme lama atau kolonialisme lama itu hanya menyingkir sementara untuk memberi jalan kepada imperialisme dalam bentuk baru atau kolonialisme dalam bajunya yang baru.” Ir, Soekarno.

Nekolim. 10 agustus, tahun 1995 adalah sebuah tanda kebangkitan Indonesia di bidang teknologi khususnya transportasi. Sebuah kebanggaan atas kebesaran Indonesia yang sudah lama sayup-redup hilang terdengar. Hari itu kembali menggema dan nyaring riuh di seluruh penjuru dunia. Terbang indah di udara, pesawat N-250 ciptaan BJ Habibie lepas landas di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Seluruh mata dunia saat itu tertuju pada Indonesia.

Betapa tidak, sebuah negara dunia ketiga bisa menciptakan sendiri pesawat terbang!. Keren bukan?. Siapa yang tidak tau kehebatan N-250?, bisa terbang stabil, teknologi pertama di kelasnya, dan banyak negara antri untuk membelinya. Bahkan menurut banyak pengamat pesawat N250 ini diprediksi akan setara dengan Boeing dan Airbus serta menjadi pesaing berat di pasar Amerika dan Eropa (Prancis, Belanda dan Kanada).

Tapi, kebanggan itu sirna ketika sebuah lembaga kuangan internasional yang bernama IMF (International Monetary Fund) memaksa agar proyek N-250 yang digarap oleh Habibie melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dihentikan. Penghentian itu akibat dari kesepakatan kerjasama IMF dengan Indonesia.

Pada saat itu Indonesia mengalami krisis moneter dan pemerintah membutuhkan pinjaman uang kepada IMF. Salah satu syarat dari IMF adalah: Indonesia akan diberi bantuan namun tidak boleh mengembangkan pesawat sendiri. Mengejutkan, Indonesia tunduk dengan syarat itu.

Hebatkan?, Lembaga keuangan (IMF) bisa membuat Indonesia menerima perjanjian itu, dan yang lebih fantastis lagi, syarat untuk pinjaman adalah menghentikan proyek N-250, pesawat buatan anak negeri. Kisah di atas adalah sedikit gambaran tentang ketidak-mandirian kita dalam politik dan ekonomi.

Siapa IMF itu sebenarnya?

IMF adalah lembaga keuangan Internasional. Lembaga  itu sebenarnya resmi berdiri beberapa saat setelah perang dunia ke 2 berakhir, tepatnya pada 1 maret 1947. Hingga kini tak kurang dari 189 Negara bergabung dengan IMF termasuk Indonesia.

Indonesia, yang baru bangkit dari krisis akibat perang melawan Belanda selama masa revolusi, mengajukan permintaan menjadi anggota IMF dan Bank Dunia pada 24 Juni 1950. Indonesia mendapat pinjaman sebesar US$ 55 juta dari IMF. Akan tetapi karena beberapa tahun bergaul dengan PBB dan IMF soekarno mulai melihat ketidakwajaran dari kebijakan-kebijakan IMF, maka Soekarno membawa Indonesia keluar dari keanggotaan IMF pada 17 Agustus 1965. Sejak saat itu pula Indonesia mulai diterpa oleh berbagaimacam serangan penjajahan gaya baru. (baca:tragedi 1965).

Akan tetapi, ketika Soekarno pada masa kejatuhannya, dan Soeharto naik ke tampuk kekuasaan pada 21 Februari 1967 Indonesia masuk kembali menjadi anggota IMF hingga kini. Tak sampai satu tahun, pada tahun 1967, Undang-Undang Nomor 1 tentang Penanaman Modal Asing disahkan pemerintah. Perusahaan asal Amerika, Freeport merupakan korporasi asing pertama yang memanfaatkan undang-undang tersebut. Setahun kemudian pinjaman IMF cair sebesar US$51,75 juta

Begitulah romantisme tak sehat Indonesia dengan IMF, sebuah lembaga keuangan yang menurut ku telah berkali-kali menjadi penghalang Indonesia untuk maju. Dalih sebagai lembaga donor untuk negara yang membutuhkan, tapi faktanya malah mendikte berbagai kebijakan Indonesia.

Baiklah, kita akan berbicara tentang penjajahan gaya baru atau yang sering dikenal dengan Neo-Kolonialisme. Soekarno menyebutnya  (neo kolonialisme – neo imperialisme), dalam tulisan ini aku menyebutnya bergantian secara tak beraturan.

Aku pribadi mengenal neo kolonialisme secara tidak sengaja, karena ikut dalam sebuah kelompok diskusi pada tahun 2012. Kemudian mulai tertarik mendalaminya karena ada sebuah istilah yang kudengar dari salah seorang pemateri.

Jika ada penjajahan gaya baru, maka harusnya ada perlawanan gaya baru.

Apa benar? Pikirku saat itu. Bukankah penjajahan sudah selesai? Bukannya Indonesia telah merdeka?. Kalau memang ada penjajahan gaya baru, bagaimana metodenya?, dan seterusnya, hingga kepalaku sesak.

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiranku. Akhirnya aku memantapkan diri untuk mencari tau lebih dalam tetang penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme) ini. Izinkan aku membahasnya sedikit di bagian ini.

Jawaban bahwa neo-kolonialisme itu adalah penjajahan gaya baru tidaklah salah. Namun, perlu penjelasan lebih lanjut agar anak Bangsa ini bisa mengerti. Untuk bisa mengetahuinya lebih dalam dan agar kita bisa mengidentifikasi neo-kolonialisme ini secara terang benderang, termasuk cara kerjanya, ada baiknya kita perlu melihat perbedaaan antara kolonialisme lama dan baru.

Ketika negara-negara terjajah mulai bangkit pada akhir dan setelah perang dunia ke 2, kolonialisme lama mulai runtuh. Negara-negara jajahan di berbagai benua mulai merdeka, seperti di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Ketika kolonialisme sudah terpuruk, dan negara-negara terjajah sudah menyatakan kemerdekaannya, apakah mereka bersedia dengan cuma-cuma untuk menyerah, dan memebaskan bekas jajahannya, termasuk Indonesia?. menurutku tidak. Mereka sudah ratusan tahun hidup dari hasil kekayaan yang kita miliki, tidak mungkin dengan begitu saja melepasnya.

“imperialisme lama atau kolonialisme lama itu hanya menyingkir sementara untuk memberi jalan kepada imperialisme dalam bentuk baru atau kolonialisme dalam bajunya yang baru.”
——— Begitulah perkataan Bung Karno.

Kolonialisne baru itu menggunakan cara-cara baru pula untuk membuat negara yang merdeka lemah di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaannya. Politik – Ekonomi- dan Kebudayaan!, itulah yang menjadi fokus dari penjajahan baru.

Jika dulu untuk melemahkan tiga hal di atas mereka menggunakan senjata (militer) dan melakukan pendudukan secara langsung, maka hari ini tidak lagi seperti itu. Pada penjajahan gaya baru, negara “jajahan” bisa saja independen (merdeka) dan bahkan mendapatkan pengakuan Internasional sebagai negara yang berdaulat. Akan tetapi pada prakteknya, sistem politik, sistem ekonomi dan kebudayaan didikte oleh negara asing,: negeri-negeri imperialis.

Penjajahan gaya baru ini benar-benar laten adan nyaris tak tampak alias kasat mata, terutama bagi kita yang tidak mau membaca sejarah dan melihat dunia lebih luas. Penjajahan gaya baru ini terlihat sangat logis, seolah-olah adalah kebenaran yang mau tidak mau harus dipilih.

Motivasi penjajahan gaya baru ini sebenarnya sama persis dengan penjajahan gaya lama, yaitu mengeruk dan mengambil manfaat dari negara jajahan. Bahkan Bung Karno menyebut bangsa-bangsa Eropa dengan mengatakan mereka sebagai “Nyi Blorong” yang artinya seekor ular yang panjang dimana perutnya ada di Eropa tetapi mulutnya bergerak-gerak dari Afrika ke Asia,
menelan apa saja kekayaan sumber daya alam yang ada di kedua benua.

Setelah dramatisnya perang dunia ke 2 berakhir, ditandai dengan kemenangan Amerika dan sekutunya, satu per satu bangsa-bangsa yang dijajah tersebut berhasil merdeka. Ada negara yang merdeka karena perjuangan rakyatnya, ada pula yang diberi kemerdekaan oleh negara yang menjajahnya. Dengan begitu, maka berakhirlah era penjajahan model tradisional yang menghabiskan banyak anggaran dan tenaga.

Mengapa harus ada gaya baru dalam menjajah?.

Itu pertanyaan yang ada di kepalaku saat itu. Jawabannya adalah. Karena semangat rakyat di setiap negara terjajah telah bangkit untuk melawan penjajahan. Mereka sanggup berperang mati-matian, bahkan tidak segan-segan menyerang walupun dengan persenjataan apa adanya. Gelora kemerdekaan rakyat tak bisa dibendung lagi. Para pemuda tak gentar untuk mati, bahkan semboyan mereka adalah, Merdeka atau mati.

Pendudukan langsung dengan militer tidak akan cocok lagi diterapkan ketika semangat nasionalisme bangsa-bangsa terjajah sudah tumbuh. Walaupun sebenarnya negara penjajah bisa saja membumi hanguskan rakyat yang melawan, tapi itu bukan jalan menuju kemenangan yang meraka maksud. Bukankah kita tau tujuan mereka bukan untuk menang saja, tapi mengeruk kekayaan kita.

Jadi, meskipun menang, anak-anak Indonesia yang tumbuh besar akan melanjutkan perjuangan itu, sampai kapanpun, sampai Indonesia benar-benar merdeka. Lagi pula, jika kondisi Indonesia tidak aman, maka penggalian tambang-tambang mereka, perkebunan-perkebunan yang meraka rampas hasil panennya, dan semua pabrik-pabrik yang menjadi urat nadi dan pemenuhan perut mereka tidak akan aman. Sebab akan selalu ada perlawanan dari putra-putri Indonesia yang meneruskan impian nenek moyangnya, yaitu Merdeka.

Kondisi ini tentunya tidak akan menguntungkan mereka. Logikanya, Jika bangsa penjajah masih menerapkan penjajahan model lama maka bangsa-bangsa penjajah itu akan kesulitan dalam menikmati hasil jajahan mereka. Lalu, jika ada cara murah dan tanpa kekerasan untuk menyedot kekayaan dan sumber daya negara lain, mengapa harus menggunakan senjata?.

Nah, disinilah penjajahan gaya baru itu dimulai!.

Negara bekas jajahan itu secara wilayah boleh saja merdeka, akan tetapi secara ekonomi dan ideologi para negara maju menciptakan dan memproduksi berbagai ketergantungan yang tak berujung-pangkal seperti lingkaran setan. Lalu bagaimana cara kita mendeteksi cara bermain penjajahan gaya baru ini?.  Sebenarnya tidak sulit melihat dan merasakan kehadiran penjajahan gaya baru yang sebenarnya sudah sangat kuat hingga ke sendi- sendi terkecil kehidupan kita, seperti budaya konsumerisme, individualisme dan apatisme politik kaum muda. Tetapi akan sulit jika kita terputus dengan sejarah Bangsa kita sendiri.

Tapi intinya, penjajahan gaya baru tidak akan menggunakan cara-cara lama dengan militer lalu menduduki dan menguasai. Akan tetapi cara yang lebih efektif dan efesien, salah satunya adalah dengan membuat aturan. Ya, benar sekali, mereka mempengaruhi pemerintahan suatu negara dengan memasukkan kepentingan-kepentingannya melalui UU.

Selain itu, dalam menjadikan suatu negara itu target operasi, mereka membuat semacam lembaga-lembaga seperti World Bank, IMF, PBB dan yang mengatur perdagangan dunia (WTO). Tujuannya untuk menciptakan sebuah virus ketergantungan satu negara agar mereka mudah mengendalikannya. Kemudian mereka degan mudah memasukkan berbagai macam kepentingannya, terutama menjaga dan memperluas hegemoninnya. Seperti kisah nyata BJ Habibie di atas, hal ini benar-benar terjadi kepada Indonesia. IMF dengan mudah mendikte kebijakan politik dan ekonomi Indonesia.

Ibarat penyakit, penjajahan gaya baru lebih berbahaya dan mematikan dari pada penjajahan model lama. Sebab, kita akan merasa bahwa Indonesia baik-baik saja, kehidupan berjalan dengan baik, namun, tanpa kita sadari penyakit kronis telah menggerogoti bangsa ini hingga habis. Lihatlah, kemiskinan, penguasaan asing atas sumber daya alam kita, lemahnya karakter bangsa, pendidikan yang malah membuat kita bodoh, pemuda yang telah dipercundagi dengan berbagai bentuk hiburan, dan terputus dari sejarah bangsanya.

Penjajahan gaya baru telah menghipnotis kita dalam ketenangan. Secara fisik Indonesia aman dan terbebas dari peperangan. Namun, faktanya segala aturan yang ada tidak terlepas dari rancangan penjajah. Lewat agen-agennya: penguasa, antek penjajah, maupun LSM yang didanainya. Bung Karo menyebut mereka dengan istilah KOMPRADOR. Begitulah sepenggal kisah Indonesia dengan Nekolim. Sejarah mencatatnya sebagai sebuah lembaram kelam yang hingga kini masih terus berjalan.

🔥51
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *