Budaya Literasi Kader Harus di Tingkatkan

GKRM
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Bagaimana bisa memperjuangkan harkat martabat hidup kaum marhaen Jika para kader buta huruf fungsional dan tidak memiliki kemampuan literasi?.

Budaya literasi yang rendah adalah ancaman serius bagi gerakan. Gerakan akan selalu menemukan persoalan, terutama yang berkaitan dengan cita-cita sosialisme. Oleh sebab itu seluruh kader harus benar-benar meningkatkan budaya literasi di semua level gerakan. Sebab fakta yang ada sangat mengejutkan. Menurut world Bank (2018), sebanyak 55% orang Indonesia mengalami buta huruf fungsional. Angka ini jauh lebih besar dari negara seperti vietnam yang hanya 14%. Fakta ini satu sisi menjadi sebuah monster yang mengerikan, tapi pada sisi yang lain, tidak ada pilihan lain selain melawannya.

Sebelum kita lebih jauh membahas asumsi diatas, ada baiknya kita preteli dulu apa itu buta huruf fungsional dan makna literasi sebenarnya.

Buta huruf fungsional adalah ketidakmampuan seseorang menangkap informasi dari apa yang dibaca. Menyedihkan bukan?.

Padahal menurut data Badan Pusat Statistik, sepanjang tahun 2003-2017 jumlah masyarakat Indonesia (usia 15 tahun keatas) yang melek huruf (bisa membaca) selalu naik hingga  sampai 95,5%. Artinya kemampauan membaca tidak berbanding lurus dengan kemampuan literasi.

Apa itu literasi?

Bukan, literasi hari ini bukan sekedar membaca. Gerakan literasi bukan sekedar memajang buku-buku di pinggir jalan. Gerakan Literasi bukan sekedar Pustaka keliling. Perpustakaan daerah atau dinas arsip dan perpustakaan harusnya tidak sekedar mengadakan buku.

Memang secara etimologis istilah literasi sendiri artinya adalah orang yang belajar. Literasi sangat berhubungan dengan proses membaca. Tapi apakah benar semua orang yang membaca sudah pasti belajar? Sudah pasti menganalisa?, belum tentu!.  Itulah mengapa kemampuan membaca tidak  selalu berbanding lurus dengan kemampuan literasi.

Ada banyak kasus kita melihat seseorang membaca tapi kesulitan menangkap informasi dari tulisan tersebut.  Harusnya melalui membaca itu kemudian seseorang kader memiliki perspektif yang baru. Kemudian juga membuat karya untuk memecahkan persoalan rakyat.

Oleh karena itu, gerakan literasi harus merangsang setiap orang untuk mengetahui persolaan yang mereka hadapi, lalu memiliki kemampuan untuk mencari informasi terkait persoalan itu melalui proses membaca. Hasil bacaan tersebut dianalisis dan diimajinasikan. Pada akhirnya mendapatkan kesimpulan yang benar untuk menyelesaikan persolaan yang dihadapi.

Jika kita tarik persolaan minimnya kemampuan literasi ini ke ranah perjuangan, maka akar persoalan rakyat akan sulit  ditemukan oleh kader. Hal ini disebabkan karena analisis sosial (penyelidikan sosial) tidak akan membuahkan hasil jika  kemampuan literasi kader  buruk.

Lebih parah dari itu, kader akan kesulitan menemukan makna (informasi penting) dari proses membaca. Buku-buku wajib kaderisasi (sejarah, teori-teori perjuangan, dan pemikiran tokoh) misalnya, disana mengharuskan adanya proses berpikir analisis dan kritis oleh pembacanya (kader).

Jadi bagaimana bisa memperjuangkan harkat martabat hidup kaum marhaen Jika para kader buta huruf fungsional dan tidak memiliki kemampuan literasi?.

Berdasarkan kanyataan tersebut, kita harus meningkatkan kemampuan literasi kader. Tegakkan kembali perpustakaan sebagai instrumen penting perjuangan. Asah daya nalar kader, kembangkan kemampuan analisis kritis mereka. Rangsang kemampuan imajinatif dari hasil berpikir analisis-kritis tersebut. Dengan begitu akan lahir kader yang progresif dan revolusioner seperti yang dikatakan Bung Karno.

Tegakkan kembali perpustakaan!. Cam kan itu!.

 

Penulis Merupakan
Ketua Umum GKRM

(Gerakan Kebangkitan Rakyat Marhaen)

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...

One thought on “Budaya Literasi Kader Harus di Tingkatkan”

Komentar