Filantropi Marhaenisme

Bagikan Tulisan Ini Bung...

 

Marhaenisme. Hakikatnya manusia memiliki rasa  empati terhadap sesama. Sedangkan filantropi adalah rasa empati yang menjelma menjadi tindakan untuk menolong sesama. Filantropi ini juga menjelma sebagai gerakan kolektif berbentuk orangisasi. Di Indonesia kelompok filantropi yang paling terkenal dan aktif adalah Aksi Cepat Tanggap (ACT). Gerakan filantropi ACT  tidak hanya di Indonesia, bahkan juga luar negeri, khususnya Palestina.

Sayangnya, gerakan filantropi di Indonesia kebanyakan hanya filantropi temporer, miskin konsep, jangka pendek, tanpa pendapingan. Padahal sistem ekonomi dan kebijakan juga berkonstribusi atas kesusahan hidup masyarakat.  Kemiskinan yang terjadi akibat sistem ekonomi yang tidak adil ini tidak mungkin selesai dengan filantropi temporer yang cendrung narsis itu. Filantropi temporer  hanya akan menyuburkan rasa malas, melahirkan kebiasaan bertadah tangan berharap belas kasihan orang lain.

Sebagai contoh saja, ada seorang yang memerlukan bantuan (sebut saja mawar) hidup dibwah garis kemiskinan karena tidak memiliki akses pengetahuan  dan akses pasar . Kemudian hadirlah  kelompok filantropi menggalang dana untuk membantu Mawar. Dari hasil galang dana tersebut, kelompok filantropi itu memberi Mawar bantuan berupa uang dan sembako seperti beras, telur, minyak dan kebutuhan lain.  Mawar sangat senang, dan dapat hidup satu bulan kedepan dengan sembako yang dihibahkan padanya. Kelompok filantropi itupun berfoto ria mengekspresikan kebahagiaan karena telah membantu sesama. Akan tetapi, setelah sembako itu habis, Mawar bingung dan kembali bertadah tangan berharap belas kasihan orang lain. Begitulah cara kerja filantropi temporer.

 

Marhaenisme dan filantropi

Marhaenisme adalah suatu konsep pemikiran yang lahir dari the founding father kita, Bung Karno. Perlu dibedakan pula antara Marhaenisme, Marhaenis, dan Marhaen.

Marhaenisme adalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia atau bangsa atas bangsa. Marhaenis adalah orang-orang yang sepakat dengan konsep Marhaenisme dan memperjuangkan orang-orang yang dimiskinkan oleh sistem yang menindas. Marhaen adalah orang-orang yang memiliki alat produksi sendiri, berkerja untuk dirinya sendiri, tidak mempekerjakan orang lain, menikmati hasil produksinya sendiri, tapi dimiskinkan oleh sistem yang menindasnya.

Filantropi hakikatnya adalah gotong royong, bahu membahu untuk memenuhi kekurangan orang lain dengan apapun yang dimiliki oleh si penolong. Jelas, bahwa Filantropi adalah ruh dari pada Marhaenisme.

Lalu apa itu Filantropi Marhaenisme?

Filantropi Marhaenisme tidak seperti filantropi temporer yang sekedar memberi bantuan dan berfoto ria lalu pergi. ia merupakan satu kerja ideologis untuk membebaskan setiap manusia dari sistem ekonomi yang tidak adil. Filantropi dalam marhaenisme harus  dibekali  pendampingan dan pengorganisiran hingga orang yang dibantu mampu berdiri diatas kaki sendiri.

Sebagai contoh, ada seorang yang miskin membutuhkan bantuan, kita sebut saja namanya Bintang. Kemudian hadirlah kelompok filantropi menggalang dana untuk membantu Bintang. Dari hasil galang dana tersebut, kelompok filantropi itu membeli alat produksi dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat makanan (kue misalnya) untuk dihibahkan kepada Bintang. Lalu kelompok filantropi itu membina Bintang untuk membuat kue yang akan dijual dan hasil dari penjualan tersebut sepenuhnya menjadi hak Bintang. Setelah dibina, kelompok filantropi tersebut mengorganisir Bintang untuk menyatu dengan para pedagang kue lainnya untuk membentuk sebuah koperasi. Dimana koperasi tersebut yang menjadi garda terdepan memenuhi kebutuhan bahan baku kelompok usaha kue bintang dan anggota koperasi lainnya.

Nah, inilah yang disebut filantropi marhaenisme. Filantropi yang dibekali dengan pendampingan dan pengorganisiran untuk menjadi satu kesatuan kekuatan kolektif.

🔥105

6 thoughts on “Filantropi Marhaenisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *