Salah Satu Buku yang Wajib Dibaca oleh Soekarnois

Bagikan Tulisan Ini Bung...

Selain buku DI BAWAH BENDERA REVOLUSI, masih banyak buku tentang Bung Karno yang terbilang monumental. Salah satunya adalah otobiografinya yang ditulis penulis cantik asal Amerika Serikat, Cindy Adams. Buku itu berjudul: BUNG KARNO, PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA (BK PLRI). Ini merupakan salah satu buku wajib dibaca oleh mereka yang mengaku anak ideologis Bung Karno.

Buku BK PLRI ini terbit pertama tahun 1966. Kemudian mengalami cetak ulang hingga enam kali, masing-masing tahun 1982, 1984, 1986, 1988, dan 2000. Bisa jadi, terus dan terus dicetak untuk memenuhi permintaan khalayak, khususnya pecinta Bung Karno. Bahkan, bahasa Inggris dan Indonesia, buku BK PLRI ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Jepang, dan Cina.

Melalui otobiografi ini, kita bisa mengetahui segala sesuatu menyangkut diri Bung Karno, seperti masa remajanya, masa muda, pendidikannya, perjuangannya, pengalaman-pengalamannya, serta ide-ide yang cemerlang. Bung Karno di sini banyak bercerita tentang manusia, persahabatan, agama, dan cinta. Bahkan sisi-sisi privasi Bung Karno juga diungkap di sini, seperti komentarnya ihwal kepergian Ibu Negara Fatmawati dari Istana.

Buku setebal 500 halaman ini, memuat 33 judul, plus indeks dan ilustrasi. Adapun ke-33 judul itu adalah:

  1. Alasan Menulis Buku ini
  2. Putera Sang Fajar
  3. Mojokerto: Kesedihan di Masa Muda
  4. Surabaya: Dapur Nasionalisme
  5. Bandung: Gerbang ke Dunia Politik
  6. Marhaenisme
  7. Bahasa Indonesia
  8. Mendirikan PNI
  9. Masuk Tahanan
  10. Penjara Banceuy
  11. Pengadilan
  12. Penjara Sukamiskin
  13. Keluar dari Penjara
  14. Masuk Kurungan
  15. Pembuangan
  16. Bengkulu
  17. Pelarian
  18. Jepang Mendarat
  19. Pendudukan Jepang
  20. Kolaborator atau Pahlawan?
  21. Puteraku yang Pertama
  22. Berapa Harganya Kemerdekaan
  23. Permulaan Daripada Akhirnya
  24. Perundingan di Saigon
  25. Diculik
  26. Proklamasi
  27. Revolusi Mulai Berkobar
  28. Berperang Melawan Belanda
  29. Bangka
  30. Masa Mempertahankan Hidup
  31. Masa Perkembangan
  32. Sukarno Menjawab
  33. Renungan

Semua judul sangat menarik, sangat kuat, dan sangat menyentuh. Sebuah penuturan sejarah Indonesia dalam bingkai otobiografi. Tidak melelahkan membacanya. Apalagi Cindy Adams banyak menggunakan kutipan langsung. Anda tahu kan, bagaimana seorang Sukarno berkata-kata? Sangat puitis, sangat cerdas, dan bernas. Dalam setiap detail yang ia ceritakan, selalu saja dapat mengaduk-aduk emosi pembacanya.

Baiklah, saya kutipkan beberapa paragraf terakhir dalam judul yang pertama (Alasan Menulis Buku ini):

…. Dan begitulah, waktunya sudah datang. Kalau aku hendak menuliskan kisahku, aku haus mengguratkannya sekarang. Mungkin aku tidak mempunyai kesempatan nanti. Aku tahu, bahwa orang ingin mengetahui apakah Sukarno seorang kolaborator Jepang semasa Perang Dunia Kedua. Kukira hanya Sukarno yang dapat menerangkan periode kehidupannya itu dan karena itu ia bersedia menerangkannya. Bartahun-tahun lamanya orang bertanya-tanya, apakah Sukarno seorang Diktator, apakah dia seorang Komunis; mengapa dia tidak membenarkan kemerdekaan pers; berapa banyak istrinya; mengapa dia membangun departemen-store-departemen store yang baru, sedangkan rakyatnya dalam keadaan compang-camping…..

Hanya Sukarno sendiri yang dapat menjawabnya.

Ini adalah pekerjaan yang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan mental bagiku. Sungguh berat. Menyobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, memang sakit –sekalipun banyak di antarnya yang sudah mulai sembuh. Tambahan lagi, aku akan melakukannya dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku membuat kesalahan dalam tata-bahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa agak kaku.

Akan tetapi, mungkin juga aku wajib menceritakan kisah ini kepada Tanah Airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku dan kepada diriku sendiri. Karenanya kuminta kepadamu, pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati. Buku ini ditulis tidak untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapan hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia yang tercinta. 

Sumber : rosodaras

Komentar