9 “Pamali” Orang Banjar yang Berhubungan dengan Kehamilan

Bagikan Tulisan Ini Bung...

Sebagian orang banjar, khususnya generasi muda, banyak yang tidak lagi mengenal pamali. Padahal pamali adalah sebuah khazanah budaya banjar yang mesti kita jaga. Termasuk 9 pamali yang akan dibahas di bawah ini.

Meskipun terkadang pamali terkesan tidak masuk akal, akan tetapi sama sekali tidak membawa sesuatu yang buruk. Bahkan kebanyakan pamali mengandung manfaat, hanya saja kita yang belum bisa mencernanya.

Berikut kita rangkum 9 pamali yang berkaitan dengan kehamilan.

Pertama

Babinian nang masih datang bulan pamali mamakan amas hintalu ayam nang ada di dalam parut ayam nang disumbaleh, bisa kana panyakit batianan anggur.

(Perempuan yang masih haid jangan memakan kuning telur ayam yang ada di dalam perut ayam saat disembelih, nanti kena penyakit hamil anggur).

Pamali ini  menyatakan larangan bagi perempuan yang masih haid agar jangan memakan kuning telur ayam yang masih ada berada di dalam perut ayam. Sebab jika ia  memakannya bisa kena penyakit  hamil  anggur  (kehamilan  di  luar  rahim).

Orang Banjar menganggap kalau kuning telur ayam yang masih berada di dalam perut ayam, bentuknya mirip dengan rentengan buah anggur.  Akhirnya muncul sugesti  bahwa jika  seseorang (perempuan yang belum menikah) memakan kuning telur ayam tersebut akan mengakibatkan kehamilan anggur.

 

Kedua

Urang batianan pamali memakan pisang kambar, bisa kambar anaknya. 

(orang hamil pantang makan pisang kembar, bisa kembar anaknya).

Pisang kembar biasanya bentuknya dempet. Jika wanita yang sedang hamil memakan pisang kembar, maka anak yang ada dalam kandungannya  juga akan kembar  dempet (kembar siam).

Sebenamya larangan memakan pisang kembar ini tidak  terbatas pada perempuan hamil saja, ada sebagian penutur pamali yang menujukan larangan memakan pisang kembar  ini kepada perempuan yang masih gadis (belum menikah).

 

Ketiga

Urang batianan pamali bajalan malam, digangu urang halus. 
(Orang hamil jangan keluar malam, diganggu makhluk halus).

Wanita hamil dilarang keluar malam sebab jika keluar  malam akan diganggu makhluk halus. Masyarakat Banjar  percaya bahwa pada malam hari merupakan saat dimana  makhluk halus keluar dari persembunyiannya.

Mereka  percaya bahwa makhluk-makhluk halus tersebut sangat  senang dengan orang hamil. Menurut kepercayaan  masyarakat Banjar, bau tubuh orang hamil sangat disukai  oleh makhluk halus, karena itu jika ada orang hamil yang  keluar malam akan diganggu makhluk halus makhluk gaib.

Keempat

Urang batianan pamali barabah di gaguling, anaknya bisa tahalang.
(Orang hamil  jangan berbaring di guling, anaknya tidak bisa keluar karena posisinya melintang).

jika dikaitkan dengan adab,  memang kurang pantas seseorang berbaring di guling,  sebab fungsi guling bukan sebagai alas untuk berbaring.

Kelima

Urang batianan pamali makan sambil badiri. pas baranak bisa tabahira.
(Orang hamil jangan makan sambil berdiri, saat melahirkan  bisa buang air besar).

Jika dikaitkan dengan adab, kurang pantas  seseorang makan sambil berdiri, apalagi jika makan  sambil berdiri itu dilakukan oleh wanita yang sedang hamil.

 

Keenam

Urang batianan pamali mambuang ratik di lubang, bisa  ngalih baranak.
(Orang hamil jangan membuang sampah di lubang, bisa  sulit melahirkan).

Lubang dalam konteks pamali tersebut adalah lubang yang  terdapat pada lantai rumah. Membuang sampah di lubang  memang kurang baik ditinjau dari segi kebersihan, apalagi  jika sampah tersebut sampai menumpuk di kolong rumah.

Ketujuh

Urang batianan pamali mangucup tulang, kaina anaknya bisa dihisap buyu.
(Orang hamil  jangan mengulum tulang, nanti anaknya bisa diisap buyu).

Pamali ini menyatakan larangan bagi perempuan yang  sedang hamil untuk mengulum tulang, nanti anaknya akan  bertubuh kurus seperti orang kena penyakit busung lapar.

Orang Banjar  percaya bahwa jika seorang perempuan  yang sedang hamil senang mengulum tulang, maka anak  yang ada di dalam perutnya akan kurus seperti tulang.

Kedelapan

Urang batianan sabalum tujuh bulan pamali batukar  barang sagan anaknya, anaknya bisa mati.
(Perempuan yang usia kandungannya belum cukup tujuh  bulan jangan membeli berbagai keperluan bayi, nanti  anaknya bisa mati’.

Pamali ini menyatakan larangan membeli berbagai  keperluan bayi jika usia kandungan belum mencapai usia  tujuh bulan.

Membeli keperluan bayi pada usia kandungan di bawah  tujuh bulan dikhawatirkan akan sia-sia, sebab pada usia  kandungan di bawah tujuh bulan tersebut masih rentan  terhadap bahaya keguguran.

Kesembilan

Pamali mambalah kayu pas bini batianan, kaina anaknya sumbing.
(Jangan membelah kayu saat isteri sedang hamil, nanti anaknya bisa sumbing)

Pamali ini ditujukan kepada suami yang istrinya sedang hamil. Pamali ini  menyatakan larangan bagi laki­-laki agar tidak membelah kayu saat isterinya sedang hamil . Sebab jika larangan itu dilanggar, anak yang ada di dalam  kandungan isterinya itu nanti akan sumbing.

Nah, itulah tadi 9 pamali suku Banjar yang berkaitan dengan kehamilan yang berhasil dirangkum oleh tim riset trisila.com. Semoga Bermanfaat ya..

Komentar