Teori Perjuangan Marhaenisme

Teori Perjuangan Marhaenisme Bung Karno
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Jangan jadi marhaenis gadungan, jadilah marhaenis sejati. Jangan hanya bicara dan menulis tentang marhaenisme tapi tidak mempraktekkannya dalam perjuangan.

Teori perjuangan marhaenisme. Ketika kita berbicara marhaenisme, jangan hanya bicara bahwa marhaen itu adalah nama seorang petani yang dijumpai oleh Soekarno. Itu tidak salah, tapi dalam konteks perjuangan, itu bukan hal yang penting. Bahkan kalaupun itu hanyalah cerita rekaan Bung karno, juga tidak masalah. Boleh saja itu dibicarakan, tapi untuk mereka yang mungkin baru mencari tau apa itu marhaenisme. Bagi kalian yang mengaku anak ideologis Bung Karno, tidak semestinya masih bicara marhaen adalah nama seorang petani yang dijumpai Bung karno.

Baca Juga : Soekarno Sebagai Ideoligi Terus Tumbuh di Penjuru Nusantara

Teori Perjuangan Marhaenisme

adalah teori perjuangan untuk mencapai sosialisme Indonesia. Marhaneisme bukan sekedar teori politik, tetapi bagaimana teori untuk mempersatukan kaum marhaen. Siapa itu marhaen?, marhaen adalah mereka yang hidupnya melarat dan terdindas oleh sistem kapitalisme.

Untuk memahami marhaenisme setidaknya kita harus memahami Marxisme, Kapitalisme dan Indonesia itu sendiri. Dalam pidatonya Bung Karno pernah mengatakan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan dengan Indonesia. Seperti pula yang kita ketahui bahwa lawan dari segala bentuk perjuangan marhaenisme adalah sistem yang menindas (Kapitalisme). Lalu, ujung dari pada itu adalah menuju Sosialisme Indonesia.

Yang perlu ditekankan, Marxisme berbeda dengan marhaenisme. Meskipun memiliki perbedaan, akan tetapi memiliki kesamaan, yaitu dalam hal memusuhi kapitalisme dan metode berpikir(Baca:Materialisme, Dialektika, Historis). Jika Marxisme berniat ingin membeskan Ploletar (buruh) dari penindasan Borjuis (kapitalis), maka Marhaenisme bercita-cita memperbaiki taraf kehidupan Marhaen, yang di dalamnya termasuk juga ploletar. Soekarno menjelaskan bahwa marhaen adalah kaum melarat, baik itu buruh atau bukan. Mereka yang melarat disebabkan oleh sistem.

Baca Juga : Filantropi Marhaenisme

Soekarno dalam pidatonya pernah berkata :

“Bahwa satu- satunya jalan untuk menghancur leburkan imperialisme Belanda di Indonesia ialah revolutioner massa-actie dari pada kaum Marhaen.  Dari pada semua orang melarat, orang kecil, gabungkan menjadi dari pada kaum Marhaen, Dari pada semua orang melarat, orang kecil. Gabungkan menjadi satu gelombang yang maha sakti, satu gelombang revolusioner atau radikal,  di hantamkan kepada imperialisme Belanda itu secara massa aksi yang hebat dan berdentam-dentam”.

Jelas bahwa dalam prakteknya, marhaenisme itu mengorganisir kekuatan marhaen untuk menjadi satu massa aksi yang revolusioner. Dimana energi dari kaum marhaen yang sudah terorganisir ini langsung menghantam sistem yang menindas ini. Akan tetapi, jangan maknai kata menghantam ini secara fisik!. Ingat, yang dilswan oleh marhaenisme adalah sistem,.

Baca Juga : Asas, Asas Perjuangan dan Taktik dalam Marhaenisme

Sebagai ilustrasi saja :

Pada satu pasar ikan, ada seorang preman yang memonopoli jalur masuk dan keluarnya ikan dari nelayan kepada pedagang pasar. Nelayan terpaksa menjual murah hasil tangkapannya kepada preman itu karena tidak ada pedagang yang berani membeli langsung kepadanya. Semua pedagang takut dengan preman itu. Akhirnya nelayan kekurangan pendapatan dengan jumlah cukup besar.

Contoh :

Harga Jual Ikan dari Nelayan kepada Preman 8.000 / kg.
Preman jual ke pedagang 15.000 /kg. 
Pedagang jual ke pembeli (masyarakat) 17.000 /kg.

Terjadi penindasan atas nelayan karena sistem perdagangan yang tidak adil. Jelas bahwa penindas adalah Preman. Bukan berarti kita memobiliasi nelayan untuk menghantam preman dalam artian fisik.

Katakanlah kita membentuk koperasi nelayan, dan membentuk koperasi pedagang. Sehingga tidak lagi nelayan menjual perseorangan kepada perseorangan pedagang, melainkan sudah melalui lembaga resmi yang memiliki kekuatan hukum. Dalam proses perjuangan inilah metode berpikir marhaenisme itu berjalan. (Baca ; Materialisme, Dialektika, Historis)

Maka, jangan lupa, bahwa lawan marhaenisme itu adalah sistem. Jika dulu yang menindas itu adalah sistem imperialisme-kolonialisme. Sekarang bahkan kebijakan seorang bupati yang religius saja masih punya kemungkinan menindas. Sistem bisnis yang kita jalani juga berpotensi menindas kaum marhaen. Oleh sebab itu, berpikir kritis saja tidak cukup, tapi juga harus analitis.

Jadilah marhaenis sejati, yang tidak hanya bisa bicara dan menulis tentang marhaenisme. Akan tetapi juga terus menerapkan marhaenisme itu. Sebab Marhaenisme  Soekarno adalah teori perjuangan, yang mengharuskan itu turun kewilayah praktis. Ideologi itu adalah amaliyah, bukan sekedar konsep.

Baca Juga : Marhaenisme, Asas Perjuangan yang Relevan Sampai Hari ini

Bung Karno pernah berkata.

Perjuangan ini jangan lupa, Saudara-saudara, Marhaenisme adalah teori perjuangan. Perjuangan ini jangan lupa,  Saya enggak memerlukan orang cuma teori-teorian. Lah mbok Saudara-saudara itu sampai  jambul-wanen tentang hal Marhaenisme, tahu perkataan Marhaen itu adalah yaitu, Marhaen is adalah ini, ini, ini, tetapi kalau saudara tidak menterapkan, menterapkan Marhaenisme itu dalam perjuangan dan tidak ikut berjuang, maka saudara bukan Marhaenis sejati.

Marhenisme Soekarno adalah teori perjuangan. Bukan sekedar teori belaka, tapi teori untuk melaksanakan perjuangan. Teori Perjuangan Marhaenisme.

 


Jika kalian ingin menyumbangkan tulisan untuk dipublikasikan melalui website Trisila.COM ini, silahkan mengirimkan tulisannya ke email trisila.news@gmail.com atau ke WhatsApp (085272242829).

 

Penulis adalah Ketua Umum 
Gerakan Kebangkitan Rakyat Marhaen

Teori Perjuangan Marhaenisme

8 thoughts on “Teori Perjuangan Marhaenisme

Komentar