Gotong Royong, Upaya Melawan “Cicitnya” Kapitalisme

gotong royong
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Gotong Royong adalah catatan masa lalu yang sirna tergerus zaman, sedang aku disini merindu akan hadirnnya. Akankah harumnya dapat kembali kurasakan seperti sedia kala.  Senja telah membawanya pergi dan tanpa disadari kami melangkah menjauhinya. Gotong royong, dimana kau kini?.
– Saipudin Ikhwan –

Gotong royong. Indonesia adalah negara yang  memiliki budaya kolektif tinggi.  Sejak dulu, bahkan jauh sebelum Indonesia Merdeka, nenek moyang kita terbiasa saling bahu membahu dan tolong menolong dalam memecahkan persoalan. Mulai dari persoalan kecil hingga besar, seperti membangun rumah, membersihkan kebun, membangun jalan bahkan melawan penjajah.  Tapi sepertinya sekarang semua itu telah memudar. Individualisme telah menyerang urat nadi Bangsa Indonesia.

Sebagai seorang nasionalis, apa lagi menjadi seorang marhaenis, membangun budaya gotong royong adalah upaya melawan “cicitnya” kapitalisme. Budaya individualis yang bahkan menjadi Ideologi, muncul secara bersamaan dengan Kapitalisme. Oleh sebab itu, membangun budaya gotong royong sama dengan membangun budaya kolektif yang secara langsung berhadap-hadapan dengan budaya individualis.

Amerika misalnya, meskipun ditempati  oleh manusia yang beragam latar belakang, tapi masyarakatnya menganut budaya  dan nilai yang sama, yaitu Individualisme.

Dalam penerapan yang lebih spesifik, individualisme memengaruhi cara dan pola pikir masyarakat Amerika dalam segi ekonomi. Masyarakat AS berkeyakinan bahwa kesuksesan dan kegagalan ekonomi seseorang adalah tangungjawab dirinya masing-masing, bukan tanggung jawab kelompok. Hal ini dikatakan Robert Bellah at al. (1996) dalam Hess (2003: 275).

Nilai individualisme akan  mendorong kita hanya memikirkan hidup sendiri tanpa memikirkan orang lain. Karena Kapitalisme  dengan segala bentuknya yang eksploitatif akan membuat kita  percaya bahwa kita berada di tengah masyarakat yang kompetitif,  sehingga kita terus  berlomba untuk mendapatkan kesuksesan tanpa memikirakan orang lain.

Baca Juga : Marhaenisme Adalah Teori Perjuangan

Hal ini berbeda dengan masyarakat kolektif.

Masyarakat kolektif sangat peduli dengan  hal dan peristiwa yang dialami kelompoknya. Seseorang bahkan bisa tersinggung berat hanya karena tidak diundang anggota lainnya dalam agenda nongkrong.

Berbeda dengan masyarakat  individualis yang hanya memikirkan kesuksesannya sendiri. Masyarakat kolektif bahkan memikirkan bagaimana temannya yang pengangguran agar bisa mendapat pekerjaan. Meskipun terkadang pekerjaan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan keahliannya. Masyarakat kolektif merasa tidak nyaman jika seseorang anggota kaya raya sedangkan ada anggota lain yang kekurangan. Maka dengan kerelaan penuh si kaya harus memberikan perhatian kepada teman-teman yang berbeda nasib dengannya, memberi bantuan atau memberi/mencarikan pekerjaan yang menghasilkan uang.

Baca Juga : Pentingnya Budaya Literasi Kader

Hal ini jika kita tarik lebih jauh dalam medan perjuangan, kita akan menemukan satu hubungan yang erat antara gotong royong (kolektif) dengan perjuangan membela marhaen. Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat bukan karena mereka malas, akan tetapi karena adanya sistem yang menindas.

Masyarakat yang lemah tidak boleh dibiarkan bertahan dengan sulitnya hidup sendirian, mereka harus disatukan menjadi sebuah kekuatan. Kolektifitas (semangat gotong-royong) menjadi syarat utama untuk membuat mereka lepas dari “penjajahan” yang menyebabkan mereka berada pada garis kemiskinan.

Baca Juga : Soekarno Sebagai Ideologi

Kapitalisme melahirkan dorongan “menjadi kaya” sebagai cita-cita tertinggi hidup, seolah dunia ini selamanya.  Sehingga menimbulkan budaya kompetisi yang kebablasan. Hal itulah pada akhirnya menjadi faktor utama berkembangnya budaya Individualisme yang jelas bertentangan dengan Budaya Indonesia.

Ingat!, Negara ini dibentuk tidak hanya untuk mereka yang pintar dan bisa bersaing, tetapi juga untuk seluruh masyarakat dan segenap bangsa Indonesia. Indonesia bisa merdeka karena para pendiri bangsa tidak hanya memikirkan kejayaan dirinya sendiri, tapi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga : Langkah-Langkah Mengorganisir Rakyat

Maka teruslah bangun budaya gotong-royong, gempur secara masif dan total budaya individualisme dalam tubuh masyarakat kita. Bangun gotong royong dalam hal ekonomi,  politik dan apa-apa yang menjadi persoalan rakyat. Mulai dari tubuh organ-organ gerakan, masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bangun budaya itu!.

 

Penulis Merupakan  Ketua Umum
Gerakan Kebangkitan Rakyat Marhaen

 

2 thoughts on “Gotong Royong, Upaya Melawan “Cicitnya” Kapitalisme

Komentar