Nelayan Parit 6 : Puluhan Tahun Menjadi Nelayan

Nelayan
Bagikan Tulisan Ini Bung...

BKampung Nelayan penuh dengan cerita inspirasi. _Muhammad Fiqry

Nelayan. Kuperkenalkan dua warga tangguh, dia adalah Pak Pendi dan Pak Arbain. Bertemu dengannya adalah satu anugerah bagi pemuda sepertiku, aku belajar dari keikhlasan mereka menjalani hidup. Ikhas, bukan pasrah!.

Saat itu, Pak Pendi sedang membuat Pompong.

Darinya aku mengerti satu hal, ternyata nelayan itu juga ada pembagiannya. Sama seperti petani juga, ada petani kelapa, petani sawit, petani pinang. Nelayan juga begitu, ada nelayan gumbang, jaring, Belat dan lainnya.

Pak Pendi adalah Nelayan gumbang. Nelayan Gumbang hanya turun satu hari sekali karena mengikuti waktu pasang surut. Saat surut mereka  memasang jaring, dan sampai waktunya air pasang, jaring mereka angkat.

Baca Juga : Gotong Royong, Upaya Melawan “Cicitnya” Kapitalisme

Pak Pendi adalah gambaran dari teguhnya hati rakyat.

Tak luntur semangat, tak hancur harapan. 
Lima belas tahun menjadi nelayan setia menghadang badai,
panas dingin udara sungai sudah ia rasakan.
Satu keluhpun tak pernah ia ucapkan.
Teguh kokoh jiwa batinnya.
Membiayai keluarga adalah pusat ambisinya.

Kemudian aku bertemu Pak Arbain, seorang senior nelayan gumbang.  Dua puluh tahun menjadi nelayan, tentu banyak kisah yang ia sembunyikan. Kerut pada wajahnya melukiskan betapa keras hidup yang ia lewati, bahkan senyumnya pun menyimpan sejuta rahasia.

Hatiku luruh ketika ia bercerita pahit manis pengalamannya di laut. Kadang pendapatannya banyak kadang sedikit. Bahkan pernah hanya mendapatkan setengah kilogram udang. Itu pun kecil kecil, hanya sekitar 15.000 rupiah saja.


Tapi Pak Arbain menerimanya dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Namanya juga Rejeki sudah diatur Allah, hari ini sikit, mungkin besok banyak, syukuri saja. Begitu kata Pak Arbain.

Dari 2 orang yang kami temui itu, hati ku berdecak kagum, sungguh perjuangan hidup yang keras telah membentuk karakter yang kuat.

Dalam hati ku berkata.

“Ingin sekali rasanya aku ikut membantunya mencari ikan. Sehingga Aku merasakan deru angin malam dan terik matahari yang mengkilat”.

Tapi tentunya kagum, salut saja tak cukup.

Sebagai pemuda perlu kita serap dan ambil pelajaran darinya. Bahkan memberikan solusi solusi kecil untuk mereka.  Mereka adalah Marhaen seperti yang dikatakan Bung karno.

Baca Juga : Banjir Tembilahan Diharapkan Masuk TOP 10 Wisata Riau

Tak hanya itu, ada juga cerita yang menarik dibalik itu ketika ketika kami disana. Kami bertemu dengan ibu ibu yang sedang memisahkan badan dengan kepala undang (menyiang udang).

Setelah berbincang bincang  dengan mereka, akhirnya kami tahu bahwa yang sedang dikerjakan mereka adalah hasil tangkapan udang dari bapak bapak nelayan gumbang disana serta ibu ibu yang menyiang udang tersebut mendapatkan upah dari kerjanya.


Cerita yang singkat di sore hari yang penuh berkat.

Ya Allah, murahkanlah rezeki mereka, berikannlah kami kekuatan untuk bangkit bersama mereka, Izinkan kami menjadi bagian dari mereka. 

Inspirasi kecil dari nelayan parit 6,
Tembilahan. 12 Desember 2020.

2 thoughts on “Nelayan Parit 6 : Puluhan Tahun Menjadi Nelayan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.