Strategi Pengembangan SDM Perpustakaan

Bagikan Tulisan Ini Bung...

Strategi Pengembangan SDM Perpustakaan

Strategi Pengembangan SDM Perpustakaan dapat dilakukan melalui proses  pendidikan. Baik secara formal mapunun non-formal dibidang perpustakaan, atau bahkan pendidikan informal yang lebih mengarah  kepada pengembangan diri dari pustakawan sendiri.

Pendidikan Formal

Pendidikan formal adalah sarana bagi seorang pustakawan atau seorang calon  pustakawan untuk mempersiapkan dirinya untuk  menjadi  profesional.  Pendidikan formal biasanya dilakukan di lembaga pendidikan tinggi dimulai dari jenjang diploma, hingga jenjang doktor di bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Lembaga pendidikan di dalam negeri ataupun di luar negeri.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan non-formal biasanya dilakukan dengan  mengikuti  pelatihan (diklat), up grading/penataran,  seminar, lokakarya, kursus, (on the job training), dan studi banding. Pendidikan non-formal adalah salah satu alternatif jika pendidikan formal tidak  mungkin dilakukan untuk pembinaan pustakawan.

Kegiatan magang misalnya,   sangat dibutuhkan  oleh seorang pustakawan. Terlebih dalam hal   karir atau untuk menuju  ke pendidikan lanjutan. Manfaat lainnya seperti mampu memberikan pelayanan yang baik kepada para pemustaka.

Kegiatan magang dibagi menjadi 2 tingkatan yaitu tingkat menengah dan tingkat lanjutan. Tingkat menengah adalah bagian  dari asisten informasi dan asisten perpustakaan. Sedangkan tingkat lanjutan adalah asisten senior perpustakaan, supervisor layanan perpustakaan, koordinator layanan informasi.


Baca Juga

Organisasi Perpustakaan : Pengertian Administrasi dan Manajemen Perpustakaan

Perpustakaan Desa : Jalan Menuju Masyarakat Informasi

 


Pendidikan Informal

Strategi Pengembangan SDM Perpustakaan juga dapat dilakukan melalui sebuah pendidikan  informal. Pendidikan informal ini tentu sangat berkaitan dengan  kemauan  pustakawan tersebut untuk meningkatkan kualitas.

Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu seperti belajar sendiri. Membaca serta belajar dari pengalaman diri sendiri dan juga orang lain termasuk dalam pendidikan informal. Juga melakukan diskusi secara informal dengan sesama pustakawan. Sedangkan kegiatan lain yang juga mampu menunjang pendidikan informal  seperti misalnya  berkaryawisata,  kunjung mengunjungi antar sesama pustakawan bertukar pengalaman, dan kunjungan kerja pustakawan.

Baca Juga  Sumber Daya Manusia Perpustakaan

Pengembangan diri sendiri yang dilakukan oleh pustakawan dapat juga dilakukan antara pustakawan dengan pemustaka. Pengembangan diri  seperti ini dilakukan dengan cara saling berbagi pengetahuan dengan pemustaka. Karena pemustaka juga adalah subjek yang memiliki pengerahuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pustakawan.  Dengan cara ini tentu seorang pustakawan diharapkan agar mampu mengambil satu manfaat dan dapat pula mengembangkan pengetahuannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.