Megawati Soekarno Putri, Sejarah Singkat Perjuangannya

Megawati Soekarno Putri
Bagikan Tulisan Ini Bung...

23 Januari (1947) Mega gelap dan berat. Hujan turun membanjiri langit-langit rumah, air masuk melalui atap-atap rumah yang bocor, deras sekali. Air menggenangi rumah. Dokter memindahkan Fatmawati ke kamar tidurnya. Dalam kegelapan di malam itu, cuma ada satu penerangan dari sebuah lilin. Putri kami lahir. Kami memberinya nama Megawati Soekarno Putri. Mega berarti awan”.

Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.





Mega lahir di Istana Negara Yogyakarta, sekarang adalah Gedung Agung. Keyakinan masyarakat Jawa, lahir dalam kondisi seperti itu, maka akan mengalami perjalanan hidup yang tidak gampang. Memang benar, kehidupan Megawati sangat tidak mudah.

Megawati Soekarno Putri Masa Muda

Masa kecil Mega melewati masa persembunyian dan pelarian karena keadaan revolusioner. Barulah setelah Belanda mengakui Indonesia Merdeka pada Konferensi Meja Bundar, Desember 1949, Mega bisa memulai kehidupan baru. Mega pun bisa menyelesaikan pendidikannya. SD, SMP, SMA ia lalui di Perguruan Cikini Jakarta Pusat.

Mega sempat kuIiah FakuItas Pertanian di Universitas Padjajaran, namun dengan adanya peristiwa G 30 s, ia memilih keluar supaya bisa mendampingi ayahnya. Setelah keadaan mulai membaik, Mega kembali kuliah ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) pada 1970. Tapi, akhirnya keluar pada 1972. Saat itu suaminya, Surindro Supjarso, letnan satu penerbang TNI AU, hilang dalam sehuah kecelakaan pesawat di Biak, Papua, pada 1970.

Megawati Soekarno Putri dan Politik

Hingga akhirnya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PDI, Desember 1993, di Jakarta, mengubah total hidupnya. Ia tampil menjadi ketua umum PDI. Jabatan ketua ini tak begitu saja ia dapatkan. Dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya, secara defacto, Mega terpilih menjadi ketua umum PDI. Tapi, pemerintah baru mengakui posisi Mega setelah Munaslub di Jakarta.


Baca Juga :

Mega Tunggu Pendukung Khilafah di DPR

Saat Megawati Berantem dengan Gus Dus

Tapi cerita itu agaknya belum selesai. setahun menjelang pelaksanaan pemilu, Juni 1999, Megawati mulai “d/garap” kembali. D/gelarlah Kongres PDI di Medan dengan tujuan menggusur Mega. Dalam perhelatan yang tidak dihadiri Megawati dan pendukungnya itu, soerjadi, mantan ketua umum PDI, terpilih untuk memimpin barisan banteng. Para pendukung Mega pun gusar. Mereka menduduki kantor PPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, sambil mengadakan mimbar bebas. Hujatan dan cacian kepada Soerjadi maupun pemerintah pun terlontar dalam aksi mereka.

Kudatuli

Bentrokan terjadi ketika massa yang mengaku pendukung soerjadi ingin mengambil alih kantor itu. Maka, lahirlah Peristiwa 27 Juli 1996. Sekitar pukul 06.30, ratusan orang menyerbu kantor DPP PDI. Massa Mega berhamburan keluar mencari selamat. Insiden itu terus membesar berubah menjadi kerusuhan yang merembet ke kawasan-kawasan lain. Mobil dan belasan gedung dibakar, Banyak (ratusan) orang luka-luka, dan beberapa orang tewas.

Walaupun kelompok Megawati Soekarno Putri terus menggugat keabsahan PDI pimpinan soerjadi, keadaan tak berubah sehingga PDI Soerjadilah yang dapat ikut Pemilu tahun 1997. PDI “boneka” pemerintah ini akhirnya hanya dapat 11 kursi DPR.


Tahun 1998 ternyata belum menjadi milik Mega. la cenderung memilih diam dan tidak tampil ke publik.  Tapi, menjelang Pemilu 1999, barulah ia berbenah untuk tampil. Tahun 1999, PDI berubah nama menjadi PDI Perjuangan (PDIP). Dalam pemilu yang demokratis pada pertengahan 1999, PDIP tak terbendung lagi. Partai itu menang dengan meraup 154 kursi di DPR. Histeria pendukung Mega semakin dahsyat.

Mereka menganggap kursi presiden sudah di depan mata. Sayangnya menjelang Sidang Umum MPR tahun 1999, Megawati Soekarno Putri enggan melakukan lobi untuk menggalang dukungan. Yang saat itu sangat aktif dalam lobbying justru Gus Dur dan Amien Rais. Miskinnya manuver PDIP itu berakibat fatal. Megawati gagal menjadi presiden. Ia harus puas menjadi wakil presiden mendampingi Gus Dur. Megawati akhirnya menuai keberuntungan. Setelah Gus Dur diguncang kasus Buloggate, Sidang Istimewa MPR pada tanggal 23 Juli 2001 mencopot Gus Dur dari kursi presiden dan kemudian menobatkan Mega menjadi presiden RI periode 2001-2004.

Selama masa kepemimpinan Megawati, ia memang dicatat belum bisa berbuat banyak untuk mengubah birokrasi yang korup dan tata pemerintahan buruk. Walaupun prestasinya dalam pemerintahan tidak menonjol, nama Megawati tetap dikenang sebagai simbol people power menghadapi rezim Soeharto yang otoriter.

Komentar