Empat Kutub Ideologi, Mengapa dan Apa Pentingnya?

empat kutub ideologi
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Empat Kutub Ideologi

Empat kutub ideologi biasanya ramai dan sering dibicarakan oleh calon kader GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Sebagai salah satu materi wajib dalam silabus kaderisasi gmni, materi ini juga menarik untuk dibincangkan meski tidak mengikuti kaderisasi. Secara etimologi, Ideologi asalnya  dari bahasa latin. Artinya ideos (pemikiran), dan logis (logika). Jadi, ideologi merupakan sebuah rumusan pemikiran dengan asumsi dasar dalam memandang sesuatu. Banyak sekali macam ideologi yang tumbuh sejak dulu hingga sekarang. Bahkan, dalam pekembangannya, satu ideologi bisa melahirkan ideologi yang baru.

 Pada kajian 4 kutub ideologi kali ini, kita akan membahas 3 ideologi yang besar dan sering “berantem”, dan 1 ideologi dari Indonesia (marhaenisme). Lah, kenapa? dan apa pentingnya? Kita membahas ini bukan untuk berantem, tatapi untuk memetakan dimana posisi Marhaenisme. Ini berguna sebagai kompas bagi kader untuk melihat fenomena khususnya dalam mengambil tindakan-tindakan dalam perjuangan. Baiklah, kita mulai dengan Basmallah.. Bismillahirrahmanirrahim,…   4 kutub ideologi ini mewakili 4 entitas, yaitu, Kapitalisme, Komunisme (bagian paling kiri dari sosialisme), Pan-Islamisme, dan Marhaenisme.


Empat Kutub Ideologi – Kapitalisme

Saya tidak akan menjelaskan Kapitalisme panjang lebar mulai dari sejarah awal hingga perkembangan sekarang. Saya hanya memberikan penjelasan singkat tentang hal mendasar dari kapitalisme, sehingga pembaca dapatkan intisarinya.

Kapitalisme memiliki tiga asumsi dasar, yaitu: kebebasan individu ( liberalisme ),  kepentingan diri (individualisme ), dan pasar bebas ( persoalan ekonomi ). (Baca; Ayn Rand “Capitalism” 1970). Kebebasan individu merupakan tiang pokok kapitalisme, karena dengan pengakuan hak alami itu, individu bebas berpikir, berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada akhirnya, pengakuan hak individu memungkinkan individu untuk memenuhi kepentingan dirinya.


Kritik Singkat Untuk Kapitalisme Manusia memang memiliki hak untuk melakukan sesuatu termasuk padanya untuk memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi, kebebasan individu ini seringnya kebablasan. Manusia tidak mungkin bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan sama sekali. Manusia adalah mahluk sosial, yang juga memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga untuk lingkungannya dan komunitasnya. Individualisme yang menjadi dasar pemikiran kapitalisme sangat bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yang kolektif. Kepedulian sosial  sudah tertanaman dalam pada diri bangsa sejak Indonesia belum merdeka.

 Kecendrungan yang timbul dari Individualisme adalah ketidakpedulian akan sesama. Mereka yang kaya tidak peduli yang miskin, pemilik modal tidak peduli buruh, Yang besar menindas yang kecil dst. Pasar Bebas, mungkin kedengarannya keren. Akan tetapi pasar bebas hanya akan menyebabkan ketidak adilan. Mereka yang memiliki modal (kapital) besar yang akan menguasai pasar. Pemain-pemain kecil akan terbuang dan kalah.


 

Empat Kutub Ideologi – Komunisme

Komun1sme adalah antitesa dari kapitalisme. Komunisme dikembangkan oleh Karl Marx. Jika prinsip dasar kapitalisme adalah Liberalisme, Individualisme dan pasar bebas, maka komunisme benar-benar kebalikannya. Karl Marx melihat ada ketimpangan yang tajam akibat dari berlakunya sistem kapitalisme. Maka lahirlah istilah Borjuis (pemilik modal) dan Ploletar (kaum buruh). Menurut Karl Marx, alat produksi yang dimiliki (secara indvidu “individualisme”) oleh borjuis haruslah menjadi milik bersama (kolektivisme), sehingga terciptalah keadilan yang sebenarnya . Komunisme memiliki cita-cita untuk membentuk  masyarakat tanpa kelas. Maksudnya, semua properti dan kekayaan milik bersama, bukan milik individu seperti pandangan kapitalisme.  

Untuk mencapai cita-cita tersebut, Marx menganjurkan para kaum tertindas seperti buruh melakukan revolusi untuk menguasai pabrik-pabrik. Dalam komunisme, tidak ada pasar bebas!.


Kritik Singkat Untuk Komunisme Meskipun komunisme adalah antitesa dari kapitalisme, kita sebagai bangsa tidak mungkin menerima komunisme secara keseluruhan. Semangat untuk menciptakan keadilan daripada kanyataan bahwa : kapitalisme menyebabkan ketimpangan sosial adalah benar. Kita seirama dan senada dengan semangat itu. Akan tetapi, meskipun semangatnya sama, kita tidak mungkin sepakat bahwa akan tercapai masyarakat tanpa kelas seperti yang menjadi cita-cita komunisme. Sudah nyata bawa itu adalah hukum alam, bahkan hukum Tuhan,  kita tercipta berbeda-beda. Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang kaya, ada yang miskin dst. Menghilangkan kelas itu sama sekali tidak mungkin, terlebih dengan cara-cara kekerasan seperti yang sering  terjadi oleh pengikut komunisme (baca: perjalanan kelam komunisme).


 

Empat Kutub Ideologi – Pan Islamisme

Ideologi ini pertama kali lahir dari Jamaludin Al Afghani. Mereka yang menganut ideologi ini berpandangan bahwa sumber ketidak-adilan dan penindasan adalah “Penjajahan Bangsa Barat”. Memang lahirnya ideologi ini (pan-islamisme) dilatarbelangi oleh kemunduran Islam pada abad 18 hingga 19 masehi. Beberapa faktor yang menyebabkan adalah : Ekspansi militer, ekonomi dan kebudayaan bangsa-bangsa Barat pada negara Islam Timur Tengah. Kemudian adanya perpecahan dari umat Islam yang disebabkan oleh konflik antar golongan. Untuk mencapai cita-cita keadilan (bagi umat Islam) tersebut, maka muslim di seluruh dunia harus bersatu dalam wadah ideologi. Tujuan yang ingin dicapai Pan-Islamisme, yakni: Menghapuskan penjajahan bangsa Barat terhadap umat Islam di seluruh dunia.  Menghilangkan kesukuan dan golongan untuk mempersatukan umat Islam. Membangkitkan solidaritas antar umat Islam yang bernasib sengsara karena dominasi bangsa Barat, dan. Membangun sebuah sistem pemerintahan Khilafah untuk memajukan peradaban Islam. Ideologi ini berkembang pesat bahkan juga di Indonesia. Mereka yang sepakat dengan ideologi ini memiliki kecendrungan untuk mendirikan Khilafah. Mudahnya ideologi ini berkembang karena memang Masyarakat Indonesia mayotiras muslim.

 


Kritik Singkat untuk Pan-Islamisme

Dalam konteks semangat melawan penindasan (penjajahan), kita benar-benar memberikan satu kesepakatan yang bulat. Sebagai bangsa kita menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia. Akan tetapi, sebagai Negara, kita terdiri dari berbagai macam suku, agama dan bangsa. Mimpi untuk menciptakan keadilan melalui jalan mempersatukan umat muslim di dunia dalam satu pemerintahan sangat bertentangan dengan nasionalisme Indonesia. Faktanya, ada negara yang mayoritas masyarakatnya non-muslim, tapi kesejahteraan dan keadilan tercapai. Begitu juga sebaliknya, singkatnya, adil (sosial ekonomi) atau tidak adil itu tidak terikat pada agama atau bangsa manapun. Keadilan itu adalah tindakan yang bahkan bisa kita lakukan terhadap agama lain.


 

Empat Kutub Ideologi – Marhaneisme

Nah, sampailah kita pada akhir dari pembahasan kali ini. Singkatnya, dari ketiga ideologi yang berkembang di dunia itu, marhaenisme adalah jalan tengah.

Marhaenisme menolak penindasan dan ketimpangan sosial yang terjadi akibat ideologi kapitalisme. Pada dasarnya, marhaenisme tetap mengakui hak kepemilikan pribadi, akan tetapi tetap pada nilai-nilai keadilan. Maka dari itu salah satu asas marhaenisme adalah Sosio Demokrasi.. Apa itu sosio demokrasi? silahkan baca tulisan saya berikut ini. —> Sosio Demokrasi, Satu Dari Tiga Asas Marhaenisme.   Pada konteks nasionalisme, marhaenisme  tidak sepakat dengan nasionalisme yang berlandaskan agama, Melainkan nasionalisme yang berlandaskan sosio. Nasionalisme yang tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, ras, suku dan bangsa. Untuk itu, silahkan baca tulisan berikut ini, —>>>  Sosio Nasionalisme Dalam marhaenisme  dan Sosio Nasionalisme Menurut Bung Karno. Terakhir, agar lebih khusus bicara asas dan asas perjuangan dari pada marhaenisme, silahkan baca tulisan saya berikut ini — > Asas, Asas Perjuangan dan taktik Dalam Marhaenisme.   Demikianlah, pembahasan tentang empat kutub ideologi, semoga bermanfaat untuk pembaca semua.


Jika kalian ingin menyumbangkan tulisan untuk dipublikasikan melalui website Trisila.COM ini, silahkan mengirimkan tulisannya ke email trisila.news@gmail.com atau ke WhatsApp (085272242829).  

 

2 thoughts on “Empat Kutub Ideologi, Mengapa dan Apa Pentingnya?

Komentar