Revolusi Mental dan Revolusi Akhlak Akan Kawin

revolusi mental dan revolusi akhlak
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Revolusi Mental dan Revolusi Akhlak Segera Kawin

Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar istilah keren, revolusi mental dan revolusi akhlak.  Tetapi kita sering mempertentangkan keduanya hingga pada titik yang sangat “tajam”. Kita terlalu  “buta dan curik” sehingga tidak bisa melihat dan merasakan keharmonisan.  Padahal kedua kata tersebut adalah sepasang kekasih yang akan “kawin” dalam waktu dekat ini. Kitalah yang selama ini menghalang-halangi perkawinan mereka karena ego dan kebodohan kita sendiri.


Mental itu adalah gambaran dari integritas, profesionalitas, kualitas, produktivitas, pokoknya segala hal positif yang akan membawa kita maju dan berkembang. Maka kita sering mendengar istilah mental disandingkan dengan kata lain, misalnya : mental baja, mental pengusaha, mental juara dst. Sedangkan akhlak adalah satu dorongan dan perwujudan dari prilaku yang baik. Akhlak Rasul, Akhlakul karimah dst.

Ibaratkan sepeda, kita membutuhkan pengayuh untuk menjadi dorongan (kekuatan) bergerak menuju perubahan. Akan tetapi itu tidak cukup, kita juga perlu stir (stang) untuk membawa dorongan itu kepada hal yang baik lagi terpuji. Mental yang bagus adalah kayuhnya, akhlak yang baik adalah stir-nya.


Baca Juga : Berjuang di Parpol itu Berat, Kalian Tak Akan Sanggup

Satu Ikatan Cinta, Indoensia.

Indonesia tidak akan berjaya jika hanya berfokus pada revolusi mental. Banyak bukti Negara-Negara yang hanya berfokus pada perubahan mental masyarakatnya, akhirnya berujung pada menipisnya kemanusiaan dan KeTuhanan. Akan tetapi tidak akan lengkap jika Indonesia hanya  merevolusi akhlak tanpa memperbaiki kualias mental masyarakatnya.


Sungguh kejam kita selama ini, memisahkah mereka (revolusi mental dan revolusi akhlak) karena nafsu dan kebencian. Padahal sejak dulu mereka berdua memang ditakdirkan untuk bersama. Kita agaknya telah berperan seperti “datuk maringgih” dalam novel Siti Nurbayah, memaksakan cinta!.

Biarkan saja, relakan saja mental dan akhlah itu “kawin” dalam satu ikatan cinta yang bernama Indonesia. Kalau perlu kita turut memeriahkan perkawinan itu dengan mengadakan selamatan tujuh hari tujuh malam di kampung masing-masing.

Baca Juga : Ideologi Baperisme, Defenisi dan Perkembangannya


Ide mengawinkan Mental dan Akhlak ini ku dapat setelah menonton diskusi Mbah Nun dan anaknya, Sabrang. Sungguh gagasan yang luar biasa, tulus dan hakikat. Percayalah, tidak akan ada yang bisa memisahkan revolusi mental dan revolusi akhlak, siapapun dia, termasuk kita.  Jika ada yang terus berusaha memisahkan “sepasang insan” tersebut, maka tidak akan nyenyak tidurnya, tidak akan lemak makannya.

Insyaflah wahai manusia!. Begitulah Kura-kura.