Primordialisme Politik Inhil Sengaja Dirawat oleh “suneo”

Primordialisme Politik
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Ada “kedunguan” pada proses politik Indragiri Hilir. Kedunguan itu asalnya dari ketidakmampuan para elit membangun narasi politik. Ibarat tidak bisa menang saat main bola, kesal, lalu main kasar. Kedunguan itu bernama Primordialisme Politik.


Apa kalian tidak merasa aneh, setiap kali hendak pemilihan bupati, isu kesukuan menguat, seolah-olah siapapun bupatinya, yang penting satu suku, maka inhil akan sejahtera.

Ada juga sentimen bahwa yang memimpin satu daerah haruslah suku asli daerah itu. Lebih parah lagi, banyak kaum terpelajar juga berpikir demikian. Sungguh logika kuno, kampungan. (maaf).

Ups, tunggu dulu. Saya tidak anti suku,  bahkan saya senang mempelajari tradisi, budaya hingga kesenian beragam suku yang ada. Terlebih memang sudah menjadi takdir Tuhan bahwa Indonesia eksis sebagai Negara yang beragam.

Boleh dan sah saja kalau primordialisme muncul dalam proses politik.  Sebagai mahluk sosial, manusia selalu mengidentifikasi diri dalam satu kelompok sosial, baik agama, ras, atau suku. Maka dari itulah kita memilih demokrasi agar semua itu bisa tersalurkan dengan baik ke dalam politik.



Akan tetapi, sangat berbahaya kalau primordialisme politik sudah overdosis. Terlebih kalau itu sengaja mereka “rawat” semata-mata untuk kepentingan politik praktis.

Primordialisme Politik Indragiri Hilir

Selidik punya selidik, untuk kasus Indragiri Hilir, isu primordialisme ini sengaja “dirawat” oleh elit politik. Bahkan mereka sejak dini membangun narasi primordialisme untuk  membangun kekuatan menghadapi pilkada.

Mereka merasa mudah menggerakkan masyarakat jika menggunakan narasi kesukuan. Mungkin karena tidak ada prestasi yang membanggakan untuk menarik simpati rakyat, makanya mereka terpaksa gunakan isu kesukuan sebagai dagangan politik. Kasihan.. Mirip-mirip suneo dalam seri doraemon, sok hebat tapi selalu berlindung dengan mahluk “tak rasional” seperti Giant.



Elit politik, aktivis dan tokoh masyarakat yang merawat politik primordialisme ini tidak menggunakan nalar mereka. Rasionalitas dalam dirinya hilang terbawa arus seperti eceng gondok (elong). Mereka yang senang dengan gorengan isu kesukuan ini dengan mudah disulut emosinya, kebanyakan tak mengerti bahwa ada udang dibalik bakwan. Udangnya untuk Suneo, Bakwannya untuk Giant. Haha.

Di negara demokrasi dan era reformasi seperti ini, harusnya kita berikan masyarakat pendidikan politik untuk memilih pemimpin berdasarkan track record, kinerja dan visi misi nya..

Pilkada itu memilih pemimpin daerah, bukan memilih kepala suku. Memangnya kalau do’i yang satu suku jadi bupati, sudah pasti punya kapasitas membangun inhil?.

Begitulah kura-kura.

Baca Juga : Menurut Anda, Apa Keberhasilan Pemda Inhil?