Dari Bumi Sri Gemilang Hingga Hamparan Kelapa Dunia

dari bumi sri gemilang
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Trisila.com– Sejak kecil kita bangga dengan jargon yang d/buat oleh pemimpin Inhil.  Mulai dari Bumi Sri Gemilang, Negeri Seribu Parit, Negeri Seribu Jembatan, hingga Hamparan Kelapa Dunia. Setiap ganti pemimpin, ganti lagi julukannya, begitu seterusnya.

Tapi karena tidak melanggar hukum, ya tidak masalah siapapun mau kasih julukan sendiri. Akhirnya, kita memperkenalkan diri seperti ini.

Perkenalkan saya “angah” dari inhil alias bumi sri gemilang, alias negeri seribu parit, bisa juga disebut seribu jembatan, alias negeri hamparan kelapa dunia. Haha, keren.

Seingat saya, jargon Bumi Sri Gemilang itu  lahir pada zaman Rusli Zainal menjabat. Negeri Seribu Parit memang sudah sejak dulu ada, Negeri Seribu Jembatan d/populerkan oleh Indra Muchlis Adnan. Terakhir Negeri Hamparan Kelapa Dunia, d/populerkan oleh HM Wardan. (Mohon Koreksi Jika Salah).

Catatan pentingnya adalah : Kebanyakan Julukan tersebut d/buat atau d/populerkan oleh para pemimpin, bukan d/berikan oleh pihak lain.

Julukan tanpa kebijakan

Bukan sesuatu yang aneh, karena daerah lain juga sepertinya demikian, misalnya Bandung, kita kenal dengan istilah Kota Kembang, lalu berkembang menjadi Paris Van Java. Kemudian Jogja, kita mengenalnya dengan sebutan kota pendidikan dan budaya. Masih banyak lagi daerah yang menggunakan jargon untuk memberikan gambaran atau representasi dari daerahnya masing-masing.

 

Semua  julukan itu tentu d/buat dengan niat yang baik, yaitu untuk memberikan citra positif dan mengangkat identitas inhil. Akan tetapi julukan tersebut tidak secara otomatis melahirkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perlu pengejawantahan melalui program-program pembangunan, dan konsep yang jelas agar jukukan tersebut tidak sebatas “lipstik” politik saja.

Kepada seluruh politisi, partai politik atau siapapun yang sedang bersiap untuk “bertarung” dalam pilkada 2024 (Read :UU Pilkada), cobalah untuk tidak terlalu banyak memakai “lipstik”. Mungkin rakyat cukup terhibur dengan julukan yang kalian buat, tapi alangkah baiknya jika itu semua diikuti dengan konsep dan program yang jelas.

Apalah arti dari Bumi Sri Gemilang, jika rakyat masih banyak yang kelaparan. Tidak ada kerennya julukan Negeri Seribu Jembatan, jika banyak jembatan yang  rusak. Sama sekali tidak membuat bahagia julukan Hamparan Kelapa Dunia, jika petani tidak sejahtera.

Begitulah Kura-kura.