Hiperrealitas, Kepalsuan Berbaur Dengan Keaslian

hiperrealitas
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Hiperrealitas dan Internet

Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi internet menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Sayangnya, perubahan terjadi begitu laju dan berisik, sehingga kita sibuk menikmatinya, tanpa kritis terhadapnya. Hiperrealitas.

Salah satu perubahan yang dapat kita rasakan adalah cara kita memandang realitas. Kita tidak lagi peduli dengan kenyataan,  tapi cendrung bahagia dengan kepalsuan yang bahkan kita buat sendiri.

Hal  ini adalah akibat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Jean Baudrillard seorang filsuf kontemporer telah menerangkan hal ini melalui teori Hiperrealitasnya.

Bagi Baudrillard, teknologi komunikasi dan informasi seperti internet  menghadirkan  realitas semu, realitas buatan (hyper-reality).

Hiperrealitas adalah satu bentuk keadaan, d/mana kita tidak bisa membedakan antara kenyataan dan simbol. Simbol dan Makna telah  tercabut dari realitas, bahkan telah melampaui realitas itu sendiri. Simbol dan makna telah menjadi realitas.

Hiperealitas menciptakan kondisi d/mana  kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta menjadi simpang siur dengan rekayasa; tanda lebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.

Baca Juga : Sulit Dipercaya, Ini Ideologi Baru di Dunia

Kehadiran Internet – Medsos

Dengan hadirnya medsos, semua kita bisa mengkonfigurasi (mengatur) citra seperti apa yang ingin kita tampilkan. Tak perduli se-dusta apapun itu, selagi simbol-simbol yang kita posting dapat menggambarkannya, selagi itu orang akan percaya.

Misalnya, dulu kita menilai kualitas seorang pemuda dapat kita lihat dari semangat, gagasan, daya juang, dan akhlaknya.  Sekarang kualitas seorang pemuda d/lihat dari status media sosialnya. Sebaik apa mereka membuat status, sebaik itu pula kualitasnya.

Membeli buku, tapi tidak baca, lalu foto  dan upload ke facebook dan instagram dengan tambahan kalimat motivasi untuk membaca. Pergi liburan, tapi kebahagiaan bukan ketika berlibur, melainkan ketika posting foto di medsos dan dapat banyak like serta komentar.

Sungguh unik era postmodren sekarang ini (sebagian orang mendefenisikannya dengan istilah post truth). Siapa yang bisa membangun citra, maka orang dengan mudah percaya.