Kata-kata Ini Membuat Orang Segan Debat Dengan Anda

Kata-kata Ini Membuat Orang Segan Debat Dengan Anda
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Kata-kata Ini Membuat Orang Segan Debat Dengan Anda.

Kata-kata bijaksana berikut dirangkai dengan pola yang d/kenal sebagai Sleight of Mouth (SOM) yang kalau d/terjemahkan secara bebas berarti “Bersilat Lidah”.

Secara umum, pola SOM bermain d/ keyakinan. Akan tetapi kita tau bahwa keyakinan seseorang yang tentu berbeda-beda dan belum tentu benar.

Setiap keyakinan seseorang selalu d/bentuk oleh pengalaman dan perspektif yang berbeda-beda, sehingga pada gilirannya membentuk pikiran, kata kata dan tindakan.

Perhatikan, keyakinan seseorang itu bisa Anda bongkar lebih dalam sehingga mereka kadang goyah terhadap keyakinan mereka sendiri.

Teknik SOM mencoba membongkar keyakinan seseorang dengan cara memberikan komentar, pertanyaan bahkan jawaban singkat untuk membongkar keyakinan tersebut.

Oleh karena itu, SOM bisa d/gunakan sebagai alat untuk mengatasi keberatan, menyelesaikan perdebatan ataupun kritikan eksternal dan internal.

Kritikan eksternal misalkan saat Anda menghadapi  kritik dari orang lain terhadap diri Anda.

Sedangkan internal, misalkan saat Anda mendengar kata-kata negatif yang Anda ucapkan kepada diri Anda sendiri yang sifatnya melemahkan motivasi Anda.

Keren kan..?



Peringatan!

Meskipun demikian, hati-hati SOM akan sangat berbahaya sebab apabila Anda tidak bisa menggunakannya dengan tepat.

Orang yang mendengar gaya SOM Anda bisa jadi menjadi sangat defensive, frustasi, dan emosi pada Anda.

Bagaimana tidak, setiap perkataan mereka bisa Anda berikan respon balik. Oleh sebab itu, Anda harus bisa mengemasnya dengan baik.

Dengan demikian, orang tersebut tidak akan senewang-wenang dan mencak-mencak pada Anda. Akan tetapi, tetap Anda harus mengunakan SOM dengan elegan dan berkelas.

Cerita Pahlawan Nasional H. Agus Salim

Sebelum membahas lebih dalam perihal SOM dan bikin Anda lebih paham perihal SOM, cerita perihal pengalaman H. Agus Salim menarik tuk disimak.

Anda mungkin tahu kalau H. Agus Salim adalah seorang diplomat ulung, bahkan  kecerdasannya begitu mengesankan dan diakui oleh kawan maupun lawan.

Suatu hari, beliau hendak menyampaikan pidato di depan forum yang besar, bahkan forum itu d/hadiri oleh para pemuka partai dan beliau memulainya dengan memberikan salam.

Akan tetapi tiga kali beliau mengucapkan salam, tiga kali pula muncul suara-suara berisik menirukan suara kambing “mbek-mbek-mbek” dari beberapa orang peserta.

Yah, beberapa orang peserta yang tidak menyukai beliau.

Ini tentu saja suatu bentuk penghinaan karena orang-orang tersebut membuat kesan bahwa  Agus Salim serupa dengan suara “mbek-mbek-mbek” itu, bukan begitu?

Lalu seperti apa respon dari H. Agus Salim?

Apakah beliau marah-marah sehingga mencak-mencak, bahkan membalas menghina orang-orang yang bersuara mirip kambing tersebut seperti yang sering kita lihat di televisi?.

Ternyata dengan tenang beliau malah memberikan respon dengan berkata berikut:

“Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya.”

“Hanya, sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas,”

“Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Akan tetapi ketika pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan d/persilakan masuk kembali.”

Mantap…




Lalu, apa pendapat Anda dengan jawaban dan respon dari Bapak Agus Salim tersebut? Makjleeb ya, bukan begitu?.

Nah, inilah contoh dari pola SOM.

SOM (Sleight of Mouth)

Jadi sebenarnya, jawaban dan respon dari bapak H Agus Salim adalah salah satu contoh penerapan dari pola SOM.

Perhatikan, jawaban beliau begitu menohok, tetapi tetap elegan sehingga membuat orang sadar akan kekeliruan yang mereka buat sendiri dan terdiam.

Okay, Semoga hal ini membuat Anda semakin tertarik, sehingga anda terus melanjutkan membaca.

Di akhir tulisan nanti kita akan lihat pola SOM seperti apa yang diterapkan oleh Bapak H Agus Salim tersebut.

SOM sangat ampuh.

Okay, jadi apa sebenarnya alasan mengapa SOM sangat ampuh?

Yah karena pola SOM bekerja pada cara bagaimana keyakinan seseorang d/bongkar dengan pola-pola tertentu yang nanti bisa Anda pelajari satu persatu.

Namanya juga bersilat lidah, itu berarti Anda menyerang, membalik kata, membuat definisi ulang.

Anda dapat membuat kerangka lebih kecil atau lebih besar, bahkan mengambil contoh lain  sebagainya dengan pola-pola tertentu.

Pola kata kata tersebut bisa Anda gunakan untuk membongkar keyakinan orang sehingga membuatnya berpikir ulang atau malah menyangkal keyakinan mereka sendiri.

Tentu saja, Anda harus memahami juga maksud dari masing-masing pola tersebut agar tahu kapan harus menggunakannya sebagai kata kata bijaksana.

Bila Anda bisa mengerti maksud dari setiap pola, Anda bisa gunakannya secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama, sesuai keinginan Anda untuk bersilat lidah.

Tetap lakukan dengan cara-cara baik, sopan dan tentunya dengan elegan.

15 Pola Kata-Kata Bijaksana SOM

Ijinkan saya menggunakan kata “kampret” yang mungkin terdengar kasar, sering d/jadikan kata umpatan, tetapi semoga bisa lebih mengena dan mudah d/pahami.

Bahkan jika ada orang berkata, “Kampret” kepada Anda, Apakah anda akan marah, sehingga membentak mereka?.

Coba gunakan kata kata bijaksana dengan pola SOM berikut.

1. Serang Sumber Keyakinan (Attacking the Source of the Belief).
Anda bisa serang langsung “sumber keyakinan” mereka dengan pertanyaan-pertanyaan.

Pertanyaan untuk mencari tahu darimana, dari siapa atau siapa yang bilang kalau Anda “Kampret”.

“Dari mana Anda tahu saya kampret?
“Kata siapa saya kampret?”
“Tahu darimana saya kampreet?”
“Siapa yang bilang saya kampret? Orang saya Batman!”

Dengan cara ini, Anda mencari tahu sumber keyakinan mereka. Ingat Anda bisa lakukan dengan cara halus pastinya.

Terlepas nanti bagaimana jawaban mereka tidak usah d/buat bingung dulu. Karena dari jawaban-jawaban yang muncul nanti bisa Anda serang lagi dengan cara yang sama.

Bila mereka jawab,”Dari Si Anu.” Anda bisa serang lagi…”Lah Si Anu tahu darimana?”

Atau Anda bisa mentahkan lagi jawaban-jawaban mereka dengan pola-pola lainnya.



Kita lanjut ya ke pola lain.

2. Serang Keyakinan Mereka (The Meta Frame)
Pada pola ini, Anda langsung menyerang “keyakinan mereka”. Keyakinan mereka bahwa Anda itu “Kampret”.

Anda tidak lagi menyerang “sumber” tetapi Anda langsung menyerang “keyakinan” mereka dengan bertanya, misalkan:

“Kenapa Anda yakin saya kampreet?
“Kok bisa Anda begitu yakin saya kampret?”
“Darimana Anda bisa begitu yakin kalau saya kampreet?”

3. Aplikasikan ke Diri Mereka Sendiri (Apply to Self)

Nah, kalau pola ini sepertinya udah sering Anda terapkan atau dengar bila ada orang yang bilang kalau Anda itu “kampret”.

Biasanya orang yang bilang Anda “kampret” yakin kalau Anda = Kampret (atau A = B).

Sekarang coba aplikasikan gimana kalau A = B berarti B = C dong!

Dengan kata lain, coba aplikasikan “kampret” itu ke diri mereka, si orang yang berkata “kampret” pada Anda tersebut.

Anda bisa menggunakan kata kata bijaksana berikut, misalkan:

“Cuma kampreet yang bilang kampreet.”
“Anda bukan kampret yang suka bilang kampret bukan…?”
“Kalau gw kampret itu artinya loe juga kampret.”
“Sesama kampreet jangan bilang kampreet.”

4. Cari Tahu Niat Mereka (Focusing on the intent of the belief)
Coba cari tahu niat mereka berkata “kampret” kepada Anda dengan bertanya misalkan:

“Saya heran kenapa Anda niat banget bilang kalau saya kampreet.”
“Ketika Anda bilang kampreet apa niat Anda sesungguhnya?”
“Coba jelaskan niat loe bilang kampreet.”

Dengan pola ini, Anda tidak langsung menyerang, tetapi Anda mencoba fokus dulu pada niatan mereka berkata “kampret” pada Anda.

5. Serang Proses Pikir atau Metodelogi (Attacking the Methodology of the Belief).
Nah kalau pola ini, Anda justru malah menyerang ke proses pikir kenapa mereka sampai berkesimpulan bahwa Anda kampret.

“Dapatkan Anda jelaskan kenapa Anda sampai pada kesimpulan kalau saya kampret?”
“Pernahkan Anda bertanya kenapa Anda berpikir saya kampret?”
“Gw nga abis pikir sama cara loe berpikir yang tiba tiba bilang kampret!”

6. Ubah Kerangka Pikir Ke Atas/Lebih Luas (Chunking up)
Anda bisa mengubah kerangka berpikir mereka lebih luas keatas ke hal-hal yang prinsip dan mendasar yang paling utama sehingga mereka berkata “kampret” pada Anda.

Apa tujuan, kepentingan, kejadian/pengalaman utama yang mengendalikan kepercayaan mereka bilang “kampret” ke Anda.

Pola ini terkadang membutuhkan beberapa pertanyaan seperti,

“Apa pentingnya Anda bilang kampreet ke saya?”
“Adakah suatu kejadian besar yang membuat Anda bilang kampreet?”
“Tujuan besar apa sehingga Anda bilang saya kampret?”.

7. Ubah Kerangka Pikir Ke Bawah (Chunking down)

Atau, Anda bisa mengeksplorasi lebih dalam dengan mencari sebab-sebab khusus atau spesifik yang membuat mereka berkata “kampret” pada Anda, misalkan:

“Apakah Anda pernah dikecewakan oleh kampreet?”
“Pernah alami kejadian special bersama kampret yang bikin malu?”
“Kenapa ni, peristiwa masa kecil loe sama kampreet bikin trauma?”




8. Ubah Kerangka Pikir ke Kerangka Pikir Lain (Chunking laterally)
Atau, Anda bisa terapkan pola ini untuk mengubah kerangkan pikir mereka bukan ke atas (prinsip) atau ke bawah (spesifik), tetapi mengubah menjadi kerangka pikira lain yang selevel.

“Apa jadinya kalau saya benar-benar jadi kampreet?”
“Pengen gw jadi kampreet?”
“Lha… eemang kenapa kalau gw kampret?”

9. Bikin Definisi Baru (Redefine)
Pola ini juga sebenarnya sering Anda dengar atau bahkan sudah Anda sering lakukan.

Anda tidak menyerang atau mengubah keyakinan mereka, tetapi Anda membuat definisi baru dari keyakinan mereka yang bilang Anda seperti “kampret”.

“Eh… bukan kampret sembarang kampret, gw kampret manis yang baik hati”
“Yah nga papa kampret, Batman aja banyak yang suka.”
“Kampret bukan cuma keluar malem, banyak pohon jadi subur gegara dia”

10. Bikin Pengandaian/Analogi (Metaphor)
Bisa juga Anda berandai-andai atau menghubung-hubungkan kampret dengan sesuatu kiasan.

“Andai saya kampret terus Anda siapa?”
“Pernahkah loe pikir kampret juga ciptaan Tuhan?”
“Jangan sembarangan, kampret juga ciptaan Tuhan”

11. Temukan Konsekuensi (Consequences)
Cari konsekuensi atau akibat dari keyakinan mereka yang menyamakan Anda dengan “kampret.

“Yah gw kampret, maka loe jangan ada disini”
“Kalau gw kampret, kok loe mau ngobrol sama kampret”
“Gw kampret, loe gw gigit ni”

12. Lihat Realita (Reality).

Ini bisa jadi cara sombong Anda dengan menunjukkan realitas yang sekarang terjadi seperti apa, fakta bahwa Anda itu bukan “kampret”.

“Faktanya sekarang, mana ada kampret ganteng kayak gw”
“Masa iya kampret ganteng kayak gini bro?”
“Masa ganteng begini dibilang kampret?”

13. Kasih Contoh Lain (Counter Example)
Dengan Counter Example, Anda mencari dan memberikan contoh lain.

Anda membongkar keyakinan orang yang bilang Anda “kampret” dengan memberikan contoh lain sebagai tandingan karena tidak selalu A = B.

“Masa gw kampret? Lha kemarin orang bilang gw Zorro!”
“Yakin gw kampret? Banyak yang bilang gw Aliando lho”
“Tidak selalu kampret itu penuh keburukan bro!”



14. Cari Hasil Lain (Another Outcome)

Dengan pola ini, Anda menyerang perkataan orang, kalau Anda “kampret”, ke hasil lain yang sebenarnya Anda inginkan.

“No problem saya kampret yang penting Anda paham nasehat saya”
“Gw kampret bukan masalah yang penting loe tuh sadar!”
“Semoga gw dapat pahala udah bikin hati loe lega bilang kampreet”

15. Keluar dari Batasan (The Threshold)
Dengan pola SOM ini, Anda memperluas keyakinan ke hal-hal yang lucu atau sampai batas dimana Anda takkan goyah oleh keyakian mereka yang bilang Anda “kampret”.

“Tenang bukan loe aja yang yang bilang gw kampret, ribuan bro..!”
“Silahkan… loe boleh bilang begitu berkali-kali dan gw nga akan marah.”
“Silahkan bilang kampret bila bisa buat loe lebih tenang.”

Penutup

Sekali lagi, SOM memang sangat tajam dan bisa menimbulkan selisih pendapat lebih dalam bila tidak digunakan dengan elegan.

Anda harus melihat dengan siapa Anda berbicara, orang yang sudah kenal akrab, baru kenal, kenal tapi nga begitu dekat atau sama sekali baru sekali ini ketemu.

Hendaknya ada etika terhadap itu semua.

Oleh sebab itu, Anda harus bisa membangun kedekatan terlebih dulu dengan teman bicara Anda sebelum menggunakan SOM.

Perhalus SOM Anda untuk tidak terkesan langsung menyerang. Akan tetapi  dalam hal ini Anda bisa menggunakan pola kata kata yang pernah kita bahas dalam tulisan lalu.

Anda bisa menggunakan untuk:

Mengutip perkataan orang-orang ahli, orang orang kompeten, orang-orang bijak misalkan:
“Pak Ustad bilang tak selalu….. ikuti dengan SOM Anda.”

“Satu hal yang saya pelajari dari H. Agus Salim adalah ikuti dengan SOM Anda”

Menggunakan kata kata negasi, misalkan:
“Saya tidak akan banyak berkata … ikuti dengan SOM Anda….”

“Tentu Anda lebih paham kalau… ikuti dengan SOM Anda…”

Demikian sahabat semua perihal kata kata bijaksana yang merupakan ilmu bersilat lidah nan elegan, semoga bisa jelas ya pembahasan kali ini.

Tentunya awal-awal ada kebingungan apalagi kalau mencoba menghapal pola-pola tersebut.

Namun, itu berarti Anda lagi mencerna ilmu ini agar bisa Anda terapkan di kehidupan sehari-hari Anda.

Semakin banyak berlatih semakin paham Anda perihal ilmu bersilat lidah ini alias SOM (Sleight of the Mouth), begitu kata pak Dilts.

Yuk berlatih…

Salam

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...