Pedagang Kaki Lima (PKL) Harus Bersatu Melawan Penindasan

SAIPUDIN IKHWAN
Bagikan Tulisan Ini Bung...

 

Persoalan PKL

Beberapa waktu lalu, Satpol PP Inhil aktif menertibkan PKL di Tembilahan dan sekitarnya. Penertiban tersebut telah pula menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Bagi mereka yang mengutamakan keindahan kota, mendukung penertiban PKL. Akan tetapi bagi mereka yang merasakan sulitnya ekonomi karena krisis akibat pandemi, akan menolak penertiban itu.

Teman-teman GMNI Inhil bahkan telah melakukan demonstrasi menuntut Bupati menghentikan penertiban yang d/rasa tidak tepat di tengah krisis ekonomi. Berbagai cara d/lakukan, bahkan sampai menyambangi Kemendagri d/ Jakarta. Relawan rakyat telah pula melakukan Ansos (Analisa Sosial) dan mereka (GMNI-Relawan Rakyat) mempersiapkan Usulan Perda PKL kepada pemerintah Inhil.

D/lapangan banyak sekali masalah yang mereka temukan, mulai dari tidak adanya kepastian hukum PKL, hanya ada penertiban tanpa adanya pembinaan dan pemberdayaan. Pelarangan jualan tanpa solusi, penegakan hukum yang tebang pilih, bahkan aturan yang tidak berpihak pada nasib PKL. Asosiasi  (organiasi) PKL yang d/harapkanpun malah bertindak dan bersuara seolah tidak berpihak pada kepentingan PKL.

Memang, setelah perlawanan yang dilakukan, pemerintah mulai bersikap agak lentur. Pemerintah hanya menindak PKL yang di/anggap benar-benar “menggangu”. Pihak-pihak lain juga mulai angkat suara, seperti tokoh masyarkat, politisi, praktisi hukum, hingga organisasi kemasyarakatan.

Meskipun begitu, permasalahan belum selesai, perjuangan belum tuntas, PKL belum menang. Anak-anak ideologis Bung Karno itu sedang mempersiapkan naskah Akademik dan Usulan Perda, juga sedang melakukan konsolidasi agar nantinya Perda PKL tersebut mendapat dukungan banyak pihak. PERDA (Peraturan Daerah) yang berpihak pada PKL harus GOAL.


Persoalan Pungli yang Dihadapi PKL

Belum satu bulan berselang setelah GMNI melakukan demonstasi, dan Relawan Rakyat turun ke lapangan untuk ANSOS (Analisis Sosial) persoalan PKL. Sekarang santer terdengar bahwa Pungli melanda PKL  Tembilahan.

Jika pungutan d/lakukan sesuai aturan perundang-undangan, dan d/lakukan oleh pihak yang berwenang, dengan besaran yang wajar, mungkin tidak jadi masalah. Akan tetapi Pungutan ini d/lakukan oleh oknum dan kelompok yang tidak berwenang, dan tidak d/bekali oleh aturan yang sah.

Sah d/sini maksudnya, adalah ketika pihak pemungut sebagai pemenang lelang lahan yang d/tempati PKL. Akan tetapi, kita temukan kasus pungutan tetap d/lakukan pada PKL yang tidak berjualan d/lahan yang d/lelang.

Pada kasus khusus, pembelahan  terjadi d/kalangan PKL, mereka (PKL) yang bersedia membayar pungutan (d/lahan yang bukan lahan lelang) akan d/jamin keberlangsungan usahanya oleh oknum pemungut tersebut. Sehingga, mereka (PKL) yang tidak bersedia membayar akan terancam usahanya.

Berdasarkan hasil riset lapangan, melalui informasi dari PKL, dan melihat sendiri kejadian d/lapangan, kita mengetahui  oknum-oknum tersebut, dan siapa orang yang mem-backupnya. Akan tetapi kita berharap kepada pemerintah dan penegak hukum untuk turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut. Jika persoalan pungutan liar ini terus d/biarkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama-sama tidak kita harapkan. PKL itu adalah rakyat, dan rakyat tidak selamanya diam jika mereka d/tindas.


Pesan Untuk Teman-Teman yang sedang Berjuang

Dalam perjuangan kita (Marhaenisme), membangun kesadaran rakyat adalah pekerjaan penting.  Perjuangan yang tidak menitik beratkan pada kesadaran kolektif tidak akan kuat.

Seperti yang selalu kita sampaikan dalam berbagai kesempatan, Berjuang Untuk Rakyat, Berjuang Bersama Rakyat. Untuk (rakyat) dan bersama (rakyat), bukan untuk tapi sendiri-sendiri.

Maka sesungguhnya apa yang telah kita upayakan selama ini adalah untuk membangun kesadaran itu. Kita  berkumpul serta ikut mengerjakan banyak hal bersama rakyat bukan untuk keren-kerenan, bukan pula mencari simpati apa lagi uang, melainkan untuk membangun sesuatu yang penting, kesadaran kolektif.

Kesadaran bahwa Tuhan, Allah SWT tidak akan merubah nasib jika kita tidak merubahnya. Membangun kesadaran bahwa kepentingan bersama adalah lebih penting dari pada kepentingan pribadi. Kesadaran bahwa rakyat harus bersatu untuk memperjuangkan apa-apa yang menjadi haknya secara kolektif.

Oleh sebab itu, jika rakyat memintamu mendampinginya menghadapi persoalan, jangan sekali-kali kau tolak. Bukankah kita telah rasakan, membangun kesadaran kolektif bukan perkaran mudah.  Ketika rakyat telah berani bersuara untuk membela nasibnya, Artinya sudah ada kesadaran dalam diri mereka bahwa penindasan harus d/lawan, bersama-sama, bukan sendiri-sendiri !.

Jika rakyat hendak berdemonstrasi, dan memintamu terlibat, jangan berpikir panjang, ikut dalam barisan mereka. Rumuskan tuntutan yang betul-betul tajam dan benar-benar menjadi fokus perjuangan. Masuk ke akar permasalahan, dan jangan benturkan rakyat-dengan rakyat, tapi bangun persatuan d/antara mereka. Demonstrasi adalah tindakan yang sah, apa lagi jika persoalan yang d/bawa adalah benar persoalan rakyat. Perlawanan sudah mulai tumbuh dalam diri mereka, sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah siapa-siapa, melainkan melawan ketidak-adilan dan penindasan.

Semoga sampai pesan ini kepada kalian, semoga Allah selalu meneguhkan hati kalian.

Merdeka!
Panjang Umur Perjuangan!

One thought on “Pedagang Kaki Lima (PKL) Harus Bersatu Melawan Penindasan”

Comments are closed.