6 Laskar FPI Tewas, Kok Jadi Tersangka?

6 laskar FPI
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Trisila.com – Kepastian hukum terkait peristiwa tewasnya 6 anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) masih berlanjut. Penegak hukum telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan kepastian dan keadilan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam tragedi KM 50 (Tol Jakarta-Cikampek).

Dugaan adanya pelanggaran HAM berat terhadap anggota Laskar FPI membuat banyak pihak harus turun dalam menyelesaikan persoalan. Salah satu pihak yang ikut memperjelas masalah adalah Komnas HAM.

Upaya Komnas HAM akhirnya mampu memberikan jawaban, bahwa yang terjadi adalah pelanggaran HAM biasa. Tapi, kerja Komnas HAM itu rupanya tidak cukup untuk menjawab respon (pertanyaan) yang muncul di masyarakat.

Respon publik terus berkembang, bahkan memunculkan sikap cemo’oh atas proses penegakan hukum terhadap 6 anggota Laskar FPI tersebut.

Masyarakat merasa aneh, karena ada penetapan tersangka terhadap pengikut Rizieq Shihab yang meninggal di KM 50 itu. “Masak orang yang sudah meninggal jadi tersangka, siapa yang akan bersidang nantinya?“. Begitulah gambaran “cemo’ohan” masyarakat terhadap proses penegakan hukum untuk pengikut FPI.

Mahfud Menjawab Tertawaan Publik

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD mengakui bahwa ada “nyinyiran” masyarakat terkait penegakan hukum terhadap tewasnya 6 anggota Laskar FPI.

Mahfud menjelaskan bahwa penetapan tersangka terhadap 6 anggota Laskar FPI itu hanya bagian dari konstruksi hukum. Sebelum penindakan, kata Mahfud 6 orang tersebut terbukti membawa senjata dan memancing aparat untuk melakukan tindakan represif.

“Dijadikan tersangka sehari, karena konstruksi hukum yang dibangun oleh Komnas HAM itu ada orang yang terdiri atau yang bernama Laskar FPI itu kemudian memangcing aparat untuk melakukan tindak kekerasan dan membawa senjata. Ada bukti senjatanya, ada proyektilnya,” kata Mahfud di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/3/2021).

Bahkan kata Mahfud, pada laporan Komnas HAM itu ada juga nomor telpon orang yang memberi komando kepada anggota Laskar FPI.

Gugurnya Perkara Laskar FPI Karena Undang-Undang

Mahfud terus menjelaskan soal konstruksi hukum terkait persoalan tersebut. Katanya, proses tidak berhenti sampai pada penetapan status tersangka terhadap 6 anggota Laskar FPI. Setelah status tersangka itu ada, selanjutnya adalah menjawab “siapa yang membunuh 6 orang itu?”.

“Oh tiga orang polisi, yang ditemukan oleh Komnas HAM itu tiga orang,” kata Mahfud.

Dia melanjutkan, bahwa setelah konstruksi hukumnya berjalan, maka perkara 6 anggota Laskar FPI itu gugur, seperti istilah SP3 dalam proses hukum.

“Sesuai ketentuan Undang-Undang, bahwa tersangka yang sudah meninggal perkaranya gugur,” terang Mahfud.

Terkait siapa pembunuh 6 anggota Laskar FPI, akan terbuka sejelas-jelasnya pada pengadilan. Selain itu, Mahfud meminta kepada TP3 dan pihak yang punya bukti-bukti lain untuk mengemukakannya pada proses persidangan.

“Sampaikan melalui Komnas HAM kalau ragu pada polisi, atau kejaksaan, sampaikan disana,” kata Mahfud.

“Tapi, kami (pihak pemerintah) melihat yang dari Komnas HAM itu sudah cukup lengkap,” tutupnya.