Tidak Bisa Sesuka Hati, Ini Faktor Revolusi Menurut Bung Karno

faktor revolusi menurut bung karno
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Kita sering mendengar kata revolusi dalam narasi perjuangan, akan tetapi apa sebenarnya revolusi itu, dan apa saja faktor-faktornya?.

Revolusi menurut Bung Karno adalah penjungkirbalikan seluruh tata nilai lama untuk diganti dengan tata nilai yang baru.  Penjungkirbalikan tata nilai lama ini haruslah sampai ke akar-akarnya.

Penjungkarbalikan ini artinya perubahan total dari sistem atau tata nilai yang sedang berjalan. Baik sistem ekonomi, potitik, sosial budaya dll.

Revolusi itu akan berjalan  sesuai dengan hukum-hukum revolusi. Sehingga, orang, sehebat apapun dia, tidak mungkin membuat revolusi seenak “jidatnya” tanpa mengikuti hukum-hukum revolusi.

Menurut Bung Karno, revolusi akan  meledak apa bila dua faktor bertemu. Apa kedua faktor itu?.

Faktor Subjektif dan Faktor Objektif.

Faktor subjektif merupakan hal-hal yang kita kehendaki untuk berubah. Sedangkan, faktor objektif menyangkut faktor yang menyangkut situasi dan kondisi yang ada atau sedang terjadi.

Dari kedua faktor tersebut, faktor subjektif yang mungkin dapat kita ubah. Perubahan yang kita kehendaki ini bergantung pada kepiawaian kita melakukannya.

Sedangkan faktor objektif tidak dapat kita ubah seenak ‘jidat” kita. Sebab, perubahan-perubahan yang terjadi adalah sesuai jalannya sejarah.

Proses meledaknya revolusi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah proklamasi d/kumandangkan oleh Bung Karno adalah satu contoh.

Kita semua tau, pada masa penjajahan Jepang, Bung Karno secara subjektif merubah taktik perjuangan dari nonkooperatif melawan Belanda menjadi seolah-olah Kooperatif dengan penjajahan Jepang.

Sedangkan faktor objektifnya, Bung Karno dengan kesabaran revolusioner menunggu proses sejarah berjalan. Sehingga  faktor objektif  matang,  yaitu kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Setelah faktor objektif itu matang, d/tambah dengan faktor subjektif juga sudah matang, maka berarti kedua faktor tersebut harus d/pertemukan agar revolusi meledak.

Untuk menentukan secara tepat kapan kedua faktor tadi harus dipertemukan, membutuhkan kepiawaian.

Sejarah telah mencatat, meskipudn  kelompok pemuda-pemuda revolusioner medesak Bung Karno saat itu, Bung Karno menolak untuk memproklamasikan kemerdekaan. Sikap itu membuat Bung Karno harus “diculik” oleh pemuda-pemuda tadi ke basis mereka di Rengasdengklok.


 

Klik Untuk Baca Tulisan Tentang Soekarno dan Marhaenisme  Lainnya.

Admin Trisila.com

admin adalah seorang admin...