Coffee Shop Yang Menjual Minuman Non Kopi Adalah Bentuk Tidak Percaya Diri.

Bagikan Tulisan Ini Bung...

Dewasa ini kedai kopi atau Coffee Shop cukup menjamur dibanyak tempat. Cukup banyak macam nama brand kedai yang saling sikut di dunia perkopian. Dari yang jiwa-jiwaan sampai yang filosofi-filosofian. Ada yang buka kedai di ruko sampai yang numpang gerai di minimarket. Yang cukup jelas adalah hampir seluruhnya menggunakan Blend Beans, campuran sedikit Arabika ditambah sisanya Robusta.

 

Karena film, bisnis kopi menjamur?

 

Harusnya kalian tahu film yang saya maksud, itu loh yang soundtracknya yang juga membumingkan musik perindiean di Indonesia. Yang tokoh filmnya satu cina, satu pribumi asal Lampung. Sejak film itu mulai tayang di bioskop, di perparah dengan pembajakannya di situs-situs film ilegal, membuat dunia perkopian mempunyai daya tariknya tersendiri. Yang benar-benar suka kopi pasti biasa-biasa aja. Beda sama yang sok-sokan suka kopi, padahal minum Espresso aja masih pake gula.

 

Bung Karno : Kopi Pahit Yes! Alkohol No!

 

Nah, karena film yang terkenal itulah para pebisnis pemula berani saling mengadu bisnis mereka dalam dunia perkopian. Mulai dari yang rumahan, sampai yang benar-benar niat dengan pendanaan yang besar. Ada yang baru sebulan tumbang, ada juga yang udah punya ribuan gerai. Tak sedikit yang bodo amat sama kualitas, dan pastinya ada juga yang mati-matian konsisten dengan rasa.

 

Kafe dengan tema “Coffee”, tapi jual minuman non-kopi adalah bentuk tidak percaya diri.

 

Beberapa coffee shop memang yakin dengan apa yang mereka jual, cukup kopi saja, tidak menjual minuman lain kecuali air putih hangat. Bahkan beberapa kedai kopi berani tidak menjual saingan berat dari kopi sendiri, yaitu teh, bahkan sekedar es teh. Namun, banyak sekali kafe yang menang kafenya “Coffee” tapi juga menjual minuman yang bukan kopi bahan dasarnya. Pendapat saya itu adalah ketidakpercayaan diri terhadap bisnisnya sendiri. Jika ingin berbisnis dengan kopi menurut saya cukup kopi saja, dan yakinlah dengan apa yang dijual. Beda dengan kafe yang tidak menjadi kopi sebagai tema besarnya, bebas aja menurut saya. Seperti kafe dengan jiwa filosofinya itu, yang percaya dengan apa yang mereka jual.

 

Tapi kita boleh bangga dengan negeri ini. Sebab biji-biji kopi terbaik, tumbuh di tanah surga kita ini. Seperti biji Gayo, Jawa, Toraja, Kintamani, sampai biji Papua. Semua punya kualitas nomor wahid. Ya boleh diadulah sama biji kopi yang ada di tanah Afrika atau Amerika Latin. Sukses terus kopi nusantara. Kopi pahit? Yes! Manis? Hmmm…