Matinya Kuasa Gelar Akademis di Era Disrupsi

MATINYA GELAR
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Perkembangan dunia hari ini menuju pada satu kondisi d/mana gelar akademik bukan sesuatu yang prestisius lagi. Meskipun tak dapat kita pungkiri gelar masih menjadi kuasa d/ beberapa sektor, tapi sebenarnya gelar telah menuju masa kematiannya.

Jika kita melihat kondisi hari ini, gelar sudah tercabut dari akarnya. Akhirnya lahir seorang yang memiliki gelar, tapi tidak memiliki keahlian sesuai dengan gelar itu.

Hari ini mendapatkan gelar bukan lagi persoalan mumpuni dan kualifikasi, tapi persoalan duit. Kampus-kampus bukan lagi sebuah medium pengembangan esensi pendidikan. Kampus sudah menjadi pabrik yang berwatak kapitalis.

Seberapa bodohpun saya, yang penting saya punya duit, dapat d/pastikan saya akan masuk di sebuah lembaga pendidikan tinggi. Tak perduli betapa saya tidak mengerti dengan  jurusan yang saya ambil, saya akan tetap menjadi sarjana.

Aktif membayar SPP, dan masa tugas akhir tidak ada persoalan, karena banyak jasa pembuatan skripsi, tesis dan desertasi.

Dosen-dosen berfokus pada kum (point), sehingga riset bukan bertujuan untuk memecahkan masalah, tapi instrumen mengejar kum. Sebagai syarat untuk naik pangkat.

Pengelola kampus hanya perduli dengan akreditasi, acuh dengan kualitas lulusan.

Pada akhirnya,  Apa yang bisa kita harapkan dengan sistem pendidikan seperti ini?.

“Kita memasuki era ketika gelar bukan lagi jaminan kompetensi,” kata Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.

Kalimat itu mengandung satu kebenaran, dan satu kesalahan.

Kebenarannya adalah gelar (sarjana) memang tak menjamin kompetensi. Kesalahannya, itu fakta yang sudah lama ada, bukan hal baru. Kalau Nadiem mengatakan “kita memasuki era”, seolah itu baru terjadi sekarang, itu salah.

Adalah kenyataan bawa masyarakat kita lebih terpaku pada formalitas gelar.

Tahun lalu ketika saya baru pulang dari studi S2 saya, seorang paman menangis memeluk saya. Ia merasa bangga punya keponakan yang akan jadi master. Tapi pada saat yang sama, ia sedih karena anak laki-lakinya tidak menyelesaikan kuliah.

Kesedihan paman saya itun sangat ironis bagi saya. Anaknya yang tidak lulus kuliah itu sudah buka toko baju. Sementara saya yang hanya akan mendapat gelar magister, baru akan mulai membangun ekonomi, nyaris dari nol.

Ketika saya hibur paman saya dengan menjelaskan kenyataan itu, dia tetap saja tak puas. Baginya, anaknya memiliki gelar jauh lebih penting dari apapun.

Fakta ini jadi garapan para “pengusaha pendidikan” sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

Akhirnya, hari ini kita punya sangat banyak perguruan tinggi yang hanya mencetak orang bergelar.

Perguruan tinggi swasta muncul bak jamur di musim hujan, tanpa kejelasan standar kompetensi yang d/tawarkan, yang penting dan sangat jelas cuma gelar.

Perguruan tinggi negeri pun sama saja. Tak cukup dengan menerima mahasiswa pada jalur reguler, PTN punya program ekstensi, dengan proses seleksi yang jauh lebih mudah. Tujuannya sama: menjual gelar.

Tidak hanya orang-orang kecil yang berburu gelar, bahkan orang-orang besar pun sama saja. Coba perhatikan daftar politikus kita. Sangat banyak yang sekarang bergelar magister dan doktor, didapat dari kelas eksekutif akhir pekan.

Jadi Bagaimana?

Saya tidak sedang menyalahkan siapa-siapa, ini semua tersebab oleh sistem. Sehingga kalaunpun harus d/paksa menyalahkan orang, saya akan menyalahkan semuanya. Karena sesungguhnya kita sama-sama punya konstribusi atas kerusakan itu.

Para mahasiswa harusnya d/didik untuk mengejar kompetensi, bukan gelar.

Kompetensi hanya bisa d/bentuk kalau mereka punya tujuan yang tegas dan jelas.

Banyak mahasiswa yang asal kuliah, sekadar lulus, karena tidak tahu hendak menuju ke mana ketika kelak sudah lulus.

Karena tidak tahu tujuan, mereka juga tidak tahu kompetensi apa yang mesti mereka raih.

Lulusan sarjana harus sanggup untuk menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Tantangan hidup tidak statis.

Pada dunia disrupsi ini, perubahan terjadi sangat cepat.

Perubahan adalah kepastian yang sangat pasti pada zaman ini. Menuntut setiap orang untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Caranya, dengan belajar hal-hal baru secara cepat pula.

Singkatnya, lulusan perguruan tinggi tidak hanya d/tuntut untuk punya kompetensi yang jelas. akan tetapi juga d/tuntut untuk terus memperbarui kompetesinya.

Para sarjana harus siap membangun dan menemukan kompetensi yang baru secara cepat.

Maka, kemampuan mempelajari sesuatu yang baru adalah sesuatu yang sangat penting.