Kekejaman Paparazi di Balik Video Perkelahian “Pelakor” di Getek

Bagikan Tulisan Ini Bung...

Beberapa hari ini viral sebuah video keributan yang terjadi di jembatan getek Tembilahan – inhil – riau. Video tersebut berisi perkelahian dua orang wanita yang katanya, istri sah dan ‘pelakor’, sehingga adu jotos dan cakar antar mereka. Dalam video itu juga terlihat ada seorang anak kecil. Sepertinya itu anak dari istri sah.

Dalam hitungan jam, ada ratusan komentar, ribuan like, bahkan puluhan ribu penonton dari postingan video terebut. Tak alang-alang, para (tukang video) youtuber kelas teri juga ikut bergerak  memposting video tersebut. Dari yang muda, hingga yang tua sepertinya asik dengan tontonan itu.

Tanpa merasa bedosa, dengan santainya tukang video bilang : BIASALAHHHH. Luar biasa memang, sesuatu yang akan menjadi petaka bagi keluarga orang, bagi dia biasalah.

Padahal dengan video itu beredar, sama sekali tidak ada hal positif bagi ke-tiga belah pihak. Baik bagi suami, istri sah, atau pelakor.

Tanpa membela pihak manapun yang sedang berkonflik, saya hanya ingin katakan :

“heyy yang tukang rekam orang kelahi, tujuan kalian apa?, apa kalian tidak punya perasaaan?. Coba pikir, kalau anak mereka lihat video itu, gimana guncangan psikologi mereka.”

 

Hati-Hati

Manusia sekarang sudah berubah, dulu jika ada yang bertengkar, kita lerai, sekarang malah di video-in. Liat keluarga bertengkar di jembatan getek, semangat gigi empat untuk videoin. Entah apa maksud dan tujuannya, yang jelas itu sangat tidak masuk akal.

Internet itu semacam gudang informasi, jangkauannya melintasi ruang dan waktu. Artinya, video yang sudah terlanjur viral itu akan ada selamanya dan bisa ditonton oleh lintas generasi di manapun dan kapanpun. Tidak terbayang bagaimana itu menjadi beban psikologis bagi korban dan pelaku yang ada di video tersebut.

Dari kejadian ini, kita bisa belajar betapa kejamnya keadaan sekarang. Dulu Keburukan cepat beredar dari mulut-mulut, sekarang keburukan super cepat beredar dari handphone ke handphone.

Jaga diri kita dari kekejaman para paparazi yang dengan mudah merekam kegitan kita. Mereka ada dimana-mana, tanpa ciri-ciri, tanpa tanda-tanda, tanpa aba-aba.

Ambung Nyastra
OPINI SULUH

Ambung Nyastra, Upaya Merekam Jejak Makna

Ambung Nyastra, Upaya Merekam Jejak Makna Oleh: Abdul Rahman (Ketua Ambung Nyastra) Puisi itu termasuk karya sastra, yang penikmatnya tersudut sepi di tengah keramaian yang terjadi. Terdapat keahlian khusus dari penikmat puisi, ia mampu membungkus luka dengan tawa, berkata dengan mata, ketuk langkahnya penuh rasa tanpa nada. Aku tak mungkin mampu melukiskan semua tentang itu, […]

Read More
sistem resi gudang
OPINI

SRG, Jangankan Manisnya, Baunya Saja Belum Tercium

Oleh : Saipudin Ikhwan (Boboy)   Berbicara tentang Sistem Resi Gudang (SRG) Inhil cukup panjang. Sejak tahun 2015, ketika pertama kali ‘berdengung”  banyak sekali lika-liku dan tantangannya. Pertama kali Bupati Inhil  mencanangkan SRG, langsung dapat penolakan dari mahasiswa. Alasan utama penolakannya bukan karena secara umum SRG tidak baik, akan tetapi untuk kondisi Inhil, SRG belum […]

Read More
wardan feryyandi
OPINI

HM Wardan Nyatakan Dukungan, Feryyandi Kok Biasa aja?

HM Wardan Nyatakan Dukungan, Feryyandi Kok Biasa aja?. Sejak awal 2021 ini, banyak pihak yang membicarakan siapa yang akan berlaga di pilkada (pemilihan bupati-wakil bupati) Indragiri Hilir mendatang. Meskipun waktu pelaksanaannya 2024 nanti, tapi isu dan wacana bakal calon sudah membanjiri ruang publik kita. Bahkan HM Wardan saja, secara terbuka mengatakan  akan mengusung Ferryandi (Ketua […]

Read More