Ambung Nyastra, Upaya Merekam Jejak Makna

Ambung Nyastra
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Ambung Nyastra, Upaya Merekam Jejak Makna

Oleh: Abdul Rahman (Ketua Ambung Nyastra)

Puisi itu termasuk karya sastra, yang penikmatnya tersudut sepi di tengah keramaian yang terjadi. Terdapat keahlian khusus dari penikmat puisi, ia mampu membungkus luka dengan tawa, berkata dengan mata, ketuk langkahnya penuh rasa tanpa nada. Aku tak mungkin mampu melukiskan semua tentang itu, pembacalah yang lebih tahu.

Ku lihat, tidak banyak orang yang ingin ber-puisi, karena takut tenggelam dalam rasa yang tidak ada logikanya. Ketakutan semacam itu sah saja terjadi, terlebih bagi yang takut menemukan luasnya rasionalitas puisi dari sekedar kekakuan teori.

Melalui puisi, setiap pesan seperti tidak langsung tersampaikan. Sekilas memang begitu, tapi itulah rasa, tidak bisa sepenuhnya terwakili oleh kata, ya sudah terima saja. Curahkan saja terus, meski tidak semua dada bersedia menjadi wadah untuk menampungnya.

Kiranya cukup kata pengantar dari aku, si amatiran. Agar puisi tetap terjaga, kenalilah puisi lewat yang ahli, jangan dari penulis ini!

Tak Kah Kau Ingin Merekam Jejak Makna?

Masa telah berubah, teknologi menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan banyak masalah. Dulu, kita dapat menyelesaikan rindu dengan suara tanpa rupa. Kini, pertemuan terlihat lebih indah dari yang sebenarnya. Jauh seolah tak berjarak, dekat tapi tak bisa menyentuh.

Walau perubahan banyak terjadi, tapi rasa tetaplah pada pilihan yang itu-itu saja, hanya cara mengungkapkannya yang berbeda. Bait-bait puisi sering sekali kita jumpai pada ruang algoritma, berlomba agar tidak diam, tetap beragam, dan tak tenggelam.

Coba lihat status whatsapp, cerita instagram, cuitan twitter, dinding facebook, banyak sekali puisi di sana. Berbagai jenis pengisi puisi di alam maya, ada anak muda, orang tua, pengusaha, penguasa, pencari kata, penggali makna, dan lainnya. Amatilah, sungguh banyak warnanya.

Bisa kita lihat, puisi sangat penting dalam kehidupan. Banyak hal yang pernah kita gambarkan dengan kata, kadang tentang senyum keluarga, keringat kerja, tali asmara, masa bertahta, dan segala macam hal yang ada rasa didalamnya.

Sayangnya, deras arus informasi membuat semua yang pernah kita catat hilang begitu cepat. Kepingan cerita akhirnya tak utuh, bahkan tak sampai separuh. Sulit akhirnya menerka sejauhmana fikiran kita telah melangkah, karena telah hilang jejak cerita bahkan sejak kata pertama.

Dengan Ambung Nyastra, Kita Rekam Makna-Makna

Brosur Ambung Nyastra

Bapak Sapardi Djoko Damono bisa kita jadikan salah satu contoh bagaimana seseorang merekam banyak makna lewat tulisannya. Dari salah satu tulisan Pak Sapardi, kita jadi mengerti indahnya hujan pada bulan juni (Hujan Bulan Juni). Bahkan, banyak kata-kata Pak Sapardi akhirnya menjadi roh bagi beberapa film dan lagu yang lahir kemudian hari. Mungkin begitulah hukumnya, satu karya dapat terus berkembang, dan dapat mendorong lahirnya ribuan karya yang lain.

Masyarakat Tanjung Jabung Barat (khususnya para anak muda), sering menuangkan syair-syairnya ke dunia maya atau sosial media. Bahkan ada beberapa yang sudah menjadi buku, seperti kumpulan puisi, novel, dan lain-lain. Seketika aku ingat beberapa karya putra putri daerah dalam bentuk Ruang Utopia, Putri Imaji, Galauisme, Pelangi Di WFC. Maaf, aku belum sempat baca yang lainnya.

Ambung Nyastra hadir untuk menyatukan 100 puisi dalam satu buku, khusus karya putra dan putri asli Tanjung Jabung Barat. Kami berharap ada rekam jejak makna dan rasa yang kemudian bisa kita baca bersama. Do’akan kami, agar terus kuat dalam setiap Jilid pembukuan. Kami akan setia menanti hadirnya tulisan-tulisan kita, agar bisa bersama mengisi riuh buku pada Jilid I (Pertama).

Pada buku pertama ini, silahkan bebaskan seluruh rasa dengan kata. Temanya adalah apapun yang kau rasa dan kau ingin menuliskannya. Tapi nanti, untuk jilid berikutnya kita akan banjiri kata pada peristiwa tertentu, dengan tema yang khusus.

Kirim puisimu sekarang, aku tunggu.

sistem resi gudang
OPINI

SRG, Jangankan Manisnya, Baunya Saja Belum Tercium

Oleh : Saipudin Ikhwan (Boboy)   Berbicara tentang Sistem Resi Gudang (SRG) Inhil cukup panjang. Sejak tahun 2015, ketika pertama kali ‘berdengung”  banyak sekali lika-liku dan tantangannya. Pertama kali Bupati Inhil  mencanangkan SRG, langsung dapat penolakan dari mahasiswa. Alasan utama penolakannya bukan karena secara umum SRG tidak baik, akan tetapi untuk kondisi Inhil, SRG belum […]

Read More
wardan feryyandi
OPINI

HM Wardan Nyatakan Dukungan, Feryyandi Kok Biasa aja?

HM Wardan Nyatakan Dukungan, Feryyandi Kok Biasa aja?. Sejak awal 2021 ini, banyak pihak yang membicarakan siapa yang akan berlaga di pilkada (pemilihan bupati-wakil bupati) Indragiri Hilir mendatang. Meskipun waktu pelaksanaannya 2024 nanti, tapi isu dan wacana bakal calon sudah membanjiri ruang publik kita. Bahkan HM Wardan saja, secara terbuka mengatakan  akan mengusung Ferryandi (Ketua […]

Read More
Upaya Awal dan Akhir Untuk Membela Palestina
OPINI

Upaya Awal Dan Akhir Untuk Membela Palestina

Opini: Mamen (A.R) Upaya Awal Dan Akhir Untuk Membela Palestina Trisila.com – Konflik Israel dan Palestina sejak dulu mampu menggugurkan ribuan air mata, lintas negara bahkan kini lintas agama. Simpati dan empati berbondong-bondong datang untuk membasuh luka dan duka yang menggenangi tanah sekitar kemegahan Al-Aqsa. Peluru menghujani gedung-gedung, anak kecil dan perempuan terus mencari pelukan […]

Read More