Pantai Solop Tenggelam, Terbitlah Bukit Condong

Pantai Solop
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Pantai Solop.  Dulu pelabuhan parit 21 sempat ramai dan jadi wisata, ramai sekali, pengunjung berfoto dan bersantai sambil menyantap makanan. Tapi sekarang bentuknya sudah sangat memprihatinkan.

Tahun lalu, wilayah persawahan di ujung jalan tanjung harapan juga mendadak ramai. Banyak penduduk yang sekedar keliling, joging, bersepeda, ada juga yang ingin menimkati suasana sore.

Hal ini dimanfaatkan oleh para penduduk setempat untuk berjualan. Lumayan, menambah pundi-pundi rupiah.  Tapi sayang sekali, setelah padi  dipanen, wisata dadakan itu lenyap.

Ada juga wisata “pantai mendadak” sebab air surut, pasir timbul di Tempuling dan di Sapat.

Begitulah keadaan masyarakat kita,  tekanan hidup tinggi, jadi butuh liburan, tapi tentunya yang tidak menguras kantong.

Ada sih yang agak terkenal, seperti pantai solop.

Bahkan pemerintah daerah fokus dengan pengembangan pantai solop. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mendukung hal tersebut.

Tidak sedikit dana yang digelontorkan untuk pembangunan Pantai Solop. Mulai dari perbaikan infrastruktur seperti jalan (jerambah), MCK, homestay, buat event,  bahkan pelatihan bagi warga setempat.

Tapi lagi-lagi sayang sungguh sayang, sepertinya itu tidak dapat mendongkrak pantai solop. Bahkan Pantai Solop tidak masuk dalam 10 Top wisata riau.

Pengunjungnya Juga tidak banyak menurut saya.

Untuk ke pantai solop, dari tembilahan misalnya, perlu dana minimal 200.000 / orang. Itu hanya untuk transportasi (speedboat) pergi-pulang, belum makan, dan lain lain.

Sampai di sana yang kita dapat bukan suasana pantai yang seperti dibayangkan, air biru, pasir putih, batu karang, rumput laut, dan ikan-ikan kecil di pinggir pantai.

Saya tidak sedang menghina, tapi ini persoalan keseriusan pemerintah membangun pariwisata inhil. Apasih yang sebenarnya jadi target pemerintah?

Mau nambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari pariwisata?, atau memberikan wadah bagi masyarakat untuk merefresh otak yang kusut karena beratnya tekanan hidup?.

Atau jangan-jangan hanya sekedar alasan untuk  menghabiskan anggaran saja?.

Belum lagi hilang dalam ingatan kita tentang semua itu, sekarang muncul lagi objek wisata baru yang bernama Bukit Condong di kelurahan Selensen, Kecamatan Kemuning.

Lokasinya ada  di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Banyak orang-orang yang datang kesana, pelajar, mahasiswa, PNS, anggota DPRD, bahkan kabarnya Bupati juga sempat kesana.

Saya sebenarnya senang dengan adanya objek wisata baru, tapi jujur, saya sering bingung. Kok pemerintah sepertinya tidak punya arah yang jelas dalam membangun pariwisata inhil

Kalau masyarakat heboh dengan pariwisata dadakan, dapat kita maklumi. Karena bagi masyarakat, penghasilan yang ada rasanya rugi jika habiskan untuk liburan ke luar kota. kebutuhan banyak, biaya hidup tinggi, biaya sekolah anak, dan lain-lain.

Jadi kalau ada wisata dadakan seperti sawah  tanjung harapan ujung, parit 21, atau pasir timbul, tentu masyarakat senang karena murah dan terjangkau.

Tapi kalau  kerja pemerintah yang musiman dan dadakan itu bahaya. Kemaren wisata religi, besok wisata sepeda, lusa wisata mangrove, dulu wisata pantai, sekarang wisata bukit.

Ya.. kita tunggu saja, Bukit Condong ini endingnya gimana, akankah sama seperti janji manis Wisata Religi, atau seperti Pantai Solop yang sudah layu sebelum berkembang.


#Opini