Politik Pencitraan, Sejarah dan Realita Yang Kita Hadapi

politik pencitraan
Bagikan Tulisan Ini Bung...

Kata pencitraan sering kita dengar terutama saat membahas politik. Namun, pencitraan itu bukan hanya dalam kehidupan politik. Bahkan, dalam aktivitas sehari-hari (di luar politik) kita sering melakukan pencitraan.  Akan tetapi pencitraan selalu terkesan negatif. Orang-orang yang di anggap melakukan pencitraan adalah orang yang tidak tulus dalam melakukan sesuatu.

Politik, Pencitraan dan Sejarahnya 

Dari sejarahnya, pencitraan sudah d/lakukan manusia seiring dengan perkembangan peradabannya. Para pemimpin suku primitif misalnya, berkepentingan menjaga reputasi mereka dengan penggunaan simbol, kekuatan, hal-hal yang bersifat magis, tabu, atau supranatural.

Pada zaman Mesir Kuno, untuk memelihara kesan publik akan keagungan rajanya maka d/dirikanlah bangunan-bangunan semacam piramida dan spinx.

Pada masa perkembangan peradaban Yunani dan Romawi, kesadaran akan pentingnya opini publik dan pencitraan juga sangat kuat.  Karya seni dan sastera pada masa itu banyak diarahkan untuk menguatkan reputasi raja. Kaum bangsawan istana umumnya adalah ahli-ahli persuasi dan retorika yang luar biasa. Karya pidato Cicero, tulisan bersejarah Julius Caesar, bangunan-bangunan dan ritual saat itu banyak d/gunakan sebagai media pembentukan opini publik dan pencitraan.

Singkatnya, pencitraan itu sudah ada sejak zaman dahulu. Lalu apakah pencitraan itu selalu buruk?, belum tentu. Karena pada dasarnya Pencitraan itu adalah ingin membentuk kesan positif tentang diri kita kepada orang lain.

Apa yang salah dengan membangun kesan orang lain agar positif terhadap kita?, tentu tidak ada. Tapi yang menjadi permasalah adalah  jika kesan positif itu hanya bualan, bukan kenyataan. Citra hanya terbangun memalui publikasi media masa, bukan kenyataan yang sebenarnya.

Jadi, jangan anggap pencitraan itu semuanya buruk, tapi juga jangan anggap baik sepenuhnya. Tempatkanlah pada tempatnya. Pencitraan tidak salah, yang salah politik pencitraan, yang hanya melakukan pencitraan untuk mendapatkan suara, tanpa pembuktian.

Berdasarkan hal tersebut, sudah selayaknya kita lebih kritis terhadap citra yang di bangun oleh politisi. Kita tidak bisa menelan mentah-mentah apa yang ada pada media, akan tetapi perlu melihat dengan benar kenyataannya.

Contoh sederhananya adalah, ketika politisi mencitrakan dirinya dekat dengan rakyat dan akan berpihak pada rakyat. Akan tetapi dalam aktifitas sebelumnya (track record) tidak pernah melakukan apa yang ia katakan, Mereka hanya turun lima tahun sekali menjelang pemilu. Itulah realita yang sedang kita hadapi.

trisila.com